Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno secara aktif mengampanyekan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gernas RANA). Kampanye ini bertujuan menciptakan ekosistem pendidikan yang bebas dari berbagai bentuk kekerasan, termasuk di lingkungan pesantren.
Inisiatif penting ini disampaikan saat Menko PMK menghadiri diskusi bersama Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Satuan Tugas Penanggulangan Kekerasan (SAKA) Pesantren PBNU di Yogyakarta. Diskusi tersebut menjadi forum strategis untuk membahas implementasi langkah-langkah konkret.
Dalam kesempatan tersebut, Menko PMK Pratikno menekankan pentingnya membangun ruang yang aman dan nyaman bagi anak-anak. Hal ini krusial agar mereka dapat tumbuh dan mengembangkan potensi diri secara optimal tanpa bayang-bayang kekerasan.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Ruang Aman dan Dampak Kekerasan pada Anak
Menko PMK Pratikno menegaskan bahwa kekerasan terhadap anak dapat terjadi di mana saja, sehingga diperlukan upaya pencegahan yang komprehensif. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman adalah kunci untuk memastikan anak-anak dapat berkembang tanpa hambatan.
Dampak dari kekerasan pada anak sangatlah besar dan merugikan, tidak hanya secara fisik tetapi juga psikologis. Kekerasan dapat menurunkan konsentrasi belajar, membuat anak tidak fokus, serta menimbulkan trauma yang berkepanjangan.
Aspek psikologis dan kognitif anak sangat rentan terhadap pengalaman kekerasan, yang pada akhirnya dapat menghambat proses belajar dan pengembangan diri. Oleh karena itu, pencegahan menjadi prioritas utama demi masa depan generasi penerus.
Advertisement
Advertisement
Tujuh Langkah Konkret Wujudkan Ruang Aman Pesantren
Sebagai aksi nyata dalam pencegahan kekerasan, Menko PMK menyarankan penerapan "Tujuh Langkah Menuju Satuan Pendidikan Aman dan Nyaman". Langkah-langkah ini dirancang untuk menciptakan Ruang Aman Pesantren yang inklusif dan protektif bagi seluruh santri.
Langkah-langkah tersebut meliputi evaluasi diri terkait sistem pelindungan dan pelatihan pengasuh, pembentukan tim pelindungan anak, serta pengembangan kebijakan pelindungan anak yang jelas. Ketiga langkah ini menjadi fondasi awal untuk sistem perlindungan yang kuat.
Selain itu, diperlukan pembangunan sistem pengaduan yang ramah anak, pelatihan berkelanjutan bagi seluruh pihak, dan penguatan budaya saling jaga di lingkungan pesantren. Keterlibatan aktif wali murid dan masyarakat juga sangat esensial untuk mendukung keberhasilan program ini.
Advertisement
Advertisement
Adaptasi Teknologi dan Transformasi Pesantren di Era Disrupsi
Selain fokus pada penciptaan ruang aman, Menko PMK juga mendorong satuan pendidikan pesantren untuk cepat beradaptasi menghadapi disrupsi teknologi. Adaptasi ini penting agar pesantren tetap relevan dan kompetitif di era modern.
Pendidikan pesantren harus mampu menjawab tantangan dan peluang baru di masa depan, termasuk menyikapi hilangnya beberapa jenis pekerjaan (job loss) dan lahirnya peluang kerja baru (job gain). Ini menuntut adanya kurikulum dan pengajaran yang dinamis.
Transformasi besar-besaran harus dilakukan dengan tetap memperkokoh identitas kultural dan spiritual pesantren. Tanpa transformasi, pesantren berisiko tertinggal secara ekonomi dan bahkan identitas kultural serta spiritualnya bisa tergerus oleh teknologi digital dan kecerdasan buatan.
Advertisement
Advertisement
Apresiasi dan Harapan untuk Masa Depan Pesantren
Menko PMK Pratikno menyampaikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif pencegahan kekerasan yang digagas oleh RMI PBNU dan SAKA Pesantren PBNU. Inisiatif ini merupakan langkah progresif dalam mendorong lingkungan pesantren yang aman dan nyaman bagi anak.
Ia berharap bahwa upaya-upaya ini dapat menjadi contoh inspiratif bagi lembaga pendidikan lain dalam memberantas kekerasan pada anak yang masih kerap terjadi. Kolaborasi antarlembaga menjadi kunci keberhasilan.
Jika pesantren berhasil menciptakan Ruang Aman Pesantren dan membangun kompetensi santri di tengah disrupsi teknologi, kepercayaan publik akan meningkat. Loyalitas alumni juga akan semakin kuat, menjadikan pesantren sebagai model pendidikan yang unggul.
Advertisement
Sumber: AntaraNews