Di tengah upaya memperkuat persatuan, dua Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Ambon, yakni SMA Kristen Rehoboth dan SMA Al-Hilal Ambon, berinisiatif mengembangkan sistem Sekolah Pela Gandong. Program inovatif ini bertujuan untuk memupuk kembali toleransi serta membangun hubungan lintas iman yang harmonis di kalangan siswa. Inisiatif ini muncul sebagai respons terhadap trauma konflik Ambon 1999 yang sempat merenggangkan ikatan persaudaraan.
Kepala SMA Kristen Rehoboth Ambon, Salomina Patty, menyatakan bahwa program ini merupakan praktik pendidikan perdamaian berbasis kearifan lokal Maluku. Sistem Pela Gandong yang dihidupkan kembali ini berakar pada nilai persaudaraan sedarah (gandong) dan ikatan antar-negeri (pela) yang telah menjadi dasar hidup harmonis masyarakat Maluku selama berabad-abad. Melalui pendekatan ini, sekolah diharapkan menjadi ruang pemulihan bagi generasi muda.
Langkah strategis ini diumumkan pada 30 November di Ambon, menunjukkan komitmen kedua institusi pendidikan untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. Dengan melibatkan siswa dari latar belakang berbeda, program ini diharapkan dapat menumbuhkan kembali rasa saling percaya dan menghargai. Ini adalah upaya nyata untuk merajut kembali benang-benang persaudaraan yang sempat terputus.
Advertisement
Advertisement
Mengukuhkan Kembali Nilai Pela Gandong di Ambon
Konsep Pela Gandong merupakan kearifan lokal Maluku yang telah lama menjadi fondasi persatuan masyarakatnya. Nilai persaudaraan sedarah, atau gandong, serta ikatan antar-negeri yang dikenal sebagai pela, dulunya menyatukan Muslim dan Kristen. Namun, konflik pada 19 Januari 1999 meninggalkan luka mendalam dan meretakkan hubungan harmonis tersebut.
Salomina Patty, Kepala SMA Kristen Rehoboth Ambon, menegaskan pentingnya peran sekolah dalam proses pemulihan ini. Beliau melihat program Sekolah Pela Gandong sebagai jembatan untuk membangun kembali jalinan persaudaraan yang sempat terputus. Inisiatif ini menunjukkan bahwa pendidikan memiliki kekuatan besar untuk menyembuhkan trauma masa lalu.
Melalui program ini, diharapkan generasi muda dapat memahami dan menghargai kembali akar budaya mereka. Mereka diajak untuk merasakan langsung nilai-nilai kebersamaan dan toleransi yang terkandung dalam Pela Gandong. Ini adalah langkah proaktif dalam menciptakan masyarakat yang lebih damai dan saling menghormati.
Advertisement
Advertisement
Tiga Pendekatan Utama dalam Program Sekolah Gandong
Program Sekolah Gandong dirancang dengan cermat melalui tiga pendekatan utama yang berfokus pada interaksi dan kolaborasi antar siswa. Pendekatan pertama adalah belajar lintas sekolah, di mana siswa dari SMA Kristen Rehoboth dan SMA Al-Hilal Ambon mengikuti kegiatan pembelajaran bersama. Ini mencakup kelas kolaboratif serta proyek sosial yang dikerjakan secara berkelompok.
Pendekatan kedua melibatkan interaksi budaya dan dialog yang rutin dilakukan. Siswa berpartisipasi dalam praktik seni bersama, seperti menari dan bernyanyi, yang memperkuat rasa kebersamaan. Selain itu, kegiatan “makan gandong” juga menjadi simbol persaudaraan yang erat, menciptakan momen keakraban antar siswa.
Terakhir, program ini juga mencakup pertukaran guru antara kedua sekolah. Melalui inisiatif ini, tenaga pendidik dapat saling berbagi pengalaman dan pengetahuan, memperkuat kolaborasi akademik. Pertukaran guru juga berperan penting dalam meningkatkan pemahaman lintas agama di kalangan pengajar, yang kemudian akan ditularkan kepada siswa.
Advertisement
Kepala SMA Al-Hilal Ambon, Jaleha, menambahkan bahwa kerja sama ini melibatkan proses panjang dan dukungan dari orang tua. Keterlibatan orang tua sangat penting untuk menumbuhkan kepercayaan dan memastikan keberlanjutan program. Ini menunjukkan komitmen menyeluruh dari komunitas sekolah.
Advertisement
Dampak Positif dan Peran Literasi Keagamaan Lintas Budaya
Program Sekolah Pela Gandong telah menunjukkan dampak nyata yang sangat positif bagi peserta didik. Siswa mulai membuka diri dan merasakan memiliki “saudara gandong” di sekolah lain, menumbuhkan rasa kekeluargaan yang kuat. Keberanian untuk berinteraksi lintas agama juga semakin tumbuh, menghilangkan sekat-sekat yang mungkin ada sebelumnya.
Salah satu simbol kedekatan yang muncul adalah kebiasaan saling menyapa dengan “halo gandong”, yang mencerminkan ikatan persaudaraan yang erat. Kegiatan seni bersama juga turut memperkuat rasa kebersamaan di antara mereka. Kolaborasi antara guru dan siswa menciptakan ruang belajar yang aman dan inklusif bagi semua.
Program Sekolah Gandong sendiri merupakan bagian integral dari Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang digagas oleh Institut Leimena. LKLB berperan sebagai fondasi utama dalam memperkuat nilai toleransi melalui pendekatan edukasi yang inklusif. Ini membekali guru dengan pemahaman mendalam tentang lintas agama dan budaya.
Advertisement
Melalui LKLB, para pendidik mendapatkan pelatihan, modul pembelajaran, serta kesempatan kunjungan antarrumah ibadah. Program ini menjadi ruang perjumpaan yang aman bagi guru untuk mempelajari keberagaman secara langsung, membangun empati, dan mengembangkan keterampilan dialog. Ini memastikan bahwa nilai-nilai toleransi diajarkan secara komprehensif.
Sumber: AntaraNews