Selamat dari Maut! Empat Penambang Emas Ilegal di Yahukimo Berhasil Dievakuasi Pasca Serangan KKB Papua

Empat Penambang Emas Ilegal di Yahukimo berhasil dievakuasi setelah bersembunyi dari serangan KKB yang menewaskan rekan mereka. Bagaimana proses penyelamatan dramatis ini?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Selamat dari Maut! Empat Penambang Emas Ilegal di Yahukimo Berhasil Dievakuasi Pasca Serangan KKB Papua
Jelang putusan Mahkamah Konstitusi terkait Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Papua, Polda Papua menyiagakan ribuan personel. Apa saja langkah antisipasi yang dilakukan untuk menjaga keamanan wilayah? (Merdeka.com)

Jajaran aparat keamanan gabungan TNI dan Polri berhasil mengevakuasi empat penambang emas ilegal yang selamat dari serangan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di wilayah Bingki, Distrik Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan. Keempat penambang ini sebelumnya bersembunyi di hutan setelah serangan KKB yang menewaskan dua rekan mereka pada Minggu (21/9) lalu.

Proses evakuasi berlangsung dramatis pada Sabtu (28/9) pagi, di mana tim penyelamat sempat mendapat tembakan dari anggota KKB. Meskipun demikian, tidak ada korban jiwa dari pihak aparat maupun tim penyelamat dalam insiden baku tembak singkat tersebut. Para penambang yang berhasil diselamatkan ditemukan di dekat Kali Kabur.

Juru Bicara Polda Papua, Kombes Pol Cahyo Sukarnito, mengonfirmasi keberhasilan operasi ini. "Personel gabungan TNI/Polri mengevakuasi empat korban selamat yang lari dan bersembunyi di hutan Bingki setelah serangan KKB yang menewaskan dua penambang," jelasnya. Keempat penambang yang dievakuasi adalah Berty, Bakri Laode, Febri, dan Tarim Baroba.

Kronologi Penyelamatan Dramatis Penambang Emas Ilegal

Empat penambang emas ilegal yang selamat dari serangan KKB di Bingki, Yahukimo, ditemukan setelah bersembunyi selama beberapa hari di hutan. Mereka berhasil dievakuasi oleh tim gabungan TNI dan Polri pada Sabtu (28/9) sekitar pukul 06.30 WIT. Penemuan ini menjadi titik terang setelah insiden berdarah yang menimpa rekan-rekan mereka.

Saat proses evakuasi berlangsung, tim penyelamat menghadapi perlawanan dari anggota KKB. Baku tembak sempat terjadi, namun tim berhasil mengamankan para penambang tanpa adanya korban tambahan. Keempat penambang tersebut kemudian dibawa ke Markas Polres Yahukimo di Dekai untuk menjalani pemeriksaan dan pemeriksaan medis guna memastikan kondisi kesehatan mereka.

Kombes Pol Cahyo Sukarnito menegaskan bahwa upaya penyelamatan ini merupakan prioritas utama aparat keamanan. Kondisi medan yang sulit dan ancaman dari KKB menjadi tantangan besar dalam setiap operasi di wilayah tersebut. Namun, komitmen untuk melindungi warga sipil tetap menjadi fokus utama.

Rentetan Serangan KKB di Yahukimo

Serangan KKB terhadap Penambang Emas Ilegal di Yahukimo bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, lima penambang emas lainnya dilaporkan tewas dalam dua insiden terpisah yang melibatkan kelompok yang sama. Para korban tewas diidentifikasi sebagai Desem Dominggus, Marselinus Manek, Roberto, Yunus, dan Unu, menambah daftar panjang korban kekerasan di wilayah tersebut.

Informasi mengenai korban tewas ini diperoleh dari rekan sesama penambang yang berhasil melarikan diri dari lokasi penambangan terpencil. Serangan pertama terjadi pada Minggu (21/9) di Bingki, sementara serangan kedua terjadi pada Senin (22/9) di dekat Kali I. Kedua lokasi ini merupakan area penambangan emas ilegal yang sering menjadi target KKB.

Kelompok KKB yang bertanggung jawab atas serangkaian serangan ini diidentifikasi sebagai faksi Kodap XVII Yahukimo, yang dipimpin oleh Kopitua Heluka. Kelompok ini juga dikaitkan dengan serangan mematikan pada bulan April lalu di Bingki, yang menewaskan 16 penambang emas ilegal. Pola serangan ini menunjukkan modus operandi KKB yang kerap menargetkan warga sipil.

Dampak dan Tantangan Evakuasi Korban

Evakuasi jenazah kelima korban yang tewas dalam serangan KKB sebelumnya mengalami penundaan signifikan. Hal ini disebabkan oleh baku tembak yang terus-menerus dan kondisi cuaca ekstrem, termasuk hujan deras sejak Selasa (23/9). Hujan lebat menyebabkan banjir dan membuat medan di sekitar lokasi menjadi sangat sulit diakses.

Kondisi geografis Papua Pegunungan yang berat, ditambah dengan ancaman keamanan dari KKB, menjadi hambatan besar bagi tim evakuasi. Aparat keamanan harus mempertimbangkan keselamatan tim dan memastikan strategi yang tepat untuk menghindari korban tambahan. Penundaan ini juga menimbulkan keresahan bagi keluarga korban yang menanti kepastian.

Selama beberapa tahun terakhir, kelompok separatis bersenjata di Papua sering menggunakan taktik hit-and-run terhadap personel keamanan Indonesia. Mereka juga melakukan tindakan teror terhadap warga sipil untuk menyebarkan ketakutan. Korban dari serangan ini mencakup pekerja konstruksi, pengemudi ojek, guru, pelajar, pedagang makanan jalanan, hingga pesawat sipil.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi