DPRD NTB Dorong Gerakan Tanam Kemiri Pulihkan Hutan Kritis Bima dan Tingkatkan Ekonomi

Anggota DPRD NTB Muhammad Aminurlah menginisiasi gerakan tanam kemiri secara berkelanjutan. Upaya ini bertujuan memulihkan hutan kritis di Bima sekaligus menumbuhkan ekonomi hijau masyarakat.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
DPRD NTB Dorong Gerakan Tanam Kemiri Pulihkan Hutan Kritis Bima dan Tingkatkan Ekonomi
Anggota DPRD NTB Muhammad Aminurlah menginisiasi gerakan tanam kemiri secara berkelanjutan. Upaya ini bertujuan memulihkan hutan kritis di Bima sekaligus menumbuhkan ekonomi hijau masyarakat. (AntaraNews)

Anggota DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Aminurlah, menggalakkan gerakan penanaman pohon kemiri. Inisiatif ini bertujuan memulihkan kondisi hutan kritis di Kabupaten Bima secara berkala dan berkelanjutan. Langkah ini dianggap sebagai keharusan untuk menjaga ekologi dan masa depan ekonomi masyarakat.

Kerusakan hutan di Bima, khususnya di kawasan pegunungan dan daerah aliran sungai (DAS), menjadi penyebab utama bencana banjir dan longsor berulang. Aminurlah menemukan pembabatan hutan masih masif di Kecamatan Wawo, Ambalawi, Parado, dan Lambitu. Kondisi ini memerlukan intervensi serius agar bencana tidak terus terjadi.

Diperkirakan sekitar 800 hektare hutan di wilayah tersebut telah mengalami kerusakan parah. Pemulihan hutan tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui strategi jangka panjang. Program ini juga melibatkan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat.

Kondisi Hutan Kritis di Bima dan Dampaknya

Hutan di Kabupaten Bima menghadapi kondisi kritis yang mengkhawatirkan. Anggota DPRD NTB, Muhammad Aminurlah, menyoroti kerusakan parah di kawasan pegunungan dan daerah aliran sungai. Pembabatan hutan yang masif menjadi pemicu utama bencana alam.

Bencana banjir dan tanah longsor telah berulang kali melanda wilayah Bima akibat kondisi hutan yang gundul. Aminurlah menyaksikan langsung pembabatan hutan yang terus meluas saat meninjau lapangan. Ini terjadi di beberapa kecamatan seperti Wawo, Ambalawi, Parado, dan Lambitu.

Kerusakan hutan diperkirakan telah mencapai sekitar 800 hektare di wilayah tersebut. Situasi ini memerlukan tindakan segera untuk mencegah dampak yang lebih buruk. Pemulihan fungsi hutan menjadi prioritas utama demi keberlangsungan lingkungan.

Gerakan Tanam Kemiri sebagai Solusi Ekologis

Muhammad Aminurlah mengusulkan gerakan tanam kemiri sebagai solusi strategis pemulihan hutan. Pohon kemiri dipilih karena memiliki kemampuan ganda dalam memperbaiki struktur tanah. Tanaman ini juga efektif menjaga keseimbangan lingkungan yang rusak.

Penanaman kemiri diharapkan dapat mengembalikan fungsi hutan yang telah gundul. Ini merupakan keharusan yang tidak bisa ditawar lagi bagi kelestarian alam Bima. Momentum musim hujan saat ini dianggap paling tepat untuk memulai penanaman.

Melalui pokok-pokok pikiran (Pokir) pribadinya, Aminurlah telah menginisiasi gerakan tanam kemiri ini. Sebanyak 19 ribu bibit pohon kemiri telah disalurkan ke Kecamatan Wawo, Parado, dan Lambitu. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi wilayah lain.

Manfaat Ekonomi dan Kesadaran Kolektif

Selain manfaat ekologis, gerakan tanam kemiri juga menjanjikan potensi ekonomi yang signifikan. Biji kemiri memiliki nilai jual tinggi dan berpotensi menjadi komoditas ekspor unggulan. Ini dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat setempat.

Aminurlah melihat gerakan tanam kemiri ini sebagai "ekonomi hijau" yang berkelanjutan. Masyarakat dapat menjaga alam sekaligus memperoleh pendapatan tambahan dari hasil panen kemiri. Program distribusi bibit kemiri secara rutin ke desa-desa rawan bencana juga diusulkan.

Harapannya, gerakan tanam kemiri ini akan menjadi simbol kebangkitan ekologi dan ekonomi masyarakat Bima. Lebih dari itu, inisiatif ini bertujuan menumbuhkan kesadaran kolektif. Tujuannya adalah untuk menjaga hutan demi generasi mendatang.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi