Ribuan warga memadati kawasan Krapyak untuk menyaksikan tradisi syawalan dengan pemotongan roti Lopis Raksasa. Panganan berbahan dasar ketan ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Pada tahun 2026 ini roti Lopis dibuat dengan ukuran beratnya mencapai 2.083 kilogram, diameter mencapai 262 sentimeter, dan tingginya mencapai 239 sentimeter menjadikannya salah satu lopis terbesar yang pernah dibuat.
Wakil Wali Kota Pekalongan, Balgis Diab, mengatakan proses pembuatannya tidak sederhana. Lopis dimasak selama tiga hari tiga malam tanpa henti. Proses dilakukan secara bergiliran oleh panitia.
"Kalau ada yang tertidur, bisa gosong karena dimasak pakai kayu bakar,” kata dia.
Advertisement
Kayu Bakar
Penggunaan kayu bakar menjadi bagian dari metode tradisional yang tetap dipertahankan. Sebab proses memasak juga diiringi kegiatan spiritual.
Panitia melakukan iktikaf dan zikir selama proses berlangsung. Doa-doa dipanjatkan agar lopis matang sempurna.Tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari Syawalan.
"Jadi nilai spiritual menyatu dengan proses budaya. Tahun ini terdapat sejumlah peningkatan," ungkapnya.
Advertisement
Kebersihan atau Higienitas
Terkait dari sisi kebersihan atau higienitas, ukuran lopis juga lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat.
"Tahun ini lebih higienis dan ukurannya lebih besar,” ujarnya.
Meski sarat tradisi, lopis tidak memiliki unsur mistis. Sedangkan makna utama lopis adalah sosial.
"Lopis menjadi simbol persatuan dan kebersamaan. Ini murni untuk mempererat silaturahmi,” jelasnya.
Advertisement
Mempererat Hubungan Antarwarga
Setelah dipotong, lopis dibagikan kepada masyarakat. Momen ini menjadi simbol berbagi. Sekaligus mempererat hubungan antarwarga.
"Tradisi ini terus dijaga dari generasi ke generasi. Harapannya, nilai kebersamaan tetap terpelihara.Melalui lopis, warga Pekalongan diingatkan pentingnya persatuan," katanya.