K.G.P.A.A. Mangkunagoro X atau akrab disapa Gusti Bhre menyampaikan pesan atau Sabda Dalem saat acara ulang tahun naik tahta (Tingalan Jumenengan) keempat, di Pendhapa Ageng, Pura Mangkunegaran.l Rabu (27/1). Sabda Dalem dibacakan di depan kerabat, sentono, abdi dalem serta tamu penting lainnya, termasuk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Gusti Bhre menyampaikan ucapan terima kasihnya, atas harapan dan dukungan yang telah menyertai perjalanan Mangkunegaran selama 4 tahun terakhir. Perjalanan yang penuh tantangan dan pencapaian yang mempertemukan dalam rasa syukur dan kebersamaan.
"Kebahagiaan bukan sesuatu yang dikejar dengan tergesa, melainkan dijalani sebagai laku hidup. Ia tidak lahir dari pencapaian semata, tetapi dari cara manusia menata batin, bersikap dengan jernih, dan memaknai perjalanan hidupnya dari hari ke hari," katanya.
Lanjut Bhre, kebahagiaan berawal dari kesadaran akan diri sendiri, sesama, dan lingkungan. Dengan kesadaran, manusia mampu hadir sepenuhnya pada saat ini, eling lan waskita (play the present), sehingga setiap budi, rasa, dan laku berjalan dengan selaras serta tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
"Dari kesadaran yang hidup, terpancar tata krama. Sikap hormat, andhap asor, dan keramahan bukan sekadar kebiasaan lahiriah, melainkan pancaran dari hati yang sadar. Tata krama adalah cara memanusiakan manusia dan menjaga ruang hidup agar tetap rukun, tenteram, dan saling menghargai," ucapnya.
Dalam menjalani hidup, dikatakannya, manusia harus memiliki tujuan, tetapi tidak boleh kehilangan arah dan cara. Seperti falsafah penunggang kuda. Menurut dia, arah perlu dipahami, melangkah dengan konsisten, serta kerja keras dijalani dengan ketekunan. "Cara menentukan apakah tujuan membawa kebaikan atau justru kelelahan tanpa makna," tuturnya.
"Pada akhirnya, kebahagiaan tidak hidup dalam kesendirian. Ia tumbuh dalam kebersamaan, dirawat melalui kesederhanaan, dan dijaga lewat kesadaran bersama. Semoga Mangkunegaran bukan hanya sebagai wadah fisik, namun tempat kita merasakan apa arti rumah sesungguhnya," kata dia.
Advertisement
Penampilan Korps Musik Korem Warastratama
Acara Tingalan Jumenengan Dalem keempat Mangkunagoro X dibuka dengan penampilan Korps Musik Korem Warastratama bersama Bregodo Mangkunegaran yang membawakan Mars Pareanom dan defile, sebagai sambutan kepada para tamu undangan yang telah hadir.
Prosesi Tingalan Jumenengan berjalan dengan khidmat, terutama ketika Beksan (tari) Bedhaya Anglir Mendung ditampilkan.
Pesinden dan komponis R.Ngt.T. Dr. Peni Candra Rini juga memberikan sebuah persembahan dengan judul ‘Asmaradhana Djiwa Djiwa’ pada Tingalan Jumenengan K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X.
Advertisement
Peralihan Dari Je 1958 Menuju Dal 1959
Ketua Panitia, GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo menyampaikan, peralihan dari Je 1958 menuju Dal 1959 dimaknai bukan sekadar pergantian penanggalan, melainkan fase reflektif untuk menata kembali arah langkah.
"Tahun Je menitikberatkan pada puncak pertumbuhan dan pengembangan, kemudian periode Dal menjadi waktu untuk menguji konsistensi nilai, memperjelas orientasi, serta memastikan setiap langkah tetap berakar pada jati diri budaya," tutur dia.
Dalam konteks ini, lanjut dia, Mangkunegaran menegaskan komitmennya untuk bergerak dengan perencanaan yang matang, berkelanjutan, dan selaras dengan perkembangan masyarakat.