Khofifah Ajak Muslimat NU NTB Perkuat Ketahanan Keluarga, Cegah Pernikahan Dini demi Indonesia Emas

Ketua Umum Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, menyerukan peran aktif Muslimat NU di NTB untuk mencegah pernikahan dini dan memperkuat ketahanan keluarga demi masa depan bangsa.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Khofifah Ajak Muslimat NU NTB Perkuat Ketahanan Keluarga, Cegah Pernikahan Dini demi Indonesia Emas
Ketua Umum Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, menyerukan peran aktif Muslimat NU di NTB untuk mencegah pernikahan dini dan memperkuat ketahanan keluarga demi masa depan bangsa. (AntaraNews)

Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU, mengajak seluruh anggota Muslimat NU di Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk berperan aktif. Ajakan ini disampaikan dalam upaya membantu pemerintah daerah mencegah praktik pernikahan dini yang menjadi perhatian serius. Inisiatif ini bertujuan memperkuat ketahanan keluarga sebagai pilar utama menuju visi Indonesia Emas.

Seruan penting ini disampaikan Khofifah saat pengukuhan 10 Pengurus Cabang (PC) Muslimat Nahdlatul Ulama se-NTB di Mataram pada Minggu (5/4). Ia menekankan bahwa pencegahan masalah sosial, khususnya pernikahan usia dini, adalah tanggung jawab bersama. Peran ibu-ibu Muslimat NU dinilai sangat besar, namun juga membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Menurut Khofifah, keluarga merupakan benteng pertama dalam masyarakat. Jika benteng ini rapuh, pertahanan bangsa juga akan goyah. Oleh karena itu, Muslimat NU diharapkan hadir untuk memastikan tradisi luhur tetap terjaga. Mereka juga didorong untuk mandiri secara ekonomi agar keluarga semakin berdaya dan mampu berkontribusi nyata.

Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa ketahanan keluarga adalah fondasi utama bagi terwujudnya Indonesia Emas. Ia menekankan bahwa keluarga yang kuat akan menjadi benteng pertahanan bangsa dari berbagai persoalan sosial, termasuk ancaman pernikahan dini. Muslimat NU memiliki peran krusial dalam menjaga tradisi luhur sambil mendorong kemandirian ekonomi anggotanya.

Kemandirian yang dimaksud mencakup kemandirian berpikir, perlindungan perempuan dan anak, serta kemandirian dalam bertindak dan ekonomi. Dengan demikian, Muslimat NU diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan daerah, khususnya di wilayah NTB. Upaya ini sejalan dengan visi besar untuk menciptakan masyarakat yang berdaya dan sejahtera.

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, turut menyoroti pentingnya menjaga nilai-nilai keluarga di tengah perubahan sosial yang pesat. Ia berpendapat bahwa berbagai persoalan sosial, termasuk pernikahan dini dan penyalahgunaan narkoba, seringkali berakar dari melemahnya nilai-nilai keluarga. Oleh karena itu, Muslimat NU diajak menjadi garda terdepan dalam menjaga ketahanan keluarga di provinsi tersebut.

Selain fokus pada ketahanan keluarga, Khofifah juga mengingatkan pentingnya adaptasi digital bagi para kader Muslimat NU. Adaptasi ini harus dilakukan tanpa meninggalkan akar identitas sebagai santri yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Kemampuan beradaptasi dengan teknologi diharapkan dapat memperluas jangkauan dakwah dan program-program organisasi.

Khofifah menekankan penguatan dakwah tidak hanya melalui lisan (dakwah bilisan), tetapi juga melalui tindakan nyata (dakwah bilhal). Ia memberikan contoh program vaksinasi sebagai bentuk nyata dari dakwah bilhal. Capaian vaksinasi di NTB telah mencapai 97 persen, hasil kerja sama dengan Global Alliance for Vaccination Indonesia (GAVI), menunjukkan efektivitas pendekatan ini.

Muslimat NU juga aktif mengembangkan program lingkungan melalui gerakan penanaman pohon berbasis pesantren. Inisiatif ini disebut sebagai “sedekah oksigen” yang dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Program-program ini menunjukkan komitmen Muslimat NU dalam berkontribusi pada kesejahteraan sosial dan lingkungan secara holistik.

Dalam kesempatan yang sama, Khofifah mengajak seluruh anggota Muslimat untuk terus menjaga nilai-nilai tradisi. Ia juga mendorong terciptanya peradaban yang damai di tengah dinamika global yang penuh tantangan. Menurutnya, jika konflik dibalas dengan konflik, tidak akan ada pihak yang menang dalam situasi tersebut.

Oleh karena itu, perempuan, termasuk Muslimat NU, memiliki peran penting untuk ikut menyuarakan perdamaian hingga ke tingkat internasional. Ketua PWNU NTB, Prof Masnun, mengapresiasi kiprah Khofifah yang dinilai menjadi teladan bagi perempuan. Beliau adalah uswatun hasanah yang membuktikan peran besar perempuan dalam membangun peradaban.

Prof Masnun lebih lanjut menegaskan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam pembangunan. Perempuan bukan hanya pelengkap, melainkan memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam membangun dunia. Pandangan ini memperkuat seruan Khofifah mengenai pentingnya peran aktif perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi