Ratusan Siswa Tumbang, 208 Sampel MBG Diduga Penyebab Keracunan Diterima Labkesda Jabar Selama 2025

Kasus keracunan MBG di Bandung Barat terjadi dua kali dalam sepekan.

Robby Bouceu
Oleh Robby Bouceu - Reporter
Ratusan Siswa Tumbang, 208 Sampel MBG Diduga Penyebab Keracunan Diterima Labkesda Jabar Selama 2025
Ratusan Siswa Tumbang, 208 Sampel MBG Diduga Penyebab Keracunan Diterima Labkesda Jabar Selama 2025 (Merdeka.com)

Hasil uji laboratorium terkait dugaan keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) belum keluar. Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat masih meneliti sampel dikirimkan Dinas Kesehatan setempat.

Seperti diketahui, kasus keracunan MBG di Bandung Barat terjadi dua kali dalam sepekan. Gelombang pertama pada Senin (22/9) menumbangkan sedikitnya 393 siswa. Dua hari kemudian, Rabu (24/9), jumlah korban kembali melonjak dengan sedikitnya 922 siswa terdampak.

Kepala Laboratorium Kesehatan Daerah Jawa Barat, Ryan Bayu Bayusantika Ristandi mengatakan, penelitian sampel masih berlangsung.

"Untuk yang terakhir itu memang belum selesai. Jadi minimal kurang lebih 5 hari untuk hasil lengkap hasil kimia dan juga mikrobiologi kliniknya," kata Ryan saat dijumpai di kantor Labkesda Jawa Barat, Jumat (26/9).

Jumlah Sampel MBG Diterima Labkesda Jabar

Kendati proses uji sampel masih berlangsung, Ryan mengungkapkan sejak MBG digulirkan Januari 2025, pihak Labkesda Jawa Barat sudah menerima 208 sampel makanan dari pelbagai daerah terkait kasus serupa.

“Sampel makanan mulai dari nasi, sayur-sayuran, daging-dagingan gitu ya, juga sayuran yang sudah diolah seperti lotek kemarin,” kata dia.

Ratusan sampel itu diterima dalam 27 kali pengiriman dari 12 Dinas Kesehatan kabupaten/kota di Jawa Barat. Dari hasil uji mikrobiologi, 23 persen positif mengandung bakteri pembusuk, mayoritas Salmonella dan Bacillus Cereus.

“Betul, jadi dari berbagai sampel makanan yang sudah diperiksa bakteri-bakteri tadi yang paling banyak mendominasi dari hasil laboratorium,” ucap Ryan.

Bakteri Diduga Pemicu Keracunan

Ryan mengatakan, bakteri tersebut biasa muncul di makanan basi. Faktor pemicunya beragam, mulai dari kebersihan pengolah, bahan dan media, hingga suhu penyimpanan.

“Lalu setelah jadi makanan itu ada regulasinya. Seharusnya makanan yang sudah jadi itu disimpan di atas suhu 60 derajat celcius atau di bawah 5 derajat celcius,” ujar dia.

Menurut Ryan, kalau disimpan di suhu ruangan makanan itu tidak boleh di atas 6 jam. Sebab nanti akan menumbuhkan bakteri-bakteri pembusuk.

Ryan menegaskan bakteri itu bisa menimbulkan gejala pusing, mual, muntah, demam, lemas, hingga kejang. "Dan biasanya yang kita takutkan dehidrasinya sebetulnya. Karena kan mual muntah diare itu yang membuatkan dehidrasi,” tutur Ryan.

Sementara berdasarkan hasil uji kimia, Ryan menyebut terdapat positif nitrit pada sampel yang diterimanya. Kendati persentase positifnya relatif lebih sedikit, yaitu hanya 8 persen.

“Nah kalau dari lingkungannya, dari kimianya yang positif adalah nitrit. Tapi memang persentasenya kecil dibandingkan dengan hasil negatifnya,” ujar Ryan.

Ryan juga mengingatkan pentingnya dapur MBG memenuhi standar sertifikasi sesuai aturan PMK 1096 2011 tentang Hygiene Sanitasi Jasa Boga.

“Penjaja makanan juga ini harus terbebas dari bakteri dan harus mendapat pemeriksaan bahwa mereka tidak dalam kondisi sakit. Jadi dari penjaja makanan harus betul-betul mengerti akan higienitas makanannya,” kata Ryan.

Rekomendasi