Sentilan Golkar buat Bupati Pekalongan Berdalih Tak Paham Pemerintahan: Mestinya Selalu Upgrade Diri

Fadia juga berdalih hanya berlatar belakang musisi, tidak memahami birokrasi pemerintahan terkait kasus korupsi pengadaan jasa yang menjeratnya.

Delvira
Oleh Delvira - Reporter
Sentilan Golkar buat Bupati Pekalongan Berdalih Tak Paham Pemerintahan: Mestinya Selalu Upgrade Diri
Sentilan Golkar buat Bupati Pekalongan Berdalih Tak Paham Pemerintahan: Mestinya Selalu Upgrade Diri (Merdeka.com)

Bupati Pekalongan Fadia Arafiq menolak disebut terjaring Operasi Tangkap Tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (OTT KPK). Fadia juga berdalih hanya berlatar belakang musisi, tidak memahami birokrasi pemerintahan terkait kasus korupsi pengadaan jasa yang menjeratnya.

Merespons hal itu, Sekjen Partai Golkar Sarmuji langsung menyentil Fadia yang merupakan kader Partai Golkar. Sarmuji menyebut partai sudah memberi pembekalan pada Fadia.

"Sebenarnya setiap seseorang yang memiliki posisi sebagai pejabat pemerintahan harus menyesuaikan diri dengan bidang tugasnya termasuk dalam hal tata pemerintahan. Partai dan pemerintah pusat sudah berusaha memberi pembekalan," kata Sarmuji pada wartawan, Kamis (5/3).

Seharusnya, kata Sarmuji, Fadia belajar untuk meningkatkan kemampuan di bidang birokrasi. "Detail selanjutnya mesti selalu mengupgrade diri terus menerus," kata dia.

Sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkapkan Fadia Arafiq hanya menjalankan fungsi seremonial selama menjabat sebagai Bupati Pekalongan. Fadia mengaku tidak memahami secara mendalam hukum dan tata kelola pemerintahan.

"Dirinya lebih banyak menjalankan fungsi seremonial di lingkungan Kabupaten Pekalongan. Itu yang disampaikan oleh saudari FAR pada saat memberikan keterangan," ujar Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (4/3).

Selain itu, Fadia mengaku menyerahkan tugas birokrasi pemerintahan kepada Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Pekalongan Mohammad Yulian Akbar. Kendati demikian, KPK mengatakan alasan Bupati Pekalongan dua periode tersebut bertentangan dengan asas presumptio iures de iure atau teori fiksi hukum.

Asep Guntur Rahayu menyinggung figur yang sebelumnya berprofesi sebagai entertainer dan ingin terjun ke dunia politik agar lebih banyak belajar dan mempersiapkan diri.

Hal ini disampaikannya buntut penangkapan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq yang notabenenya merupakan seorang penyanyi, di mana yang bersangkutan sudah jadi tersangka dugaan korupsi pengadaan jasa outsourcing dan pengadaan lainnya di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pekalongan Tahun Anggaran 2023–2026.

"Tentu harus diikuti dengan, ya (belajar). Karena dunianya dunia baru, dunia politik, ya belajar tentang politiknya, seperti itu," kata Asep saat dikonfirmasi, Kamis (5/3).

Tergantung Pribadi

Jejak Karier Fadia Arafiq, Bupati Pekalongan Terjerat OTT KPK
Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq (Istimewa) © 2026 Liputan6.com

Saat disinggung soal rekrutmen partai politik terhadap sosok penampil menjadi kepala daerah, Asep mengatakan hal tersebut dikembalikan ke pribadi masing-masing.

"Kami pikir sih tergantung kepada pribadi-pribadinya ya. Tidak bisa kami menggeneralisasi bahwa seorang entertainer masuk ke ranah politik, lalu di politiknya tidak akan jalan," ungkap Asep.

Seperti dilansir dari Antara, menurut dia, banyak contoh penampil yang ketika masuk dunia politik kemudian memiliki pemahaman yang baik soal tata kelola pemerintahan.

"Banyak juga yang berhasil, seperti yang saat ini ada di DPR, banyak entertainer yang ada di sana. Saya pikir juga beliau-beliau sangat berhasil. Jadi, tergantung kepada individunya," tutur Asep.

Dia pun mencontohkan sosok Ronald Reagan yang berawal dari dunia hiburan kemudian bisa menjadi Presiden Amerika Serikat.

"Kalau di luar negeri, bisa kita lihat Ronald Reagan. Itu dulu, kalau tidak salah, bintang film. Berhasil juga gitu. Jadi, tergantung dari pribadinya masing-masing, bagaimana orang itu ingin bekerja di situ dan menjiwai ketika menjadi pejabat publik," ungkap Asep.

Rekomendasi