Menhir Desa Lawang Agung Rejang Lebong: Saksi Bisu Peradaban Kuno yang Menarik Peneliti

Empat menhir prasejarah di Desa Lawang Agung Rejang Lebong menjadi daya tarik peneliti untuk mengungkap peradaban masa lampau, dengan harapan menjadi desa budaya.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Menhir Desa Lawang Agung Rejang Lebong: Saksi Bisu Peradaban Kuno yang Menarik Peneliti
Empat menhir prasejarah di Desa Lawang Agung Rejang Lebong menjadi daya tarik peneliti untuk mengungkap peradaban masa lampau, dengan harapan menjadi desa budaya. (AntaraNews)

Desa Lawang Agung di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, kini menjadi sorotan para peneliti sejarah dan arkeologi. Keberadaan empat menhir atau batu besar berbentuk tiang peninggalan zaman prasejarah telah menarik banyak perhatian. Sejak beberapa tahun belakangan, banyak ahli datang ke wilayah ini untuk menyingkap tabir peradaban masa lampau yang tersembunyi di kaki Bukit Balai Rejang.

Kepala Desa Lawang Agung, Adi Bing Slamet, menjelaskan bahwa desanya terletak di kawasan hutan lindung gugusan Bukit Barisan, yang tidak hanya kaya akan keindahan alam tetapi juga menyimpan warisan bersejarah. Empat menhir yang ada di desa ini masih berstatus Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB). Status ini mengindikasikan potensi besar situs tersebut untuk menjadi cagar budaya resmi.

Antusiasme peneliti menunjukkan pentingnya situs-situs ini dalam memahami sejarah dan budaya nenek moyang. Kehadiran menhir-menhir ini menjadi bukti nyata adanya peradaban kuno di wilayah Rejang Lebong. Upaya pelestarian dan penelitian terus dilakukan demi menjaga warisan berharga ini untuk generasi mendatang.

Keunikan Menhir di Kaki Bukit Balai Rejang

Empat menhir yang ditemukan di Desa Lawang Agung memiliki nama dan karakteristik uniknya masing-masing. Adi Bing Slamet menyebutkan bahwa menhir-menhir tersebut meliputi Situs Rimba, Kuto Giri, Tetralith, dan Dolmen atau meja batu. Keempat situs ini tersebar di dalam areal perkebunan kopi milik warga, menunjukkan integrasi peninggalan sejarah dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Untuk mencapai lokasi menhir, pengunjung harus berjalan kaki sekitar 30 menit dari pusat Desa Lawang Agung. Peninggalan yang paling jauh adalah dolmen atau meja batu, yang lokasinya bahkan sudah berbatasan langsung dengan Desa Lubuk Alai. Keberadaan menhir-menhir ini telah dijaga dengan baik oleh masyarakat setempat secara turun-temurun, sebagai warisan dari nenek moyang mereka.

Masyarakat dan pemerintah desa memiliki harapan besar agar status keempat menhir ini dapat ditingkatkan menjadi cagar budaya. Peningkatan status ini diharapkan dapat menjadikan Desa Lawang Agung sebagai desa budaya di Kabupaten Rejang Lebong. Hal ini tidak hanya akan melestarikan situs, tetapi juga berpotensi meningkatkan pariwisata dan ekonomi lokal.

Upaya Pelestarian dan Pengenalan Menhir Lawang Agung

Tokoh masyarakat Desa Lawang Agung, Juhadi (55), telah aktif mengenalkan keberadaan menhir di desanya kepada khalayak luas sejak tahun 2020. Upaya ini dilakukan melalui berbagai media, termasuk media sosial, serta wawancara dengan kalangan akademisi dan peneliti. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya situs prasejarah ini.

Juhadi juga berperan penting dalam menjelaskan makna filosofis yang terkandung dalam menhir-menhir tersebut. Penjelasannya memberikan konteks budaya dan sejarah yang lebih dalam bagi para peneliti dan pengunjung. Dengan demikian, situs-situs ini tidak hanya dilihat sebagai batu kuno, tetapi sebagai jendela menuju pemahaman peradaban masa lalu.

Melalui promosi dan edukasi yang dilakukan, diharapkan lebih banyak pihak yang tertarik untuk mendukung pelestarian menhir-menhir ini. Kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan akademisi sangat dibutuhkan. Langkah-langkah konkret untuk mendapatkan status cagar budaya akan memastikan perlindungan jangka panjang bagi warisan berharga ini.

Makna Filosofis Menhir Situs Rimba

Salah satu menhir yang paling menarik perhatian adalah Situs Rimba, yang menyimpan simbol-simbol filosofis mendalam. Juhadi menjelaskan bahwa di Situs Rimba terdapat simbol mandala mandulika atau berumbung matahari. Simbol ini, menurutnya, juga dijumpai di Kerajaan Kolana Landak, Sriwijaya, dan Majapahit. "Di Situs Rimba itu ada simbol mandala mandulika atau berumbung matahari, itu dijumpai di Kerajaan Kolana Landak, Sriwijaya dan Majapahit. Karena di sini masuk dalam Sumbagsel maka dikaitkan Kerajaan Sriwijaya," kata Juhadi.

Lebih lanjut, Juhadi menguraikan bahwa simbol mandala mandulika di sebelah utara Situs Rimba merepresentasikan batang tubuh filosofi dan spiritual masyarakat Lembak. Suku Lembak yang mendiami Rejang Lebong memiliki ajaran yang menekankan keseimbangan antara lahir dan batin. Hal ini menunjukkan kekayaan nilai-nilai lokal yang terkandung dalam peninggalan prasejarah ini.

Situs Rimba juga menampilkan simbol "orang duduk di atas kuda", yang menurut Juhadi, sebenarnya adalah "berdiri di atas kuda". Ia menafsirkan bahwa kuda sebagai hewan patuh melambangkan kepatuhan, sehingga "berdiri di atas kepatuhan" berarti mencapai moksa. Penafsiran ini menambah dimensi spiritual dan kebijaksanaan lokal yang melekat pada menhir-menhir di Desa Lawang Agung.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi