Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Sumatera Utara (Sumut) mencatat setidaknya 453 jiwa terpaksa mengungsi akibat bencana banjir yang melanda Kabupaten Asahan. Peristiwa ini terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada Kamis (27/1), menyebabkan tujuh kecamatan terdampak serius.
Data sementara yang diterima di Medan pada Sabtu menunjukkan bahwa banjir ini menimbulkan kerugian signifikan bagi masyarakat setempat. Berbagai upaya penanganan darurat telah dan sedang dilakukan oleh pihak terkait untuk membantu para korban serta memitigasi dampak lebih lanjut dari bencana alam ini.
Banjir di Asahan ini juga disebut berkaitan dengan fenomena cuaca ekstrem yang melanda Sumatera Utara belakangan ini. Meskipun demikian, laporan terkini menyebutkan bahwa kondisi air di beberapa kecamatan terdampak sudah mulai menunjukkan tanda-tanda surut, memberikan sedikit harapan bagi warga yang mengungsi.
Advertisement
Advertisement
Banjir yang melanda Kabupaten Asahan telah berdampak pada tujuh kecamatan, yaitu Sei Dadap, Rawang Pancar Arga, Air Joman, Kota Kisaran Timur, Kota Kisaran Barat, Setia Janji, dan Tinggi Raja. Sebaran dampak ini menunjukkan luasnya wilayah yang terpengaruh oleh intensitas hujan tinggi.
Kecamatan Kota Kisaran Timur menjadi wilayah dengan jumlah masyarakat terdampak paling banyak, mencapai 1.368 jiwa dari 456 kepala keluarga. Sementara itu, Kecamatan Rawang Pancar Arga mencatat 140 kepala keluarga terdampak, dan Kecamatan Sei Dadap memiliki 47 kepala keluarga dengan 147 jiwa yang harus mengungsi.
Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, menegaskan bahwa laporan tersebut merupakan data sementara. Angka-angka ini dapat terus berkembang seiring dengan pendataan lebih lanjut di lapangan.
Advertisement
Advertisement
Berbagai langkah penanganan atas kejadian bencana banjir ini telah diimplementasikan oleh pemerintah daerah bersama sejumlah pemangku kebijakan terkait. Kolaborasi ini bertujuan untuk memastikan bantuan dan penanganan darurat dapat tersalurkan secara efektif kepada para korban.
Yuyun, sapaan akrab Sri Wahyuni Pancasilawati, menyampaikan perkembangan positif dari lokasi bencana. "Berdasarkan laporan, kondisi terkini, air di beberapa kecamatan sudah mulai surut," ujarnya, memberikan informasi mengenai perbaikan situasi di lapangan.
Meskipun air mulai surut, tim gabungan terus memantau kondisi dan mempersiapkan langkah-langkah pemulihan pascabencana. Prioritas utama adalah memastikan keselamatan dan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi selama masa tanggap darurat.
Advertisement
Advertisement
Banjir di Asahan dan cuaca ekstrem yang melanda Sumatera Utara dalam beberapa hari terakhir dijelaskan oleh Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I, Hendro Nugroho. Menurutnya, kondisi ini merupakan dampak dari Siklon Tropis Senyar.
Siklon Tropis Senyar, yang sebelumnya dikenal sebagai Bibit Siklon Tropis 95B, mulai berkembang sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh, Selat Malaka. Fenomena ini secara signifikan memengaruhi pola cuaca di wilayah Sumatera Utara.
Dampak dari Siklon Tropis Senyar telah menyebabkan peningkatan intensitas hujan, memicu potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga ekstrem, gelombang tinggi, serta angin kencang di seluruh wilayah Sumatera Utara. Ditambah lagi, kelembapan udara yang sangat tinggi turut mendukung potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat.
Advertisement
Sumber: AntaraNews