Pemkab Kulon Progo Gelar Jamasan Pusaka Legendaris, Libatkan Kentongan Bersejarah

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo kembali menggelar prosesi adat Jamasan Pusaka Kulon Progo, sebuah ritual tahunan untuk melestarikan budaya dan memanjatkan doa keselamatan wilayah. Tahun ini, prosesi istimewa tersebut turut menyucikan kentongan pusaka "Go

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pemkab Kulon Progo Gelar Jamasan Pusaka Legendaris, Libatkan Kentongan Bersejarah
Pemerintah Kabupaten Kulon Progo kembali menggelar prosesi adat Jamasan Pusaka Kulon Progo, sebuah ritual tahunan untuk melestarikan budaya dan memanjatkan doa keselamatan wilayah. Tahun ini, prosesi istimewa tersebut turut menyucikan kentongan pusaka "Go (AntaraNews)

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, baru saja melaksanakan prosesi adat Jamasan Pusaka Agung pada Minggu, 12 Juli 2026. Acara tahunan ini merupakan bagian dari peringatan hari besar Suro, yang bertujuan untuk memanjatkan doa bagi keselamatan seluruh wilayah Kulon Progo. Ritual pelestarian budaya ini melibatkan penyucian pusaka legendaris milik pemerintah daerah.

Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko, menjelaskan bahwa Jamasan Pusaka merupakan agenda rutin Pemkab Kulon Progo. Kegiatan ini tidak hanya merawat eksistensi budaya, tetapi juga menjadi momentum penting untuk memohon keberkahan dan perlindungan bagi masyarakat. Pusaka yang dijamas meliputi Kanjeng Kyai Bantar Angin dan Kanjeng Kyai Amiluhur.

Prosesi adat yang penuh khidmat ini diawali dengan Kirab Pusaka dari halaman Pemkab Kulon Progo menuju Alun-Alun Wates. Kirab tersebut diikuti oleh perwakilan dari 12 kapanewon serta 88 kalurahan/kelurahan se-Kabupaten Kulon Progo, menunjukkan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur.

Makna dan Pelaksanaan Jamasan Pusaka Tahunan

Jamasan Pusaka Agung merupakan salah satu tradisi yang dijaga erat oleh Pemerintah Kabupaten Kulon Progo sebagai wujud pelestarian budaya. Prosesi ini secara rutin dilaksanakan setiap tahun untuk membersihkan dan merawat pusaka-pusaka penting daerah. Ritual ini diyakini membawa keberkahan dan menjaga keseimbangan spiritual wilayah.

Penyucian pusaka, atau jamasan, tidak hanya sekadar membersihkan benda fisik, melainkan juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Ini adalah simbol penghormatan terhadap warisan leluhur dan pengingat akan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap pusaka. Melalui tradisi ini, generasi penerus diajak untuk memahami dan menghargai sejarah serta identitas budaya mereka.

Partisipasi luas dari perwakilan kapanewon dan kalurahan/kelurahan dalam Kirab Pusaka menunjukkan kuatnya ikatan masyarakat dengan tradisi ini. Kehadiran mereka menegaskan bahwa Jamasan Pusaka bukan hanya agenda pemerintah, melainkan milik seluruh warga Kulon Progo. Hal ini memperkuat rasa kebersamaan dan identitas komunal.

Kentongan Pusaka "Gora Bangsa" Jadi Sorotan Utama

Prosesi Jamasan Pusaka Kulon Progo tahun ini terasa istimewa dengan disertakannya kentongan pusaka bersejarah, "Gora Bangsa", dalam ritual penyucian. Kentongan ini, yang terbuat dari tosan aji (besi), telah resmi ditetapkan sebagai warisan cagar budaya. Kehadiran "Gora Bangsa" menambah kekayaan makna dalam upacara adat tersebut.

Kepala Kundha Kabudayan Kabupaten Kulon Progo, Joko Mursito, menjelaskan bahwa kentongan "Gora Bangsa" memiliki sejarah panjang dan dianggap sebagai salah satu pusaka terbesar di Kulon Progo. Kentongan ini dulunya berada di Kadipaten Kulon Progo dan konon memiliki suara yang sangat nyaring, mampu terdengar hingga ke seluruh pelosok wilayah sebelum tahun 1951. Saat ini, benda pusaka tersebut tersimpan rapi bersama koleksi cagar budaya lainnya di Bulurejo.

Penyertaan "Gora Bangsa" dalam Jamasan Pusaka tidak hanya untuk merawat fisiknya, tetapi juga untuk menghidupkan kembali kisah dan nilai historisnya. Ini adalah upaya nyata untuk memperkenalkan warisan budaya kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda. Dengan demikian, sejarah dan identitas lokal dapat terus lestari dan relevan di tengah modernisasi.

Masa Depan Jamasan Pusaka: Antara Tradisi dan Pariwisata

Joko Mursito juga menegaskan komitmen Kundha Kabudayan Kabupaten Kulon Progo untuk terus mengembangkan upacara adat Jamasan Pusaka. Tujuannya adalah agar tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual pelestarian, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan daya tarik pariwisata yang signifikan. Inisiatif ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi daerah.

Pengemasan ulang tradisi menjadi atraksi wisata budaya unggulan merupakan strategi untuk menarik lebih banyak pengunjung ke Kulon Progo. Dengan sentuhan kreativitas dan promosi yang tepat, Jamasan Pusaka berpotensi menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mengembangkan sektor pariwisata berbasis budaya.

Melalui pendekatan ini, pelestarian tradisi dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi lokal. Masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari kegiatan budaya mereka, baik melalui peningkatan kunjungan wisatawan maupun peluang usaha yang muncul. Ini adalah langkah progresif untuk memastikan warisan budaya tetap hidup dan relevan dalam konteks kekinian.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi