Menteri Haji dan Umrah Indonesia, Mochammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, berpesan agar petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026 mampu memberikan pelayanan yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Untuk itu, pemerintah menggelar pendidikan dan pelatihan (diklat) dengan durasi lebih panjang, materi lebih lengkap, serta latihan fisik yang lebih intensif.
"Latar belakang kenapa kita membentuk diklat ini karena kita pahami bahwa tahun lalu banyak keluhan dari jemaah maupun teman-teman lain, bahwa petugas haji kurang responsif, kurang profesional dan sebagainya. Hari ini kita mulai diklat 30 hari, 20 hari di sini, 10 hari online. Itu pun belum selesai dilanjutkan dengan online berikutnya terkait dalam penyiapan Bahasa Arab buat mereka," kata Irfan di Asrama Haji Jakarta, Minggu (11/1/2025).
Gus Irfan menjelaskan, selama 20 hari pelatihan tatap muka, para peserta dibina dan dididik mengenai kedisiplinan, penempaan fisik, pengetahuan seputar ibadah haji, serta berbagai hal teknis lainnya. Selain itu, sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci, para petugas sudah harus mengetahui lokasi tugas, posisi penugasan, kepala tim, serta rekan satu tim mereka.
"Jadi ketika mereka berangkat sudah paham tugasnya, sudah tahu teman-teman yang akan menjadi timnya di sana. Termasuk juga sudah memiliki bekal bisa berbahasa Arab," jelas Gus Irfan.
Advertisement
Bahasa Arab Jadi Kendala Jemaah Haji
Gus Irfan mengakui keterbatasan kemampuan bahasa Arab menjadi salah satu kendala dalam pelayanan ibadah haji pada tahun sebelumnya. Karena itu, pada penyelenggaraan haji 2026, para petugas dibekali keterampilan berbahasa Arab sebagai bagian dari materi diklat.
"Salah satu kendala kemarin adalah karena petugas haji kita kurang bahasa Arabnya, kita berikan bahasa Arab dalam proses diklat 20 hari ini ditambah online berikutnya," jelasnya.
Ia berharap seluruh PPIH 2026 dapat mendedikasikan waktu dan tenaga secara maksimal demi kelancaran ibadah para jemaah haji dengan mengedepankan kedisiplinan dan ketahanan fisik.
"Kita berharap kedisiplinan, ketahanan fisik dari peserta emang diperlukan. Tanpa fisik yang kuat, tanpa disiplin yang kuat mereka nggak akan bisa menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya," harap Gus Irfan.
Advertisement
Wanti-Wanti Jaga Disiplin
Di akhir pesannya, Gus Irfan mewanti-wanti para peserta diklat untuk tetap menjaga disiplin, baik selama pelatihan maupun saat bertugas di Tanah Suci. Ia menegaskan, pelanggaran disiplin bisa berujung pada pemulangan atau pembatalan keberangkatan.
"Pertama tentu diperingatkan dulu, bahkan di sini pun didiklat ini alam dikembalikan jika 1-2 kali peringatan (tetap melanggar), kita pulangkan, nggak jadi berangkat. Di Saudi pun juga sama, sekali-dua kali diperingatkan nggak bisa kita pulangkan sebelum waktunya," pungkas Gus Irfan.