Sejak 1500 Masehi, Ini Makna Mendalam Ritual Massossor Manurung dalam Pelestarian Budaya Sulawesi Barat

Gubernur Sulawesi Barat mengajak masyarakat menjaga nilai budaya seperti tradisi Massossor Manurung, ritual pembersihan keris pusaka Kerajaan Mamuju, sebagai jati diri dan potensi ekonomi daerah.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Sejak 1500 Masehi, Ini Makna Mendalam Ritual Massossor Manurung dalam Pelestarian Budaya Sulawesi Barat
Gubernur Sulawesi Barat mengajak masyarakat menjaga nilai budaya seperti tradisi Massossor Manurung, ritual pembersihan keris pusaka Kerajaan Mamuju, sebagai jati diri dan potensi ekonomi daerah. (AntaraNews)

Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka baru-baru ini mengajak seluruh elemen masyarakat di daerahnya untuk terus menjaga dan merawat nilai-nilai budaya luhur. Ajakan ini disampaikan di tengah derasnya arus modernisasi yang berpotensi mengikis identitas lokal.

Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri ritual Massossor Manurung di Mamuju pada Sabtu, 25 Oktober. Ritual sakral ini merupakan tradisi pembersihan keris pusaka Kerajaan Mamuju yang telah diwariskan turun-temurun.

Lebih dari sekadar membersihkan benda pusaka, Massossor Manurung dimaknai sebagai refleksi spiritual dan evaluasi diri. Tradisi ini menjadi simbol penting dalam pelestarian jati diri dan kepribadian masyarakat Sulawesi Barat.

Makna Mendalam Ritual Massossor Manurung

Ritual Massossor Manurung, secara harfiah berarti pembersihan, merupakan prosesi membersihkan pusaka sakral peninggalan Kerajaan Mamuju. Namun, di balik makna fisiknya, upacara ini juga dimaknai sebagai pembersihan diri, refleksi spiritual, dan evaluasi terhadap perjalanan kehidupan sosial serta pemerintahan.

Gubernur Suhardi Duka menjelaskan bahwa tradisi Massossor Manurung tidak hanya menjadi simbol pelestarian benda pusaka, tetapi juga bentuk introspeksi dan pembersihan moral bagi seluruh lapisan masyarakat. "Massossor manurung ini bukan hanya pembersihan benda pusaka, tapi juga pembersihan diri dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pembangunan, pemerintahan maupun sosial di setiap masa," kata Suhardi Duka.

Maradika (Raja) Mamuju Bau Akram Dai menambahkan bahwa ritual Massossor Manurung telah diwariskan turun-temurun sejak tahun 1500 Masehi. Ia menyebut ritual ini berasal dari masa pemerintahan Raja Lasalaga, sosok yang diyakini memiliki kembaran bernama Maradika Tammakana-kana atau Raja yang Tak Bisa Berbicara, yang kemudian disebut pusaka manurung.

Pusaka manurung sendiri telah menjadi simbol kekuatan, kepemimpinan, dan keadilan di Tanah Mamuju sejak abad ke-16. Ritual ini dilaksanakan secara rutin, yakni "satu kali dalam dua tahun pada tahun ganjil" oleh anak cucu dan lembaga adat.

Budaya sebagai Penopang Ekonomi dan Jati Diri

Suhardi Duka menilai bahwa budaya tidak hanya harus dijaga secara sakral, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi potensi ekonomi daerah melalui pariwisata budaya. Ia mencontohkan daerah seperti Bali yang mampu menggabungkan nilai spiritual dan ekonomi dalam kegiatan budayanya.

Menurutnya, budaya di era modern seperti sekarang tidak hanya disakralkan, tapi juga bisa dipasarkan. "Contohnya Bali, orang datang ke sana bukan hanya untuk menikmati alamnya, tapi juga budayanya. Maka tradisi Massossor Manurung ini bisa kita kembangkan menjadi atraksi wisata budaya yang menarik wisatawan lokal dan mancanegara," terangnya.

Keunikan budaya Mamuju, yang berangkat dari kepercayaan bahwa manurung bukanlah benda biasa melainkan dilahirkan, memiliki nilai mistik dan simbolik yang tinggi. Hal ini diyakini dapat menarik perhatian dunia luar. "Kalau orang asing mendengar bahwa keris ini dilahirkan, pasti mereka penasaran dan ingin tahu bagaimana keyakinan itu terbentuk. Ini daya tarik budaya yang luar biasa jika dikemas dengan baik," ujar Gubernur.

Gubernur juga menyampaikan terima kasih kepada Yang Mulia Raja Mamuju dan seluruh Lembaga Adat Kerajaan Mamuju yang terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam menjaga nilai-nilai budaya serta menciptakan harmoni sosial.

Filosofi Lokal dan Tanggung Jawab Bersama

Raja Mamuju Bau Akram Dai menjelaskan filosofi lokal yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Mamuju hingga kini, yaitu ‘Sema manginung uai randanna to Mamuju, maka ia to Mamuju’. Filosofi ini memiliki makna mendalam yang mengikat setiap individu di tanah Mamuju.

"Arti dari filosofi itu adalah, siapa pun yang minum air di tanah Mamuju adalah bagian dari Mamuju dan memiliki tanggung jawab untuk menjaga kedamaian serta membangun daerah," kata Bau Akram Dai. Pesan ini menekankan pentingnya rasa memiliki dan kontribusi terhadap kemajuan wilayah.

Gubernur Suhardi Duka juga menegaskan pentingnya kolaborasi dalam pembangunan daerah. "Tidak ada pemimpin yang bisa sukses sendiri. Semua butuh kerja sama, kolaborasi dan semangat yang sama untuk membangun kesejahteraan," katanya. Visi "Sulbar maju dan rakyatnya sejahtera" hanya dapat tercapai jika semua pihak berjalan beriringan.

Ajakan untuk menjaga budaya dan semangat kolaborasi ini menjadi kunci dalam menghadapi tantangan modernisasi. Dengan demikian, nilai-nilai luhur dapat terus lestari sekaligus menjadi pendorong kemajuan daerah.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi