Psikolog Ingatkan Pentingnya Empati Batasan Sehat untuk Hindari Kelelahan Emosional

Psikolog klinis menekankan pentingnya memiliki empati batasan sehat, terutama saat menghadapi situasi krisis, agar terhindar dari kelelahan emosional yang bisa berdampak buruk.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Psikolog Ingatkan Pentingnya Empati Batasan Sehat untuk Hindari Kelelahan Emosional
Psikolog klinis Virginia Hanny menekankan pentingnya memiliki empati dengan batasan sehat, terutama di tengah situasi krisis, guna mencegah *compassion fatigue* yang dapat menguras emosi dan mental. (AntaraNews)

Rasa empati merupakan kemampuan penting untuk memahami dan berbagi perasaan orang lain, namun perlu diimbangi dengan batasan yang sehat. Psikolog klinis Virginia Hanny, M.Psi., Psikolog, mengingatkan bahwa batasan ini krusial, terutama ketika menghadapi situasi krisis yang berkepanjangan seperti bencana alam. Tanpa batasan yang jelas, empati dapat berujung pada kondisi yang merugikan diri sendiri.

Menurut Hanny, empati yang tidak diimbangi dengan batasan sehat berpotensi berkembang menjadi compassion fatigue atau kelelahan emosional. Kondisi ini dapat membuat individu yang terlibat dalam membantu, seperti tenaga kesehatan, relawan, atau masyarakat, merasa kewalahan dan bahkan mengalami trauma. Kelelahan emosional ini merupakan respons terhadap keterlibatan emosional yang intens dan berkelanjutan.

Fenomena ini menyoroti pentingnya menjaga kesehatan mental diri sendiri saat berupaya membantu orang lain yang sedang menderita. Hanny menekankan bahwa menjaga diri bukan berarti mengurangi kepedulian, melainkan upaya agar empati dapat terjaga dalam jangka panjang dan efektif. Ini adalah langkah proaktif untuk memastikan keberlanjutan bantuan.

Kelelahan emosional, atau compassion fatigue, adalah kondisi serius yang dapat dialami oleh siapa saja yang terlibat intens dalam membantu korban krisis. Psikolog Virginia Hanny menjelaskan bahwa kondisi ini muncul ketika empati yang diberikan tidak memiliki batasan sehat. Akibatnya, penolong bisa merasa sangat lelah secara emosional dan bahkan mengalami gejala trauma sekunder.

Situasi krisis yang berkepanjangan, seperti bencana alam atau pandemi, seringkali menuntut keterlibatan emosional yang tinggi dari banyak pihak. Tanpa strategi pengelolaan diri yang tepat, individu rentan terjerumus dalam kondisi over-involvement. Keterlibatan berlebihan ini bisa mengikis energi mental dan fisik, membuat seseorang tidak lagi efektif dalam memberikan bantuan.

Hanny menyoroti bahwa tenaga kesehatan, relawan, dan masyarakat yang sangat peduli seringkali menjadi kelompok paling rentan. Mereka cenderung menyerap penderitaan orang lain secara mendalam, yang jika tidak dikelola, dapat menyebabkan kelelahan ekstrem. Oleh karena itu, penting untuk memahami tanda-tanda awal compassion fatigue agar dapat segera mengambil tindakan pencegahan.

Untuk menjaga agar empati tetap sehat dan berkelanjutan, ada beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan. Pertama, penting untuk membedakan antara empati dan over-involvement atau keterlibatan yang berlebihan. Kita bisa peduli tanpa harus larut sepenuhnya dalam penderitaan orang lain, menjaga jarak emosional yang sehat.

Kedua, membangun 'psychological boundaries' atau batasan psikologis adalah kunci. Ini berarti menyadari bahwa kita dapat menunjukkan kepedulian tanpa harus merasa bertanggung jawab atas semua penderitaan yang dirasakan oleh orang lain. Batasan ini membantu melindungi diri dari beban emosional yang tidak perlu.

Selain itu, mengakui keterbatasan diri merupakan aspek penting dari empati batasan sehat. Setiap individu memiliki kapasitas emosional yang berbeda dan tidak mungkin dapat membantu semua orang atau menyelesaikan semua masalah. Menerima kenyataan ini membantu mencegah rasa bersalah atau frustrasi yang berlebihan.

Terakhir, memberikan jeda dari konten yang berat sangat dianjurkan. Informasi dengan gambar, video, atau narasi emosional yang intens dapat memicu respons stres. Mengisi waktu dengan aktivitas bermakna seperti refleksi diri, olahraga, atau kegiatan kreatif dapat membantu memulihkan energi mental dan menjaga keseimbangan emosi.

Menjaga empati dengan batasan sehat pada dasarnya adalah upaya untuk melindungi kesehatan mental diri sendiri. Psikolog Hanny menegaskan bahwa tindakan ini sama sekali tidak mengurangi kepedulian terhadap para korban. Sebaliknya, ini adalah langkah strategis agar kemampuan berempati dapat terus berfungsi secara optimal dalam jangka panjang.

Ketika individu mampu menjaga kesehatan mentalnya, mereka akan lebih siap dan memiliki kapasitas yang lebih besar untuk memberikan dukungan yang efektif. Kelelahan emosional dapat menghambat kemampuan seseorang untuk berpikir jernih dan bertindak secara konstruktif. Oleh karena itu, self-care atau perawatan diri menjadi bagian integral dari kepedulian.

Melakukan aktivitas yang menenangkan dan memulihkan diri, seperti meditasi atau hobi, adalah investasi untuk keberlangsungan empati. Ini memungkinkan seseorang untuk kembali dengan energi yang diperbarui dan perspektif yang lebih seimbang. Dengan demikian, bantuan yang diberikan akan lebih berkualitas dan berkelanjutan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi