Hujan kembali mengguyur sejumlah daerah di Kabupaten Bandung pada Jumat (5/12) sore. Kampung Bojong Asih, Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah.
Air limpahan dari sungai Citarum yang meluap merendam area permukiman, menghambat mobilitas, membuat denyut aktivitas warga nyaris lumpuh.
Pantauan, sekitar pukul 15.00 WIB tinggi air lebih dari lutut orang dewasa bahkan disebut hingga 1,5 meter saat memasuki gang-gang di kawasan tersebut. Genangan air masuk ke dalam rumah, dan beberapa unit kendaraan roda dua terendam.
Aning (58), warga asli Bojong Asih, mengatakan, ketinggian air di Kampung Bojong Asih terus mengalami kenaikan sejak diguyur hujan kemarin Kamis (4/12), ditambah hari ini.
"Dari kemarin sudah segini, naik terus dari kemarin," katanya saat dijumpai dijumpai di depot yang ia jaga.
Ia sendiri mengaku telah tak asing dengan kondisi tersebut. Jika sudah terjadi banjir, hal yang paling terdampak adalah aktivitas keseharian warga. Mereka, kesulitan untuk berangkat kerja, bersekolah, hingga untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
Ia yang sehari-hari mencari nafkah dari menjaga depot galon pun menyebut, pelanggan yang datang sudah pasti sepi meski air minum menjadi salah satu kebutuhan pokok.
"Iya, mereka juga susah. Yang beli paling satu dua aja. Kedua kalau kayak gini banjir udah ada yang ngungsi juga ke desa atau ke rumah saudara mereka," kata dia.
Aning yang lahir di kampung Bojong Asih, rupanya punya memori gelap tentang fenomena siklus banjir di daerahnya yang, menurut dia, sudah terjadi sejak tahun sekitar 20 tahun lalu.
Banjir lebih besar, kata dia, kadang terjadi saban 5 tahun sekali, seperti yang ia alami pada tahun 2020. Kala itu tinggi air hingga bisa menyentuh leher orang dewasa.
"Dalam rumah bahkan lebih dari dada. Di jalan sudah laput. Kalau udah gitu, udah aja enggak bisa ke mana-mana, di atas (lantai 2) saja diem," kata Aning.
"Kalau yang rumahnya enggak ada loteng, ya paling biasanya menungsi ke kantor desa atau ke sodaranya," jelas dia.
Ia tak memungkiri kalau upaya pemerintah untuk memperbaiki kondisi tersebut telah ada, seperti membuat kolam retensi dan lainnya, kendati belum signifikan terasa baginya. Oleh karena itu, ia pun berharap apa perhatian lebih dari pemerintah setempat dalam mengintervensi masalah tersebut.
Advertisement
Khawatir Banjir Besar 5 Tahunan
Jangan sampai, kata dia, memori buruk pada 5 tahun lalu kembali terulang di tahun sekarang.
"Lima tahun sekali suka (banjir lebih besar). Semoga enggak. Tahun ini mah jangan sampai. Tahun 2005, 2010, 2015, 2020, nah ini 2025 yang ditakutkan teh itu," imbuh Aning. Tertangkap nada was-was dalam suaranya.
Advertisement
8 Kecematan Banjir
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mendata sebanyak 14 desa di 8 Kecamatan yang terdampak banjir di wilayah Kabupaten Bandung. 8 Kecamatan tersebut antara lain Dayeuhkolot, Bojongsoang, Baleendah, Soreang, Banjaran, Ciwidey, Margaasih, dan Katapang.
Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat menyampaikan akibatnya ada 2.129 bangunan terendam, dengan 10 di antaranya mengalami rusak ringan. Di sisi lain, ada sebanyak 2.115 Kepala Keluarga (KK), dengan 3.165 terdampak.
Advertisement
Koordinasi dengan BPBD Kabupaten Bandung
Ia mengatakan saat ini pihaknya telah berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Bandung, aparatur desa, kecamatan, serta relawan di lapangan untuk pemantauan dan pendataan, serta penyaluran logistik mendesak di sejumlah wilayah terdampak.