Kementerian Kesehatan (Kemenkes) secara aktif menyiapkan rekomendasi aktivitas fisik yang disesuaikan dengan kelompok usia masyarakat. Inisiatif ini merupakan bagian integral dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang gencar dilaksanakan. Langkah strategis ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya gaya hidup sehat.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, mengungkapkan rencana ini dalam Indonesia Sports Summit 2025 di Jakarta. Beliau menyoroti data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) yang mencatat lebih dari sepertiga penduduk usia 10 tahun ke atas kurang aktif. Data ini menjadi pendorong utama bagi Kemenkes untuk bertindak.
Program rekomendasi ini dirancang untuk memberikan "resep" aktivitas fisik yang personal kepada individu yang terdeteksi kurang bergerak. Maria menekankan bahwa pendekatan ini sejalan dengan perubahan paradigma kesehatan yang bergeser ke arah preventif. Kemenkes berupaya mengubah kebiasaan masyarakat agar lebih proaktif menjaga kesehatan.
Advertisement
Advertisement
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) menjadi sorotan utama Kemenkes dalam merumuskan Rekomendasi Aktivitas Fisik Kemenkes. Survei tersebut menunjukkan bahwa 37,4 persen penduduk berusia 10 tahun ke atas tidak memenuhi standar aktivitas fisik yang memadai. Angka ini mencerminkan tantangan serius dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat secara nasional. Kemenkes bertekad untuk mengubah tren ini melalui intervensi yang terarah.
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) berperan penting sebagai pintu gerbang identifikasi masalah kurangnya aktivitas fisik. Maria Endang Sumiwi menjelaskan, "Kita sering ketemu dari CKG ini masalah besarnya aktivitas kurang, kan seharusnya kita prescription (resep) itu enggak hanya meresepkan obat ya." Oleh karena itu, Kemenkes sedang menyiapkan panduan aktivitas fisik yang spesifik. Panduan ini akan diberikan kepada individu yang teridentifikasi kurang aktif selama pemeriksaan CKG.
Rekomendasi aktivitas fisik ini akan disesuaikan dengan usia dan kondisi fisik masing-masing individu. Misalnya, Kemenkes dapat menyarankan jalan cepat selama 30 menit setiap pagi bagi kelompok usia tertentu. Inisiatif ini akan diimplementasikan oleh 10.300 puskesmas di seluruh Indonesia yang menjadi pelaksana CKG. Hal ini memastikan jangkauan program yang luas dan merata.
Advertisement
Sebagai langkah lanjutan, Kemenkes berencana memperluas jangkauan CKG ke klinik-klinik pratama mulai tahun depan. Perluasan ini merupakan bagian dari perubahan paradigma kesehatan yang lebih fokus pada pencegahan penyakit. Tujuannya adalah untuk mendorong masyarakat agar tidak menunggu sakit, melainkan aktif menjaga kebugaran tubuh. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kesehatan secara signifikan.
Advertisement
Perubahan paradigma dalam dunia kesehatan menjadi inti dari strategi Kemenkes saat ini. Kemenkes tidak lagi hanya berfokus pada penanganan kuratif, melainkan lebih menekankan pada upaya preventif dan promotif. Maria Endang Sumiwi menegaskan, "Kita sebetulnya di kesehatan ini sedang mengubah paradigma dengan CKG." Program CKG menjadi ujung tombak dalam implementasi paradigma baru ini.
Melalui program ini, Kemenkes ingin mengubah pola pikir masyarakat dari "menunggu sakit" menjadi "jangan sampai sakit". Tujuannya adalah agar masyarakat dapat hidup sehat, bugar, dan produktif secara maksimal. Inisiatif ini juga selaras dengan program hasil terbaik cepat Presiden yang mengedepankan efektivitas dan dampak langsung. Rekomendasi Aktivitas Fisik Kemenkes menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan visi ini.
Untuk mengukur tingkat kebugaran seseorang, Kemenkes mengidentifikasi lima indikator utama. Indikator tersebut meliputi komposisi tubuh, daya tahan jantung dan paru, kekuatan otot, fleksibilitas, serta daya tahan otot. Setiap indikator memiliki standar pengukuran yang jelas. Dengan demikian, individu dapat mengetahui kondisi kebugaran mereka secara objektif dan akurat. Pemahaman ini penting untuk menentukan jenis aktivitas fisik yang tepat.
Advertisement
Maria Endang Sumiwi juga menjelaskan perbedaan antara sehat dan bugar. "Sehat itu belum tentu bugar, sehat itu terbebas dari segala macam penyakit ya," ujarnya. Kebugaran, di sisi lain, ditandai dengan kemampuan tubuh melakukan aktivitas tanpa kelelahan berlebihan, seperti tidak "ngos-ngosan" saat naik turun tangga. Pemahaman ini mendorong masyarakat untuk tidak hanya bebas penyakit, tetapi juga memiliki kapasitas fisik yang optimal melalui Rekomendasi Aktivitas Fisik Kemenkes.
Sumber: AntaraNews