Peneliti Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN, Yumasdaleni, menegaskan peran krusial institusi keagamaan dalam proses pemulihan trauma pascabencana. Pernyataan ini disampaikan dalam diskusi daring di Jakarta, Jumat, 20 Februari 2026.
Diskusi bertajuk "Resiliensi Eko-Teologi dan Citizen Science Pascabencana" tersebut menyoroti bagaimana spiritualitas menjadi kekuatan sentral. Ini membantu individu dan komunitas bangkit dari pengalaman traumatis akibat bencana alam.
Pendekatan keagamaan tidak hanya berfokus pada pemulihan psikologis, tetapi juga restorasi ekosistem. Hal ini menciptakan ketahanan sosial, spiritual, dan ekologis masyarakat terdampak bencana.
Advertisement
Advertisement
Spiritualitas sebagai Kekuatan Pemulihan Trauma
Yumasdaleni menjelaskan bahwa spiritualitas memiliki posisi sentral dalam menghadapi pascatrauma, bahkan memicu pertumbuhan pascatrauma (post-traumatic growth). Kekuatan ini esensial untuk individu dan komunitas yang terdampak bencana.
Praktik keagamaan, seperti doa bersama dan refleksi spiritual, membantu penyintas memaknai kembali peristiwa bencana. Kegiatan ini mendorong mereka untuk melihat pengalaman traumatis secara lebih konstruktif.
Melalui pendekatan ini, masyarakat diajak tidak hanya menerima kenyataan. Namun, mereka juga didorong untuk melakukan transformasi etis kolektif agar tidak mengulangi eksploitasi lingkungan.
Advertisement
Advertisement
Peran Strategis Institusi Keagamaan dan Rumah Ibadah
Ritual keagamaan seringkali berfungsi sebagai pemersatu komunitas, melengkapi kegiatan psikologis yang ada. Ini menunjukkan dimensi sosial yang kuat dari praktik keagamaan.
Rumah ibadah memiliki fungsi strategis sebagai ruang solidaritas dan pemulihan sosial. Keberadaan kembali ruang-ruang ibadah menjadi komponen penting dalam fase tanggap darurat untuk membangun harapan.
Solidaritas dan kebersamaan yang terbangun di rumah ibadah sangat vital. Ini membantu masyarakat terdampak bencana untuk bangkit dan membangun kembali kehidupan mereka.
Advertisement
Advertisement
Integrasi Kebijakan dan Edukasi Lingkungan
Meskipun spiritualitas penting, Yumasdaleni mengingatkan bahwa pendekatan spiritual saja tidak cukup. Diperlukan dukungan kebijakan yang tegas, seperti regulasi lingkungan yang ketat.
Lembaga keagamaan juga memiliki peran sebagai agen edukasi dan advokasi ekologi berbasis iman. Mereka dapat mendorong praktik konservasi lingkungan melalui kegiatan komunitas.
Integrasi nilai keagamaan dengan upaya pemulihan lingkungan dapat memperkuat ketahanan sosial, spiritual, dan ekologis masyarakat. Konsep ekoteologi menempatkan manusia, Tuhan, dan alam sebagai satu kesatuan yang saling terhubung.
Advertisement
Sumber: AntaraNews