Di mata banyak orang, eceng gondok kerap dipandang sebagai gulma yang merusak dan merepotkan. Namun, di tangan warga yang bermukim di sekitar Waduk Cengklik, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tanaman air ini justru disulap menjadi sumber manfaat ekonomi, lingkungan, hingga sosial yang berkelanjutan.
Mereka adalah Kelompok Masyarakat (Pokmas) yang mengatasnamakan diri Ngudi Tirto Lestari, yang beralamat di Desa Sobokerto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Masyarakat yang sebagian bekerja sebagai petani dan nelayan ini manfaatkan tanaman air eceng gondok sebagai sumber energi listrik, pupuk organik cair yang memiliki nilai tinggi dan bahkan bio gas yang bisa dimanfaatkan sebagai pengganti elpiji 3 kilogram.
Ide pemanfaatan gulma muncul akibat keresahan anggota pokmas Ngudi Tirto Lestari yang sebagian besar merupakan nelayan terhadap air eceng gondok yang makin hari kian memenuhi Waduk Cengklik.
Selain diolah menjadi biogas rumah tangga dan energi listrik, warga juga memanfaatkan eceng gondok tersebut menjadi pupuk organik cair yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Ketua Pokmas Ngudi Tirto Lestari Turut Rahardjo mengatakan, munculnya enceng gondok yang hampir memenuhi sebagian besar permukaan waduk, sudah meresahkan para nelayan. Apalagi kondisi tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun.
"Kondisinya hampir menyelimuti waduk. Kami lalu mencoba untuk membuat ide, gagasan bagaimana agar eceng gondok yang melimpah tersebut bermanfaat bagi masyarakat banyak," ujar Turut, saat ditemui merdeka.com belum lama ini.
Lanjut Turut, para nelayan yang berkelompok pun akhirnya berbagi tugas dan peran. Ada yang sebagian mengambil eceng gondok di waduk, ada yang memproses tanaman eceng gondok dengan mesin cacah dan lainnya.
Setelah proses pencacahan dengan mesin hingga lembut, kemudian dimasukkan ke dalam drum yang sudah disiapkan. Untuk mendapatkan hasil maksimal, pencacahan dilakukan dua kali.
"Setelah dicacah kemudian dimasukkan dalam digester (wadah yang digunakan dalam berbagai proses industri untuk melumatkan, mengaduk, atau menguraikan bahan organik) selama 21 hari. Kemudian dari digester disalurkan ke genset. Dari situ dapat menghasilkan energi listrik dan juga gas elpiji," bebernya.
Advertisement
Dikatakannya, proses pemanfaatan eceng gondok di tepian Waduk Cengklik Boyolali sudah berjalan selama beberapa tahun terakhir. Biogas dapat dimanfaatkan masyarakat di sekitar tempat pemrosesan enceng gondok atau pokmas.
"Untuk energi listrik ini sementara ini hanya dimanfaatkan sekitar kesekretariatan pokmas. Energi listrik baru kami uji coba 10 titik lampu saja,” katanya.
Meski memiliki prospek cukup menjanjikan, Turut mengaku ada sejumlah kendala untuk mengembangkan produk, terutama pupuk.
"Sebenarnya menjanjikan, tapi kami kesulitan dalam perizinan. Jadi hanya kita manfaatkan untuk kalangan terbatas, terutama warga sekitar Waduk Cengklik saja," tuturnya.
Anggota Pokmas, yang juga salah satu nelayan Waduk Cengklik, Dalmanto (57) menambahkan, eceng gondok di waduk tersebut sangat mengganggu para nelayan. Terutama saat mencari udang atau ikan. Jaring yang digunakan kerap tersangkut pada tumbuhan air tersebut.
“Enceng gondok ini sering terbawa angin, pindah pindah dan kemudian nyangkut di jaring. Akibatnya kami harus membuat yang baru lagi karena sering terbawa oleh eceng gondok. Apalagi saat musim kemarau seperti ini, anginnya cukup kencang,” keluhnya.
Namun, lanjut Dalmanto, saat ini keberadaan gulma tersebut makin berkurang. Terlebih setelah kelompok nelayan mereka menjadi mitra binaan dari PT Pertamina Patra Niaga AFT Adi Soemarmo.
"Selama ada kelompok masyarakat yang peduli dengan banyaknya eceng gondok di Waduk Cengklik, jumlahmya saat mulai berkurang," katanya lagi.
Area Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan mengatakan, pihaknya memiliki program 'Desa Energi Berdikari'. Salah satu potensi yang bisa dimanfaatkan di sekitar Waduk Cengklik adalah enceng gondok yang selama menjadi permasalahan tersendiri.
"Kita punya payung program Pertamina namanya 'Desa Energi Berdikari'. Potensi yang bisa dimanfaatkan itu sebenarnya beragam. Tapi di Waduk Cengklik ini, sekitaran masyarakat Sobokerto yang tidak jauh dari wilayah operasi kami, di Depot Pengisian Adi Soemarmo itu memiliki potensi tumbuhan enceng gondok yang menjadi permasalahan tersendiri bagi nelayan maupun dari wilayah Balai Besar yang mengampu Waduk Cengklik ini. Akhirnya dari masalah ini dan potensi tersebut kita kembangkan menjadi bio energi," ungkap Taufiq.
"Jadi enceng gondoknya kita kemas hingga menghasilkan biogas. Dan biogasnya itu bisa dikonfersi menjadi energi listrik," imbuhnya.
Selain energi listrik, lanjut Taufiq, enceng gondok yang melimpah di Waduk Cengklik juga diolah menjadi pupuk organik.
"Jadi dari proses composting enceng gondok dengan dicampur bahan tertentu, menghasilkan pupuk organik yang ternyata lebih ramah lingkungan dan lebih bagus kualitas tanahnya dibandingkan pupuk kimia pada umumnya," terangnya.
Advertisement
Pertamina, lanjut Taufiq, dari tahun 2023 hingga 2025 total sudah menyalurkan bantuan Rp 810 juta untuk beberapa fasilitas yang diberikan kepada Pokmas Ngudi Tirto Lestari. Selain itu, pihaknya juga telah memberikan beberapa pelatihan.
"Fasilitasnya antara lain untuk teknologi pengolahan kompos, biogas, kemudian konfersi menjadi listrik hingga bantuan PJU (penerangan jalan umum). Ada 11-13 titik yang berhasil kita terangi. Ini akan kita kembangkan terus. Harapannya semua masyarakat disini bisa memiliki penghematan dari sisi energi listrik yang mereka konsumsi setiap harinya," katanya.