Mengejutkan! BMKG Jelaskan Fenomena Hujan Es Langka di Kotim, Warga Tak Perlu Panik

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotawaringin Timur (Kotim) memastikan fenomena hujan es yang terjadi bersifat lokal dan aman. Simak penjelasan ilmiah mengapa peristiwa langka ini muncul dan apakah ada potensi bahaya.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Mengejutkan! BMKG Jelaskan Fenomena Hujan Es Langka di Kotim, Warga Tak Perlu Panik
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotawaringin Timur (Kotim) memastikan fenomena hujan es yang terjadi bersifat lokal dan aman. Simak penjelasan ilmiah mengapa peristiwa langka ini muncul dan apakah ada potensi bahaya. (AntaraNews)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotawaringin Timur (Kotim) melalui Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit mengimbau masyarakat agar tidak perlu khawatir dengan fenomena hujan es yang baru-baru ini terjadi. Peristiwa langka ini melanda Desa Cempaka Mulia Timur, Kecamatan Cempaga, pada Jumat (10/10) sore. Meskipun jarang, BMKG menegaskan bahwa fenomena ini bersifat lokal dan tergolong aman bagi warga.

Prakirawan BMKG Kotim, Rizaldo Raditya Pratama, menjelaskan bahwa fenomena hujan es di wilayah Kotim memang terbilang langka, namun dapat dijelaskan secara ilmiah. Biasanya, butiran es dari awan cumulonimbus akan mencair sebelum mencapai tanah karena suhu yang relatif panas di Kotim. Namun, kondisi atmosfer yang tidak stabil dapat menyebabkan es tetap utuh saat jatuh.

Peristiwa ini memicu pertanyaan di kalangan warga mengenai penyebab dan dampaknya. BMKG memberikan klarifikasi untuk menenangkan kekhawatiran publik, sekaligus memberikan edukasi mengenai karakteristik cuaca ekstrem lokal. Informasi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang dinamika atmosfer di daerah mereka.

Rizaldo Raditya Pratama dari BMKG Kotim mengungkapkan bahwa fenomena hujan es sebenarnya cukup umum terjadi di berbagai belahan dunia, namun sangat jarang muncul di Kotawaringin Timur. Kondisi geografis dan suhu yang cenderung hangat di wilayah ini menjadi faktor utama mengapa es jarang mencapai permukaan tanah dalam bentuk padat. Biasanya, butiran es akan meleleh menjadi air hujan biasa.

"Fenomena ini dipicu adanya awan cumulonimbus yang mengandung butiran es," jelas Rizaldo. Ia menambahkan, "Biasanya ketika turun di wilayah Kotim dengan suhu yang lumayan panas, es tersebut sudah mencair atau dalam bentuk air saat mencapai tanah." Namun, pada kejadian Jumat lalu, terjadi ketidakstabilan atmosfer yang menyebabkan lingkungan sekitar menjadi dingin, sehingga es tetap utuh saat jatuh.

Durasi fenomena hujan es ini juga terbilang singkat dan sangat lokal. Berdasarkan pantauan radar dan satelit BMKG, awan cumulonimbus yang bertanggung jawab atas kejadian ini hanya berada di wilayah Desa Cempaka Mulia Timur sekitar satu jam, yakni dari pukul 15:00 WIB hingga 16:00 WIB. Ini menunjukkan bahwa kejadian tersebut bukan merupakan indikasi perubahan cuaca ekstrem yang meluas.

Masyarakat sempat khawatir mengenai potensi zat berbahaya yang terkandung dalam butiran es. Menanggapi hal ini, Rizaldo menjelaskan bahwa kontaminasi zat berbahaya bisa terjadi apabila awan cumulonimbus terbentuk di dekat pabrik yang mengeluarkan polutan. "Namun itu kondisi juga sangat jarang terjadi untuk wilayah Kotim, jadi umumnya aman saja," tegasnya.

BMKG memastikan bahwa secara umum, fenomena hujan es yang terjadi di Kotim aman dan tidak mengandung zat berbahaya. Meskipun demikian, Rizaldo mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem lainnya. Kewaspadaan diperlukan terutama saat ada awan cumulonimbus atau prakiraan hujan disertai angin kencang.

Untuk prakiraan cuaca beberapa hari ke depan, BMKG memperkirakan potensi hujan ringan hingga sedang masih ada di Kotim. Namun, kondisi cuaca secara keseluruhan akan didominasi oleh keadaan cerah berawan dan berawan. Rizaldo menambahkan bahwa potensi terulangnya fenomena hujan es sangat kecil, "kecuali keadaan atmosfer sangat tidak stabil."

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi