Buntut Keracunan Massal, BGN Setop Sementara Operasional SPPG di Lampung

Beberapa masalah yang ditemukan antara lain adalah kondisi lantai di area penyajian yang dinilai kurang bersih serta tidak dibersihkan secara rutin.

Ardi Munthe
Oleh Ardi Munthe - Reporter
Buntut Keracunan Massal, BGN Setop Sementara Operasional SPPG di Lampung
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Malang selama Ramadhan 2026 akan didominasi makanan kering. Ini adalah penyesuaian dari Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menjaga kualitas makanan. Simak detail Menu MBG Ramadhan Malang. (AntaraNews)

Badan Gizi Nasional (BGN) telah menghentikan sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan makanan bergizi gratis (MBG) di Sumberejo, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung. Penghentian ini dilakukan menyusul adanya dugaan keracunan makanan yang dialami oleh beberapa siswa dari sekolah-sekolah di area tersebut.

Penutupan ini terjadi setelah laporan mengenai dugaan keracunan yang melibatkan siswa dari tiga sekolah yang menerima manfaat program MBG. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Temenggung, mengonfirmasi bahwa ia telah menerima surat resmi dari BGN yang menyatakan penghentian sementara operasional dapur. Namun, surat tersebut tidak memberikan rincian mengenai hasil temuan di lapangan.

"Dalam surat hanya disebutkan berdasarkan temuan lapangan dan laporan koordinator regional Provinsi Lampung, operasional SPPG dihentikan sementara. Tidak dirinci apa saja temuannya," katanya.

Ia menambahkan bahwa penghentian operasional ini akan berlangsung hingga dapur MBG tersebut menjalani proses sterilisasi dan renovasi untuk memenuhi standar kebersihan yang telah ditetapkan. Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung juga telah melakukan inspeksi langsung ke lokasi dapur, dan hasil pengecekan menunjukkan bahwa ada beberapa catatan yang perlu segera diperbaiki oleh pengelola.

Beberapa masalah yang ditemukan antara lain adalah kondisi lantai di area penyajian yang dinilai kurang bersih serta tidak dibersihkan secara rutin.

Selain itu, penggunaan alas kaki di dalam area dapur juga perlu diperhatikan agar higienitas terjaga. Tak hanya itu, akses ke ruang penyajian makanan dikatakan belum memiliki sekat pemisah dari ruangan lain, yang dapat memengaruhi standar sterilitas karena aroma masakan dan aktivitas lain bisa menyebar ke seluruh ruangan.

"Seharusnya ada pembatas antara ruang penyajian dan ruang lainnya agar lebih steril. Kami berharap pengelola SPPG dapat menjalankan standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan," tegas Muhtadi. Sebelumnya, ratusan siswa, guru, dan wali murid di Kota Bandar Lampung mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi menu MBG pada Rabu (11/2/2026). Mereka mengalami gejala seperti diare, mual, muntah, dan demam beberapa jam setelah menyantap makanan tersebut.

Salah satu wali murid berinisial NS menceritakan kepada Liputan6.com bahwa keluarganya mengalami gejala awal pada Rabu malam setelah anaknya membawa pulang menu MBG dari sekolah.

"Anak saya bawa pulang karena tidak dimakan di sekolah. Menunya nasi, telur ceplok disiram saus, ada anggur dan sayur. Sore mulai mulas, jam 9 malam sudah diare. Subuhnya bolak-balik BAB dan mual," katanya.

NS juga menambahkan bahwa istrinya sempat mencoba berobat jalan sebelum akhirnya dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara selama tiga hari. Ia baru mengetahui tentang dugaan keracunan massal setelah pihak sekolah melakukan pendataan terhadap siswa dan guru yang mengalami gejala serupa.

"Pagi-pagi ada telepon dari pihak sekolah mau mendata yang mengalami mual dan diare. Ternyata tetangga saya juga kena, sama persis gejalanya," katanya.

Selain soal dugaan keracunan, NS juga mengungkap adanya permintaan kepada sejumlah orang tua agar tidak menceritakan kejadian tersebut ke media sosial.

"Ada yang disuruh buat surat perjanjian, tidak boleh ngomong-ngomong atau buat video," ungkapnya.

Beberapa korban yang tidak mampu memilih untuk menahan sakit di rumah sebelum akhirnya dibawa ke fasilitas kesehatan. Ia berharap ada posko dan tanggung jawab dari pihak penyedia makanan untuk membantu korban, khususnya yang kurang mampu.

Tiga sekolah yang terlibat dalam insiden ini adalah SDN 4 Sumberejo, SD Al Munawaroh, dan SMPN 14 Bandar Lampung.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan yang diperoleh dari Puskesmas Kemiling, di SDN 4 Sumberejo tercatat 77 siswa, 9 guru, dan 1 orang tua guru mengalami keluhan diare. Di SD Al Munawaroh, sebanyak 64 siswa, 11 guru dan penjaga sekolah, serta 1 orang tua guru juga terdampak.

Total dari dua sekolah tersebut mencapai 163 orang. Sementara itu, hasil verifikasi di SMPN 14 Bandar Lampung menunjukkan 43 orang melaporkan gejala serupa. Dari jumlah tersebut, 37 orang menjalani rawat jalan dan enam lainnya dirawat inap di beberapa rumah sakit, termasuk RS Bintang Amin, RS Bumi Waras, dan RS Graha Husada.

Rekomendasi