Cakupan Imunisasi Nasional Kemenkes Capai 66,2 Persen per Desember 2025, Target Kekebalan Komunitas Diperkuat

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan **cakupan imunisasi nasional** 14 antigen mencapai 66,2 persen per Desember 2025, menyoroti urgensi percepatan untuk melindungi anak Indonesia dari Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I).

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Cakupan Imunisasi Nasional Kemenkes Capai 66,2 Persen per Desember 2025, Target Kekebalan Komunitas Diperkuat
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan **cakupan imunisasi nasional** 14 antigen mencapai 66,2 persen per Desember 2025, menyoroti urgensi percepatan untuk melindungi anak Indonesia dari Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I). (AntaraNews)

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa cakupan imunisasi bayi lengkap secara nasional telah mencapai 68,6 persen hingga pertengahan Desember 2025. Angka ini menjadi sorotan utama dalam upaya pemerintah melindungi generasi penerus bangsa dari berbagai penyakit menular yang berbahaya.

Sementara itu, cakupan imunisasi lengkap untuk 14 antigen spesifik tercatat sebesar 66,2 persen pada periode yang sama. Data ini disampaikan oleh Direktur Imunisasi Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Indri Yogyaswari, di Jakarta pada hari Sabtu.

Pencapaian ini mengindikasikan adanya kebutuhan mendesak untuk mempercepat dan memeratakan layanan imunisasi di seluruh wilayah Indonesia. Pemerintah terus berkomitmen memperkuat Program Imunisasi Nasional guna mencegah Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) serta menekan risiko kejadian luar biasa (KLB) di masa mendatang.

Pentingnya Imunisasi dan Capaian Indonesia

Dr. Indri Yogyaswari menegaskan bahwa imunisasi merupakan hak fundamental bagi setiap anak yang wajib dipenuhi. Imunisasi tidak hanya memberikan perlindungan individual dari penyakit berbahaya, tetapi juga berperan krusial dalam menjaga kesehatan masyarakat luas dengan mencegah penularan penyakit menular.

Indonesia memiliki sejarah panjang dan membanggakan dalam program imunisasi, yang telah berjalan lebih dari lima dekade. Berbagai capaian signifikan telah ditorehkan, termasuk keberhasilan eradikasi cacar, sertifikasi bebas virus polio liar, dan eliminasi tetanus maternal neonatal.

Saat ini, Program Imunisasi Nasional telah mencakup 14 jenis antigen yang berbeda, menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperluas cakupan perlindungan. Introduksi vaksin seperti PCV, Rotavirus, HPV, hingga vaksin kombinasi heksavalen di beberapa provinsi menjadi bukti nyata inovasi dalam program ini.

Mekanisme Kerja Imunisasi dan Keamanan Vaksin

Prof. Sri Rezeki Hadinegoro, selaku Ketua Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), menjelaskan secara rinci bagaimana imunisasi bekerja dalam tubuh. Imunisasi berfungsi melatih sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibodi dan sel memori sejak dini, mempersiapkan tubuh melawan patogen.

Menurut Prof. Sri, apabila imunisasi diberikan sesuai jadwal, tubuh akan mengembangkan sel memori yang siap sedia melawan virus atau bakteri penyebab penyakit. Dengan demikian, anak-anak dapat terhindar dari infeksi berat, dan risiko penularan penyakit kepada orang lain pun dapat dicegah secara efektif.

Prof. Sri Rezeki juga menepis kekhawatiran mengenai keamanan pemberian berbagai vaksin pada bayi. Beliau menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan vaksin menyebabkan sistem imun bayi mengalami kelebihan beban atau "overload". Sejak lahir, bayi secara alami sudah terpapar ribuan antigen dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Target dan Strategi Penguatan Program Imunisasi

Kekebalan kelompok, atau herd immunity, ditekankan oleh Prof. Sri Rezeki sebagai kunci utama dalam pencegahan wabah PD3I. Penyakit dengan tingkat penularan yang tinggi memerlukan cakupan imunisasi yang luas dan merata untuk menciptakan perlindungan komunitas yang optimal.

Sejalan dengan tujuan tersebut, Kemenkes terus memperkuat berbagai aspek pendukung Program Imunisasi Nasional. Ini meliputi penyediaan vaksin dan logistik imunisasi yang memadai, penguatan rantai dingin untuk menjaga kualitas vaksin, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader di lapangan.

Selain itu, pengembangan sistem pencatatan elektronik dan kolaborasi lintas sektor juga menjadi prioritas. Kemenkes bekerja sama dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, organisasi profesi, dan media untuk memastikan pesan penting imunisasi tersampaikan luas.

Pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk **cakupan imunisasi nasional** bayi lengkap, yaitu mencapai 80 persen pada tahun 2025 dan meningkat menjadi 85 persen pada tahun 2026. Target ini bertujuan memperkuat kekebalan komunitas dan melindungi anak-anak Indonesia dari ancaman PD3I. Prof. Sri Rezeki mengajak seluruh orang tua dan masyarakat untuk berperan aktif mendukung imunisasi, karena tindakan ini tidak hanya melindungi anak sendiri tetapi juga anak-anak lain yang belum atau tidak dapat diimunisasi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi