DPRD Provinsi Jambi secara aktif mendorong pengintegrasian desa wisata dengan pengembangan Pusat Informasi Konservasi Gajah (PIKG) di Desa Muara Sekalo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo. Langkah ini bertujuan menciptakan lokasi edukasi yang menarik sekaligus memberikan manfaat ekonomi signifikan bagi masyarakat sekitar kawasan. Inisiatif strategis ini sejalan dengan pengesahan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang desa wisata yang baru-baru ini dilakukan oleh DPRD Provinsi Jambi.
Anggota DPRD Provinsi Jambi, Ansori Hasan, menyatakan bahwa integrasi tersebut sangat layak menjadi prioritas utama pembangunan daerah. Melalui kerja sama erat dengan Dinas Pariwisata, penangkaran gajah diharapkan dapat dikemas menjadi destinasi unggulan yang menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Keberadaan gajah di Muara Sekalo memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi lokal jika dikelola secara serius.
Pengelolaan yang optimal memerlukan sinergi antara Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, desa wisata setempat, serta dorongan kuat dari pemerintah daerah. Kabupaten Tebo sendiri dikenal memiliki potensi besar dalam sektor pariwisata berbasis konservasi, khususnya dalam perlindungan gajah di bentang alam Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT).
Advertisement
Advertisement
Potensi dan Prioritas Integrasi Desa Wisata
Anggota Fraksi PAN, Ansori Hasan, menekankan pentingnya optimalisasi pengelolaan kawasan konservasi gajah. Optimalisasi ini tidak hanya bertujuan menjaga kelestarian satwa, tetapi juga memberikan dampak positif bagi peningkatan ekonomi warga sekitar desa wisata. Integrasi kawasan konservasi ke dalam program Desa Wisata merupakan salah satu langkah strategis yang diusulkan.
Dukungan kebijakan dan infrastruktur yang memadai dari pemerintah menjadi kunci utama untuk mewujudkan pariwisata Jambi yang lebih maju. Pemanfaatan kekayaan alam dan upaya konservasi yang ada di Kabupaten Tebo diharapkan dapat menjadi titik awal pengembangan pariwisata berkelanjutan. Hal ini akan memperkuat posisi Jambi sebagai destinasi wisata edukasi yang unik.
Pengesahan Raperda tentang desa wisata baru-baru ini memberikan landasan hukum yang kuat untuk pengembangan inisiatif semacam ini. Dengan adanya regulasi yang jelas, diharapkan proses integrasi dapat berjalan lebih terarah dan mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak terkait. Ini merupakan peluang besar untuk mengembangkan Integrasi Desa Wisata Konservasi Gajah Jambi.
Advertisement
Advertisement
Tantangan Infrastruktur dan Peran BKSDA
Kepala BKSDA Jambi, Himawan Sasongko, mengakui bahwa salah satu kendala utama yang dihadapi PIKG saat ini adalah akses jalan yang belum memadai dari pusat kota menuju lokasi. Infrastruktur penghubung yang layak merupakan kebutuhan mendesak untuk mendongkrak minat masyarakat berkunjung. Perbaikan aksesibilitas akan sangat membantu meningkatkan jumlah wisatawan ke kawasan konservasi gajah.
Himawan Sasongko meyakini bahwa dengan dukungan infrastruktur yang lebih baik, PIKG dapat menjadi alternatif wisata yang lebih digemari oleh masyarakat. Hal ini memungkinkan pengunjung untuk menghabiskan waktu lebih lama di dalam kawasan konservasi gajah, menikmati pengalaman edukasi yang mendalam. Fasilitas penginapan (mess) dan sarana pendukung lainnya sudah tersedia sejak PIKG diresmikan pada tahun 2022, meskipun sarana tersebut diakui masih terbatas.
BKSDA Jambi juga mendorong partisipasi aktif masyarakat di wilayah penyangga PIKG untuk menyediakan akomodasi. Keterlibatan masyarakat ini diharapkan dapat membangkitkan ekonomi lokal secara signifikan melalui penyediaan layanan bagi wisatawan. Ini akan menciptakan simbiosis mutualisme antara upaya konservasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Advertisement
Advertisement
Konservasi Gajah dan Dampak Ekonomi Lokal
PIKG yang berlokasi di Bentang Alam Bukit Tigapuluh memiliki fungsi multifungsi sebagai kawasan konservasi. Fungsi utamanya meliputi mitigasi konflik gajah, pemeliharaan gajah jinak, serta menjadi objek wisata edukasi baru yang menarik. Keberadaan PIKG sangat vital dalam menjaga kelestarian populasi gajah Sumatera.
Kawasan Bukit Tigapuluh membentang luas dari Kabupaten Tebo hingga Kabupaten Tanjung Jabung Barat, menjadikannya habitat penting bagi satwa liar. Jarak dari ibu kota Kabupaten Tebo ke lokasi PIKG diperkirakan sekitar 42,4 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Aksesibilitas ini perlu ditingkatkan untuk menarik lebih banyak pengunjung dan memaksimalkan potensi wisata.
Data dari BKSDA menunjukkan bahwa kantong populasi gajah terbesar di Jambi berada di Bukit Tigapuluh Tebo, dengan jumlah mencapai 129 individu gajah. Potensi ini sangat besar untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata edukasi yang berkelanjutan. Integrasi Desa Wisata Konservasi Gajah Jambi akan memberikan dampak positif yang luas bagi konservasi dan ekonomi lokal.
Advertisement
Sumber: AntaraNews