Kekeringan berkepanjangan memiliki konsekuensi serius bagi kesehatan masyarakat. Spesialis penyakit dalam Eka Hospital Cibubur, dr. Annisa Maloveny, menyoroti dampak jangka panjang kondisi ini. Ia menjelaskan bahwa kekeringan dapat mempermudah dehidrasi dan secara signifikan meningkatkan risiko gagal ginjal.
Pernyataan ini disampaikan dr. Annisa di Tangerang, Provinsi Banten, pada hari Jumat. Peringatan tersebut menjadi relevan mengingat kondisi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi. Kondisi ini menuntut kesadaran lebih tinggi akan pentingnya menjaga kesehatan ginjal.
Peningkatan kasus gagal ginjal bukan hanya masalah kesehatan individu. Namun juga memiliki implikasi lebih luas terhadap lingkungan. Dampak ini mencakup kontribusi terhadap jejak karbon.
Advertisement
Advertisement
dr. Annisa Maloveny mengidentifikasi sepuluh gejala gagal ginjal yang patut diwaspadai. Salah satu gejala paling umum adalah pembengkakan simetris pada kedua kaki. Pembengkakan ini dapat bervariasi, namun seringkali terlihat jelas pada bagian kaki kiri dan kanan.
Pembengkakan tersebut terjadi akibat penumpukan cairan dalam tubuh. Cairan tidak dapat terbuang dengan baik karena ginjal tidak mampu mengeluarkannya sebagai urine. Kondisi ini menunjukkan adanya gangguan serius pada fungsi ekskresi ginjal.
Gejala lain meliputi adanya sel darah merah atau sel darah putih dalam urine. Kehadiran sel darah putih dapat mengindikasikan infeksi pada ginjal. Selain itu, munculnya protein dalam urine dan jarang buang air kecil juga menjadi tanda.
Advertisement
Hipertensi atau tekanan darah tinggi juga bisa menjadi penyebab utama atau bahkan gejala gagal ginjal. Jika seseorang yang sebelumnya sehat tiba-tiba mengalami darah tinggi, kondisi ini bisa menjadi indikasi awal gagal ginjal. Pada anak-anak, hipertensi dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang, anemia, kelainan tulang, sesak napas, dan demam berulang. Penumpukan cairan pada pasien gagal ginjal tidak hanya terbatas pada kaki, tetapi juga bisa mencapai paru-paru, yang menyebabkan sesak napas.
Advertisement
Selain dampak langsung pada kesehatan, dr. Annisa juga menyoroti hubungan antara gagal ginjal dan jejak karbon. Ia mengungkapkan bahwa satu sesi cuci darah menghasilkan jejak karbon yang setara dengan emisi karbon satu mobil yang melaju sejauh 240 kilometer.
Angka ini sangat mengkhawatirkan jika mempertimbangkan ribuan pasien gagal ginjal yang menjalani cuci darah setiap hari. Jumlah jejak karbon di bumi akan menumpuk dengan cepat. Ini menimbulkan beban lingkungan yang signifikan.
Penumpukan jejak karbon tersebut berkontribusi pada efek rumah kaca. Efek rumah kaca ini memicu cuaca ekstrem, kenaikan suhu bumi, dan pada akhirnya menyebabkan kekeringan. Oleh karena itu, menjaga kesehatan ginjal memiliki peran ganda.
Advertisement
Pentingnya menjaga kesehatan ginjal tidak hanya untuk individu. Melainkan juga untuk membantu menjaga keberlanjutan planet kita. Dengan mencegah gagal ginjal, kita turut mengurangi jejak karbon dan memitigasi dampak perubahan iklim.
Sumber: AntaraNews