Advertisement
Sejarah Unik Tradisi Mudik
Mudik, momen tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri. Setiap tahunnya menjelang Lebaran, umat muslim di Indonesia ramai-ramai mudik ke kampung halaman.
Mudik bukan peristiwa yang muncul begitu saja. Fenomena mudik ternyata sudah ada sejak Kerajaan Majapahit.
"Tradisi mudik sudah dikenal sejak era Kerajaan Majapahit yang memiliki wilayah kekuasaan sangat luas hingga ke semenanjung Malaya. Pejabat pemerintahan di wilayah tersebut secara rutin menghadap Raja guna menyatakan kesetiaan dan melaporkan jalannya pemerintahan."
Advertisement
Budayawan Muda, Cokro Wibowo Wibisono.
Advertisement
Tahun 1970-an, istilah mudik kian berkembang seiring meningkatnya urbanisasi sejak awal Orde Baru.
Gencarnya pembangunan dan industrialisasi, membuat aktivitas mudik menjadi rutinitas tahunan para perantau. Momentum Lebaran dipandang baik untuk merajut silaturrahim dengan sanak saudara membuat tradisi mudik awet hingga kini.
Advertisement
Ada pendapat mengatakan, mudik singkatan dari bahasa Jawa 'mulih disik' artinya pulang sebentar. Ada juga yang menyebut mudik berasal bahasa Betawi artinya menuju udik atau menuju kampung
Namun secara epistemologi, mudik diartikan perjalanan pulang ke kampung halaman.
Advertisement
Tahun ini, diprediksi 123 juta orang akan melakukan perjalanan mudik.
Aktivitas mudik di penjuru Indonesia kembali menggeliat setelah tiga tahun terhambat karena pandemi.
Advertisement
Puncak mudik diprediksi tanggal 18-21 April. Perjalanan mudik paling banyak akan terjadi ke wilayah Jawa.
Khusus pemudik yang melintasi Tol Trans Jawa, ada tiga skema pengaturan lalu lintas yang disiapkan pemerintah. Ganjil Genap, One wWy atau satu arah dan Contra Flow.
Advertisement
Meski tak direkomendasikan, mudik naik motor masih dilakukan warga.
Mudik dengan sepeda motor masih dipilih masyakarat meski dari segi keselamatan sangat berbahaya. Biasanya, pemudik naik motor karena tidak dapat tiket angkutan atau kampung halamannya tidak terlalu jauh.
Advertisement
Teruntuk Pemudik, Utamakan Keselamatan, Bukan Kecepatan Karena Keluarga Tercinta Menunggu Anda di Kampung Halaman