Universitas Diponegoro (Undip) Semarang secara resmi menggandeng Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk mewujudkan visi besar. Kolaborasi ini bertujuan menjadikan Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Semarang sebagai pusat riset penanggulangan kanker yang komprehensif. Langkah strategis ini diharapkan dapat mengatasi kekurangan dokter spesialis di Indonesia.
Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua belah pihak telah dilaksanakan di Kampus Undip, Semarang, pada Sabtu, 4 Oktober. Acara penting ini dihadiri oleh Rektor Undip Prof. Suharnomo dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy. Inisiatif ini menandai komitmen serius dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan.
Fokus utama dari kerja sama ini adalah pengembangan bidang onkologi dan penanganan penyakit langka. Undip siap mendukung program pemerintah dalam penyediaan dokter spesialis, khususnya untuk penanggulangan kanker. Ini merupakan upaya konkret untuk memperkuat infrastruktur kesehatan nasional.
Advertisement
Advertisement
Rektor Undip, Prof. Suharnomo, menegaskan kesiapan universitasnya dalam mencetak dokter spesialis yang sangat dibutuhkan. "Saya rasa Undip, salah satunya siap untuk mengembangkan itu sehingga yang mendukung pemerintahan Pak Prabowo untuk penyediaan dokter spesialis," ujarnya. Komitmen ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan tenaga medis.
Prof. Suharnomo menambahkan bahwa Undip akan memfokuskan keahliannya pada penanggulangan kanker. "Untuk 'expertise'-nya, terutama kami akan fokus pada 'cancer' (kanker)," katanya. Pemilihan fokus ini didasari oleh tingginya angka kasus kanker di Indonesia dan kebutuhan akan riset mendalam.
Kerja sama ini bukan hanya tentang riset, tetapi juga peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Dengan dukungan Bappenas, Undip berambisi menjadi garda terdepan dalam inovasi medis. Langkah ini diharapkan memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat luas.
Advertisement
Advertisement
Pengembangan RSND akan didukung melalui hibah pinjaman luar negeri dari Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi. Dana ini akan digunakan untuk membangun Diponegoro Research and Cancer Center (DRCC). Fasilitas ini akan menjadi tulang punggung riset penanggulangan kanker di Indonesia.
Selain DRCC, RSND juga akan bertransformasi menjadi rumah sakit berbasis kompetensi dan smart hospital (clinic hub). Konsep smart hospital ini akan mengintegrasikan teknologi canggih dalam layanan medis. Tujuannya adalah meningkatkan efektivitas dan efisiensi penanganan pasien.
Prof. Suharnomo juga menyebutkan bahwa selain onkologi, Undip akan memperhatikan "rare disease" atau penyakit langka. "Kami memilih bidang onkologi dan sejenisnya dan tadi juga melihat ada 'rare disease' (penyakit langka)," ungkapnya. Ini menunjukkan pendekatan komprehensif dalam riset dan pelayanan kesehatan.
Advertisement
Transformasi ini diharapkan menciptakan ekosistem penanggulangan kanker yang menyeluruh. Mulai dari pencegahan, diagnosis dini, pengobatan inovatif, hingga rehabilitasi pasca-penyembuhan. Semua aspek akan terintegrasi dalam satu wadah.
Advertisement
Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menekankan pentingnya memastikan perencanaan ini terlaksana dengan baik. "Kami sudah ada kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Undip, ada rumah sakit di bawah fakultas kedokteran rumah sakit pendidikan," jelasnya. Bappenas akan mengawal setiap tahapan proyek ini.
Bappenas bertanggung jawab memastikan setiap tahapan sesuai dengan ketentuan dan standar yang ditetapkan. "Bappenas berkewajiban memastikan perencanaan itu bisa berlangsung baik," tegas Rachmat Pambudy. Ini mencakup standar kesehatan dan pendidikan yang terintegrasi.
Menteri Pambudy sangat mendukung pengembangan RSND sebagai pusat riset penanggulangan kanker. Dukungan ini meliputi pencegahan, pengobatan, hingga rekonstruksi pasca-pasien sembuh. Tujuannya adalah membentuk ekosistem penanggulangan kanker yang kuat.
Advertisement
Fakultas Kedokteran Undip juga akan membentuk konsorsium dengan FK perguruan tinggi lain. "Dengan demikian, maka akan ada peningkatan efektivitas, efisiensi dan juga akan ada percepatan dalam rangka pengembangan ilmu," kata Rachmat Pambudy. Kolaborasi ini diharapkan mempercepat kemajuan ilmu kedokteran.
Sumber: AntaraNews