Peringkat Jakarta dalam Global Cities Index 2025 dirilis lembaga internasional Kearney, naik dari posisi 74 ke-71 dunia dari 158 kota. Naiknya peringkat Jakarta ini mencerminkan kemajuan daya saing ibu kota melalui kerja teknokratik dan kolaborasi masyarakat.
"Kita naik tiga peringkat berkat perencanaan matang, eksekusi cepat, dan evaluasi berbasis data. Ini buah kerja keras bersama warga," kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (23/10).
Advertisement
Keunggulan Jakarta
Menurut laporan Kearney, Jakarta unggul di dimensi business activity. Dalam hal ini, Jakarta naik tiga posisi melalui konektivitas transportasi publik (91–92 persen) dan perdagangan regional, didukung proyek MRT/LRT.
Kemudian dimensi human capital, peringkat Jakarta juga naik dua posisi. Dimensi imun membaik berkat aksesibilitas tenaga kerja dan pelatihan vokasi.
“Dalam 5–7 bulan, kita capai ini karena siklus perencanaan-implementasi-evaluasi yang solid, seperti monitoring real-time penggunaan transportasi,” ucap Pramono.
Advertisement
Kekurangan Jakarta
Kendati naik peringkat, Jakarta masih perlu mengejar peningkatan di sejumlah dimensi lain, meliputi information exchange (adopsi digital), cultural experience (wisata berkelanjutan), dan political engagement (partisipasi global).
Adapun Kearney juga menyoroti tiga pendukung kunci, yakni energi terbarukan, resiliensi kota (pengelolaan banjir, ruang hijau), dan talenta siap Artificial Intellegence (AI). Pemprov DKI saat ini tengah mengupayakan ketiga hal ini melalui program solar panel, normalisasi sungai, dan pelatihan digital.
Advertisement
Peringkat Transportasi Jakarta di Dunia
Terpisah, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Ketua Bidang Komunikasi Sosial, Chico Hakim menyampaikan untuk menjadikan Jakarta kota global diperlukan adanya partisipasi publik untuk mencapai target ke depannya.
“Bapak Gubernur meyakini bahwa tanpa partisipasi publik target pencapaian ke depan akan sulit dicapai,” kata Chico.
Chico membeberkan, saat ini DKI Jakarta berada pada peringkat 17 dunia untuk transportasi publik. Rangking ini melampaui Kuala Lumpur dan Manila, dengan utilisasi naik 25 persen.
“Capaian ini awal dari perjalanan menuju top 50 kota global. Pemerintah tak bisa sendiri dan pesan khusus bapak Gubernur adalah agar Pemprov DKI Jakarta selalu melibatkan warga, pelaku usaha, dan akademisi terus berinovasi untuk Jakarta yang inklusif dan resilient,” ucap Chico.