Perguruan Tinggi Vokasi Kunci Utama Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

Kementerian Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi menekankan peran krusial Perguruan Tinggi Vokasi dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui inovasi dan hilirisasi riset yang relevan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Perguruan Tinggi Vokasi Kunci Utama Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyoroti pentingnya **peran vokasi ketahanan pangan** melalui inovasi dan kolaborasi, menghadapi tantangan regenerasi petani dan digitalisasi pertanian di Indonesia. (AntaraNews)

Kementerian Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi (Dikti) menyoroti peran penting institusi pendidikan tinggi vokasi dalam mengatasi berbagai tantangan sosial, termasuk upaya penguatan ketahanan pangan nasional. Sektor pangan menjadi prioritas utama mengingat kebutuhan dasar masyarakat yang terus meningkat.

Menteri Dikti, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan pentingnya hilirisasi riset dan skema matching fund antara universitas dengan industri regional. Hal ini memastikan bahwa hasil penelitian tidak hanya berhenti pada publikasi, tetapi juga bertransformasi menjadi solusi praktis yang dapat diterapkan di lapangan.

Pemerintah mengajak seluruh perguruan tinggi untuk memperkuat riset berbasis kebutuhan lokal dan memperluas kemitraan dengan pemerintah daerah, dunia usaha, serta masyarakat. Melalui kolaborasi ini, diharapkan desa-desa tidak hanya menjadi pusat produksi, tetapi juga sumber inovasi untuk masa depan yang berkelanjutan.

Menteri Brian Yuliarto secara spesifik menekankan bahwa Perguruan Tinggi Vokasi memiliki potensi besar untuk menjadi garda terdepan dalam inovasi pertanian. Riset yang dilakukan harus mampu menjawab permasalahan riil yang dihadapi petani dan industri pangan di Indonesia.

“Kementerian mengundang semua universitas untuk memperkuat riset berbasis kebutuhan lokal dan memperluas kemitraan dengan pemerintah daerah, bisnis, dan masyarakat. Melalui kolaborasi dan teknologi yang tepat, desa-desa tidak hanya akan menjadi pusat produksi tetapi juga sumber inovasi untuk masa depan yang berkelanjutan,” kata Brian dalam sebuah pernyataan yang diterima di Jakarta pada Minggu (09/11).

Senada dengan pandangan tersebut, Wakil Menteri Dikti, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi, Fauzan, menyatakan bahwa ketahanan pangan tidak hanya tentang kapasitas produksi. Lebih dari itu, ketahanan pangan juga berkaitan dengan kemampuan berinovasi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim serta pasar.

Fauzan menambahkan bahwa kolaborasi antara universitas, industri, dan masyarakat adalah kunci utama untuk menjaga ketahanan pangan bangsa. Sinergi ini akan menciptakan ekosistem inovasi yang kuat, memungkinkan penerapan teknologi tepat guna secara lebih luas.

Salah satu inisiatif yang didukung oleh Kementerian adalah Konsorsium Perguruan Tinggi Vokasi (PTV) Jawa Tengah. Konsorsium ini telah menyelenggarakan Festival Panen Berdikari Jawa Tengah 2025 dengan tema “Innovation Stage: Appropriate Technology and Multi-Stakeholder Synergy for a Sustainable Future,” yang diadakan di Semarang pada Kamis (6/11).

Ketua Konsorsium PTV Jawa Tengah, Kurnianingsih, menjelaskan bahwa melalui acara tersebut, konsorsium berupaya memperkuat ekosistem kemitraan dan mempromosikan inovasi berdasarkan potensi regional. Inisiatif ini telah menghasilkan produk riset hilir yang telah diadopsi oleh berbagai industri dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Universitas vokasi memainkan peran penting dalam memastikan bahwa inovasi teknologi yang tepat dapat segera diterapkan. Kami tidak hanya melakukan penelitian tetapi juga membantu desa-desa dalam mengimplementasikan dan mengembangkan inovasi-inovasi ini secara mandiri,” ujarnya.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah menunjukkan beberapa tantangan signifikan dalam sektor pertanian. Pada tahun 2023, sebanyak 42,01 persen petani di provinsi tersebut berusia 43 tahun atau lebih, sementara petani milenial hanya 18,78 persen dan petani Generasi Z hanya 0,96 persen.

Laporan BPS juga mengungkapkan bahwa penggunaan teknologi digital di sektor pertanian masih di bawah 20 persen dari total usaha pertanian. Ini menunjukkan adanya kesenjangan yang perlu diatasi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Selain itu, jumlah usaha pertanian di Jawa Tengah pada tahun 2023 mencapai 4.366.317 unit, mengalami penurunan 13,21 persen dibandingkan satu dekade sebelumnya yang mencapai 5.031.033 unit. Populasi petani yang menua, kapasitas teknologi yang terbatas, dan penurunan jumlah usaha pertanian menjadi tantangan besar dalam regenerasi serta transformasi sistem produksi agar lebih efisien dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi