Angin kencang melanda beberapa wilayah di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, pada hari Sabtu, 24 Januari, mengakibatkan dampak serius bagi masyarakat. Peristiwa ini menyebabkan seorang pengendara motor meninggal dunia setelah tertimpa pohon tumbang. Selain itu, dua tower telekomunikasi roboh, puluhan rumah mengalami kerusakan, dan sejumlah akses jalan terganggu akibat pohon tumbang.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek, Triadi Atmono, menjelaskan bahwa angin kencang terjadi sejak dini hari hingga siang hari. Dampak bencana ini tersebar di beberapa kecamatan, termasuk Durenan, Bendungan, Gandusari, Tugu, dan Watulimo. Pihak berwenang telah mengerahkan tim untuk penanganan darurat dan pemulihan di lokasi terdampak.
Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di wilayah Jawa Timur. BPBD Trenggalek mengimbau masyarakat untuk selalu siaga dan menghindari area rawan saat angin kencang melanda. Kerugian material akibat bencana ini ditaksir mencapai puluhan juta rupiah, meskipun tidak ada korban jiwa lain yang dilaporkan selain pengendara motor tersebut.
Advertisement
Advertisement
Di Kecamatan Durenan, angin kencang menyebabkan pohon trembesi berdiameter sekitar satu meter tumbang, menimpa sebuah truk dan sepeda motor. Seorang pengendara sepeda motor bernama Saiful Amin sempat mengalami sesak napas akibat benturan dan dirawat di Puskesmas Durenan. Selain itu, insiden pohon tumbang ini juga memutus jaringan kabel listrik di lokasi kejadian, menambah daftar kerugian infrastruktur.
Kerusakan infrastruktur telekomunikasi juga cukup signifikan, dengan dua tower roboh di lokasi berbeda. Di Kecamatan Bendungan, sebuah tower telekomunikasi setinggi sekitar 42 meter roboh dan menimpa dapur serta kandang sapi milik warga Desa Botoputih. Di wilayah yang sama, puluhan atap rumah warga di Desa Sumurup dilaporkan rusak parah akibat terpaan angin kencang.
Peristiwa serupa juga terjadi di Kecamatan Watulimo, di mana sebuah tower telekomunikasi setinggi 42 meter roboh dan menimpa dapur rumah warga Desa Dukuh. BPBD mencatat bahwa kerugian material akibat insiden di Watulimo ini ditaksir mencapai sekitar Rp10 juta. Sementara itu, di Kecamatan Gandusari, pohon tumbang menutup akses jalan raya Gandusari-Kedunglurah, mengganggu mobilitas warga.
Advertisement
Advertisement
Tragedi paling memilukan dalam peristiwa angin kencang Trenggalek ini adalah meninggalnya seorang warga. Suhadi (58) meninggal dunia setelah tertimpa dahan pohon mahoni saat melintas di wilayah Desa Sukorame. Korban sempat dilarikan ke puskesmas, namun dinyatakan meninggal dunia akibat tertimpa ranting pohon berdasarkan hasil pemeriksaan medis.
Menanggapi dampak yang meluas, tim reaksi cepat (TRC) BPBD Trenggalek segera diterjunkan ke seluruh lokasi terdampak. Tim ini bekerja sama dengan personel TNI, Polri, dan masyarakat setempat untuk melakukan penanganan darurat. Fokus utama upaya penanganan meliputi pembersihan pohon tumbang yang menghalangi jalan, pendataan kerusakan yang terjadi, serta pemulihan akses jalan agar kembali normal.
Di Kecamatan Tugu, pohon tumbang dilaporkan menimpa kabel telepon, tiang lampu jalan, serta sebuah kendaraan pikap di ruas Jalan Nasional Trenggalek-Ponorogo. Insiden ini sempat mengganggu arus lalu lintas di jalur vital tersebut. Kerja sama antara berbagai pihak diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan dan mitigasi dampak lebih lanjut dari bencana ini.
Advertisement
Advertisement
Triadi Atmono dari BPBD Trenggalek menambahkan bahwa masyarakat diimbau untuk tetap waspada mengingat saat ini masih dalam musim pancaroba. Potensi cuaca ekstrem, termasuk angin kencang yang dapat terjadi secara tiba-tiba, masih sangat tinggi. Kondisi ini memerlukan kesiapsiagaan dari seluruh elemen masyarakat untuk mencegah jatuhnya korban dan kerugian lebih lanjut.
Berdasarkan informasi dari BMKG Stasiun Meteorologi Juanda, wilayah Jawa Timur saat ini masih berpotensi mengalami cuaca ekstrem. Kondisi ini berupa angin kencang dan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Cuaca ekstrem ini dipicu oleh dinamika atmosfer pada masa peralihan musim, termasuk pengaruh siklon tropis Luwana.
BPBD Trenggalek secara khusus mengimbau warga untuk menghindari aktivitas di bawah pohon besar saat angin kencang melanda. Masyarakat juga diminta untuk segera melaporkan potensi bahaya di lingkungan sekitar kepada pihak berwenang. Langkah proaktif ini diharapkan dapat meminimalkan risiko dan dampak buruk dari cuaca ekstrem yang masih mengancam.
Advertisement
Sumber: AntaraNews