Jaga Bahasa Osing, Banyuwangi Dorong Generasi Muda Aktif Kenali Budaya Lokal

Pemkab Banyuwangi menggelar Festival Literasi Osing 2026 untuk melestarikan bahasa daerah dan menumbuhkan daya kritis ratusan siswa.

Laura Adelia
Oleh Laura Adelia - Reporter
Jaga Bahasa Osing, Banyuwangi Dorong Generasi Muda Aktif Kenali Budaya Lokal
Ratusan Siswa Unjuk Gigi di Festival Literasi Osing, Bupati Ipuk: Jangan Lupa Identitas.

Upaya menjaga Bahasa Osing sebagai bagian dari identitas budaya Banyuwangi terus dilakukan melalui berbagai kegiatan literasi. Salah satunya lewat Festival Literasi Osing yang mempertemukan ratusan siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) dalam sejumlah perlombaan berbahasa daerah.

Festival Literasi Osing 2026 digelar di kawasan Lapangan Taman Blambangan dan SDN 1 Kepatihan. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (5/9/2026) itu diikuti siswa perwakilan dari 25 kecamatan di Banyuwangi. 

Beragam kemampuan berbahasa Osing ditampilkan dalam kompetisi tersebut. Mulai dari geguritan atau puisi Osing, nembang Osing, mendongeng, pidato Bahasa Osing, hingga memengan sandiwara dan mocoan lontar.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, festival tersebut menjadi salah satu ruang bagi pelajar untuk mengenal sekaligus menggunakan bahasa daerah melalui kegiatan yang dekat dengan dunia mereka.

"Ajang ini adalah cara kami memfasilitasi anak-anak Banyuwangi agar tidak hanya cakap dalam literasi pada umumnya, namun juga bisa mengangkat budaya lokal, yakni Bahasa Osing," kata Ipuk.

Lewat ajang ini, Ipuk berharap anak-anak muda Banyuwangi semakin mencintai budaya lokal, termasuk Bahasa Osing. Dengan anak-anak mudanya bangga serta konsisten menggunakan Bahasa Osing, Ipuk optimis bahasa yang menjadi identitas budaya Banyuwangi itu akan terus lestari.

"Anak-anak silahkan kalian belajar teknologi, silakan baca apapun yang kalian ingin pelajari, namun jangan pernah meninggalkan identitas daerah. Budaya Osing tidak boleh tergusur oleh perkembangan zaman," ujarnya.

Bukan Sekadar Belajar Bahasa

Penampilan peserta Festival Literasi Osing 2026.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menghadiri Festival Literasi Osing 2026 yang digelar di kawasan Lapangan Taman Blambangan dan SDN 1 Kepatihan, pada Sabtu (5/9/2026)

Ipuk menambahkan, Banyuwangi terdiri dari beragam suku dan budaya serta adat istiadat yang semuanya harus dirawat. Namun, bagi Ipuk, identitas lokal daerah tetap harus menjadi prioritas.

"Mudah-mudahan di tengah keberagaman budaya yang ada di Banyuwangi, Bahasa Osing tetap menjadi bahasa yang dipertahankan sebagai kekuatan lokal kita semuanya," tegasnya.

Tak sekadar mengajak anak-anak agar mencintai bahasa daerahnya, bagi Ipuk Festival Literasi Using juga mendorong mereka agar mampu berpikir kritis.

"Sebelum lomba tentu anak-anak harus belajar, membaca, kemudian memahami informasi dan poin-poin penting di dalamnya. Sehingga mereka bisa menyampaikan pesan yang tepat. Di sinilah mereka juga belajar bagaimana berpikir kritis," kata dia.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Dasar (SD) Dinas Pendidikan Banyuwangi, Sutikno, menambahkan Festival Literasi Using 2026 ini sedikitnya membuka 9 jenis lomba.

Antara lain lomba geguritan (puisi Osing), ngewer (komedi tinggal), nulis cerita Osing, nulis aksara Osing, mendongeng, menyanyi lagu Osing, pidato bahasa Osing, Memengan sandiwara, serta mocoan lontar.

"Khusus mocoan lontar hanya dibuka untuk kategori SMP, sedangkan lomba lainnya bisa diikuti baik SD maupun SMP," ujarnya.

Libatkan Ratusan Siswa dari 25 Kecamatan

Festival Literasi Osing tahun ini diikuti 259 peserta dari tingkat SD dan 170 peserta dari tingkat SMP. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Banyuwangi dan menjadi perwakilan dari 25 kecamatan.

Para peserta mengikuti rangkaian kompetisi di dua lokasi, yakni area creative space di kawasan Lapangan Taman Blambangan dan gedung SDN 1 Kepatihan. Bagi peserta yang berhasil meraih juara pertama di masing-masing kategori, kesempatan mereka tidak berhenti pada festival tingkat kabupaten.

"Juara satu dari masing-masing lomba nantinya akan kita kirim untuk mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat provinsi dan nasional," pungkas Sutikno.

Selain perlombaan, Festival Literasi Osing 2026 juga menghadirkan sejumlah unsur budaya masyarakat Osing. Lagu-lagu Osing mengiringi kegiatan, sementara prosesi kupat luar turut menjadi bagian dari pembukaan acara.

Rangkaian tersebut melengkapi kompetisi literasi yang diikuti para siswa. Bahasa daerah tidak hanya ditempatkan sebagai materi yang dipelajari, tetapi juga digunakan dalam karya, penampilan, dan kegiatan budaya. Melalui keterlibatan generasi muda, pelestarian Bahasa Osing diharapkan tidak berhenti sebagai bagian dari warisan budaya, tetapi tetap digunakan dan dikenal di tengah perubahan zaman.

 

(*)

Rekomendasi