Dinkes Serang Imbau Warga Prioritaskan PSN untuk Pencegahan DBD, Jangan Andalkan Fogging

Dinas Kesehatan Kota Serang mengimbau masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan fogging, melainkan memprioritaskan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara mandiri sebagai kunci utama pencegahan DBD yang lebih efektif.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Dinkes Serang Imbau Warga Prioritaskan PSN untuk Pencegahan DBD, Jangan Andalkan Fogging
Dinas Kesehatan Kota Serang mengimbau masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan fogging, melainkan memprioritaskan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara mandiri sebagai kunci utama pencegahan DBD yang lebih efektif. (AntaraNews)

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang, Provinsi Banten, mengimbau masyarakat agar tidak hanya bergantung pada pengasapan (fogging) dalam upaya pencegahan demam berdarah dengue (DBD). Penekanan diberikan pada pentingnya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilakukan secara mandiri dan berkelanjutan oleh warga. Langkah ini dinilai lebih efektif dalam memutus rantai penyebaran penyakit.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Serang, Nurhayati, menjelaskan bahwa fogging memiliki keterbatasan. Metode ini hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak mematikan jentik nyamuk, sehingga tidak mengatasi akar masalah. Selain itu, fogging juga berpotensi menimbulkan polusi udara serta seringkali tidak tepat sasaran.

Imbauan ini muncul mengingat data kasus DBD di Kota Serang pada tahun 2025 yang mencapai 279 kasus dengan dua kematian. Oleh karena itu, partisipasi aktif masyarakat melalui gerakan 3M Plus (menguras, menutup, mengubur) dan inisiatif “Satu Rumah Satu Jumantik” menjadi krusial untuk menekan angka kasus DBD.

Nurhayati menegaskan bahwa fogging bukanlah metode pencegahan utama yang direkomendasikan untuk pencegahan DBD. Menurutnya, pengasapan hanya efektif membunuh nyamuk dewasa, namun tidak mampu membasmi jentik nyamuk yang merupakan cikal bakal penyebaran penyakit. Hal ini menyebabkan siklus hidup nyamuk tetap berlanjut dan potensi penularan DBD masih tinggi.

Selain ketidakefektifannya terhadap jentik, fogging juga memiliki dampak negatif lain, yaitu menimbulkan polusi udara dan kotoran. Lebih lanjut, Nurhayati menambahkan bahwa tindakan fogging seringkali tidak tepat sasaran jika tidak didahului dengan identifikasi sarang nyamuk secara menyeluruh. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak hanya mengandalkan metode ini.

Sebagai alternatif yang lebih efektif, Dinkes Kota Serang mendorong masyarakat untuk aktif melakukan PSN melalui gerakan 3M Plus. Gerakan ini meliputi menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas yang dapat menampung air. Selain itu, gerakan “Satu Rumah Satu Jumantik” juga ditekankan untuk memastikan setiap rumah memiliki juru pemantau jentik sendiri.

Terkait permintaan fogging dari warga, Dinkes Kota Serang memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat. Pengasapan gratis baru dapat dilakukan jika ada laporan kasus positif DBD yang terkonfirmasi berdasarkan hasil laboratorium. Setelah itu, harus dilakukan PSN massal atau kerja bakti di lingkungan terdampak sebelum fogging bisa dilaksanakan.

“Harus ada korban dan hasil laboratorium positif, baru kemudian dilakukan PSN bersama. Kalau semua syarat terpenuhi, baru fogging bisa dilakukan,” terang Nurhayati. Prosedur ini bertujuan untuk memastikan bahwa fogging dilakukan pada waktu dan lokasi yang tepat, serta didukung oleh upaya PSN yang komprehensif.

Berdasarkan data Dinkes Kota Serang, sepanjang tahun 2025 tercatat 279 kasus DBD dengan dua kasus kematian. Kasus fatal tersebut terjadi di Kecamatan Serang dan Taktakan, yang mayoritas disebabkan oleh keterlambatan pasien dibawa ke fasilitas kesehatan. Untuk awal tahun 2026, Dinkes mencatat belum ada temuan kasus positif DBD, meskipun sempat ada laporan dugaan di Perumahan Puri Harmoni Indah, Kasemen.

Nurhayati mengimbau masyarakat untuk segera membawa anggota keluarga yang menunjukkan gejala DBD ke klinik atau rumah sakit. Deteksi dini dan penanganan cepat sangat penting untuk mencegah komplikasi serius dan mengurangi risiko kematian akibat DBD. Partisipasi aktif masyarakat dalam pencegahan DBD dan respons cepat terhadap gejala menjadi kunci utama dalam menekan angka kasus di Kota Serang.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi