Akademisi Ungkap Tiga Fase Adaptasi Budaya Yogyakarta bagi Pendatang

Dosen Psikologi Universitas Aisyiyah Yogyakarta membeberkan tiga fase Adaptasi Budaya Yogyakarta yang dialami pendatang, mulai dari euforia hingga penerimaan penuh.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Akademisi Ungkap Tiga Fase Adaptasi Budaya Yogyakarta bagi Pendatang
Dosen Psikologi Universitas Aisyiyah Yogyakarta membeberkan tiga fase Adaptasi Budaya Yogyakarta yang dialami pendatang, mulai dari euforia hingga penerimaan penuh. (AntaraNews)

Dosen Psikologi Universitas Aisyiyah Yogyakarta, Ratna Yunita Setiyani, mengungkapkan bahwa para pendatang di Kota Yogyakarta umumnya melewati tiga fase penting dalam proses adaptasi budaya. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah talkshow yang diadakan di Teras Malioboro Beskalan, Yogyakarta, baru-baru ini.

Fase-fase ini, yang dikenal sebagai culture shock, dialami sebelum mereka benar-benar merasa nyaman dengan lingkungan baru. Setiap individu akan menjalani tahapan ini dengan durasi yang bervariasi, tergantung pada latar belakang dan pengalaman personal mereka.

Pemahaman mengenai tahapan ini diharapkan dapat membantu pendatang mempersiapkan diri. Ini juga membantu mereka menghadapi tantangan serta memaksimalkan pengalaman selama tinggal di kota pelajar tersebut.

Fase Honeymoon: Euforia Awal dan Rindu Rumah

Ratna Yunita Setiyani menjelaskan bahwa fase pertama adalah "honeymoon," di mana pendatang merasakan kegembiraan luar biasa. Mereka sangat senang karena impian untuk menempuh pendidikan di Yogyakarta akhirnya terwujud.

Namun, euforia ini biasanya hanya berlangsung singkat, sekitar dua hingga tiga minggu saja. "Fase honeymoon itu paling bertahan dua minggu," kata Ratna.

Pada masa ini, media sosial sering menjadi sarana untuk menunjukkan kebanggaan dengan mengunggah foto berlatar kampus. Setelah periode awal ini, perasaan rindu rumah atau homesick mulai muncul.

Fase Krisis: Realitas yang Tak Sesuai Ekspektasi

Setelah fase euforia, pendatang akan memasuki fase kedua yang disebut "krisis." Di tahap ini, kekecewaan mulai terasa karena realitas di lapangan seringkali tidak sesuai dengan ekspektasi awal mereka.

Berbagai perbedaan mulai dari makanan, harga kebutuhan, hingga cara bersosialisasi menjadi pemicu ketidaknyamanan. "Di fase ini, mereka yang disebut anak rantau harus kuat," tegas Ratna.

Contoh nyata adalah perbedaan cita rasa makanan; pendatang dari Sumatera yang terbiasa pedas akan menemukan masakan Yogyakarta cenderung manis. "Kalau anak Sumatera terbiasa dengan makanan pedas yang 'nyos', di Jogja semuanya manis, bahkan sambalnya pun manis," ujarnya.

Perbedaan budaya komunikasi juga menjadi kendala signifikan dalam proses adaptasi budaya Yogyakarta. Gaya bicara langsung dari masyarakat Sumatera berbanding terbalik dengan gaya komunikasi halus dan tidak langsung khas masyarakat Jawa.

Fase Recovery: Menerima dan Beradaptasi Penuh

Fase terakhir adalah "recovery," di mana pendatang mulai mampu menerima dan memahami perbedaan budaya yang ada. Mereka mengembangkan pikiran yang lebih terbuka terhadap kebiasaan setempat.

Pada tahap ini, penolakan terhadap kebiasaan lokal perlahan menghilang, digantikan dengan penerimaan. "Di fase recovery, mereka sudah mulai bisa melihat dengan pikiran terbuka," jelas Ratna.

Jika pendatang berhasil menemukan "anchor" atau jangkar untuk bertahan, mereka akan mampu beradaptasi dengan baik. Hal ini memungkinkan mereka untuk melihat keistimewaan Yogyakarta dari sudut pandang yang berbeda.

Kunci Sukses Adaptasi Budaya: Daya Tahan Stres dan Pemahaman Komunikasi

Psikolog yang telah lama tinggal di Yogyakarta ini menekankan pentingnya daya tahan terhadap stres bagi para pendatang. Tujuan utama mereka datang ke Yogyakarta adalah untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.

Oleh karena itu, mereka harus menguatkan hati dan diri untuk menghadapi berbagai tantangan. Proses adaptasi budaya Yogyakarta memang membutuhkan mental yang kuat.

Ratna juga mengingatkan pentingnya memahami bahasa tubuh dalam komunikasi lintas budaya. Meskipun secara verbal orang Yogyakarta berbicara halus, bahasa tubuh mereka bisa mengungkapkan ketidaksetujuan.

"Ketika ngomong 'nggih, mboten nopo-nopo' (ya, tidak apa-apa), tapi tatapan matanya tajam, itu artinya ada yang tidak beres," kata Ratna. Pemahaman ini krusial bagi pendatang untuk berinteraksi lebih efektif.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi