Warga penyintas bencana banjir di Desa Sijudo, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, kini menghadapi tantangan berat menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Mereka harus menempuh perjalanan panjang dan sulit demi mendapatkan kebutuhan rumah tangga untuk merayakan Lebaran. Kondisi ini menjadi potret nyata dampak berkepanjangan dari bencana alam yang melanda wilayah tersebut.
Untuk berbelanja, warga Desa Sijudo terpaksa menyeberangi sungai yang memisahkan desa mereka dari akses utama. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat yang tidak mudah, seringkali menggunakan sepeda motor, menuju warung atau pasar terdekat. Jalur ini menjadi satu-satunya pilihan bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan pokok dan persiapan Lebaran.
Perjalanan ini memakan waktu tidak sebentar, bahkan bisa lebih dari satu jam untuk mencapai lokasi perbelanjaan. Kesulitan ini timbul karena jembatan penghubung antardesa telah putus total akibat bencana banjir besar yang menerjang wilayah tersebut pada 26 November 2025.
Advertisement
Advertisement
Akses Sulit Menuju Pusat Perbelanjaan Lebaran
Yani, salah seorang warga penyintas dari Dusun Rantau Panjang Rubek, Desa Sijudo, harus menempuh perjalanan melelahkan menuju Dusun Pateng, Desa Pante Labu, Aceh Timur. Perjalanan selama satu jam lebih ini dilakukannya demi membeli kebutuhan keluarga seperti sayur, sirup, dan berbagai perlengkapan Lebaran lainnya. Ia mengungkapkan bahwa tidak ada pilihan lain untuk mendapatkan barang-barang tersebut.
“Meski jalan cukup jauh harus seberang sungai dan naik motor lagi ke sini tetapi tak ada pilihan lain, harus belanja untuk memeriahkan Lebaran,” kata Yani saat ditemui di sebuah warung di Desa Pante Labu. Kondisi ini sangat berbeda dengan sebelum banjir, di mana pasokan barang ke desa lebih mudah dijangkau. Pedagang sayur pun sering melintas di sekitar rumah warga, memudahkan mereka dalam berbelanja.
Dampak putusnya jembatan penghubung antardesa sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari warga. Selain mempersulit akses ke pusat perbelanjaan, kondisi ini juga menghambat mobilitas warga untuk keperluan lainnya. Masyarakat Desa Sijudo harus beradaptasi dengan keterbatasan akses yang ada.
Advertisement
Advertisement
Semangat Tak Padam Merayakan Idul Fitri
Meskipun masih dalam kondisi pemulihan pascabencana, semangat warga untuk merayakan Lebaran tetap membara. Yani menjelaskan bahwa keluarganya tetap mempersiapkan diri dengan baik. Selain menyiapkan pakaian baru, mereka juga berencana membuat kue-kue khas Lebaran agar perayaan hari raya bisa berjalan dengan gembira.
Mila, warga penyintas lainnya, juga menunjukkan semangat yang sama. Ia berbelanja berbagai bumbu dapur dan sayuran untuk memasak hidangan Lebaran. Persiapan ini dilakukan agar bisa menjamu tamu yang datang bersilaturahim saat Idul Fitri.
“Saya beli bumbu-bumbu, sayur, untuk masak-masak sehingga ada keluarga yang datang bisa makan bersama-sama,” ujar Mila. Kondisi serba terbatas akibat bencana tidak menyurutkan niatnya untuk merayakan Idul Fitri dengan penuh kebahagiaan bersama keluarga dan kerabat.
Advertisement
Advertisement
Dampak Jangka Panjang Bencana pada Kehidupan Warga
Bencana banjir yang terjadi pada 26 November 2025 telah menyebabkan kerusakan infrastruktur vital, terutama jembatan penghubung antardesa. Akibatnya, akses transportasi dan logistik menjadi terganggu secara signifikan. Kondisi ini telah berlangsung selama empat bulan, namun akses menuju tempat belanja masih belum pulih sepenuhnya.
Mila menjelaskan bahwa kondisi sulit ini dihadapi oleh seluruh warga Desa Sijudo, sehingga mereka sudah terbiasa dengan situasi tersebut. Keterbatasan akses ini tidak hanya mempengaruhi kegiatan ekonomi, tetapi juga aspek sosial dan kesehatan masyarakat. Upaya pemulihan infrastruktur menjadi krusial untuk mengembalikan normalitas kehidupan warga.
Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan dapat segera mencari solusi permanen untuk perbaikan jembatan. Akses yang lancar akan sangat membantu warga penyintas dalam memulihkan kehidupan mereka pascabencana. Ini juga akan memastikan bahwa kebutuhan dasar dan ekonomi masyarakat dapat kembali berjalan normal.
Advertisement
Sumber: AntaraNews