BPBD DIY Perbarui Peta Rawan Bencana DIY: Trivia Wilayah Imogiri Kini Rawan Banjir, Ada Apa?

BPBD DIY memperbarui Peta Rawan Bencana DIY memasuki musim hujan, termasuk wilayah yang sebelumnya aman kini berstatus waspada. Apa saja perubahannya dan bagaimana antisipasinya?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
BPBD DIY Perbarui Peta Rawan Bencana DIY: Trivia Wilayah Imogiri Kini Rawan Banjir, Ada Apa?
BPBD DIY memperbarui Peta Rawan Bencana DIY memasuki musim hujan, termasuk wilayah yang sebelumnya aman kini berstatus waspada. Apa saja perubahannya dan bagaimana antisipasinya? (Merdeka.com)

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY memperbarui peta rawan bencana hidrometeorologi. Pembaruan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi mengurangi dampak bencana memasuki musim hujan tahun ini.

Kepala Pelaksana BPBD DIY, Noviar Rahmad, menjelaskan pembaruan peta risiko ini berdasarkan kejadian bencana pada tahun 2024. Hal ini penting untuk memastikan data kerawanan bencana tetap relevan dan akurat.

Perubahan signifikan terjadi pada wilayah yang sebelumnya dianggap aman namun kini berstatus rawan. Ini menunjukkan dinamika risiko bencana yang memerlukan kewaspadaan tinggi dari masyarakat dan pemerintah.

Pembaruan Peta Rawan Bencana DIY ini membawa perubahan penting pada status beberapa wilayah. Noviar Rahmad menyebutkan bahwa Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, yang sebelumnya tidak termasuk rawan banjir, kini masuk dalam peta rawan banjir setelah kejadian pada tahun 2024. "Kalau dalam peta sebelumnya, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul tidak termasuk rawan banjir. Namun, setelah kejadian 2024, tentu saja tahun 2025 ini masuk peta rawan banjir," ujar Noviar.

Perubahan juga terjadi di wilayah rawan longsor di Sleman. Jika sebelumnya hanya dipetakan di kawasan utara, kini daerah Kecamatan Prambanan dan Kalasan juga masuk kategori rawan. Kedua wilayah ini mengalami longsor pada tahun 2024, sehingga statusnya ditingkatkan. "Hal itu juga terkait dengan risiko bencana longsor di lokasi-lokasi tersebut," kata Noviar.

Untuk wilayah Kota Yogyakarta, potensi risiko relatif tetap, dengan ancaman utama berupa banjir kiriman dari utara saat hujan lebat. Luapan Kali Code, Kali Gajah Wong, dan sungai-sungai lain yang melewati kota masih menjadi perhatian utama BPBD DIY. Data ini menjadi acuan penting dalam mitigasi bencana di seluruh wilayah DIY.

Selain pemetaan, BPBD DIY juga mengambil langkah proaktif dengan menyiagakan forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di tingkat kelurahan. Forum ini berperan penting agar dapat merespons cepat jika terjadi keadaan darurat bencana. Kesiapsiagaan ini diharapkan mampu meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana hidrometeorologi.

Laporan warga ihwal kejadian bencana dapat disampaikan melalui aplikasi Pamor, sebuah platform digital yang memudahkan koordinasi. Laporan tersebut akan segera ditindaklanjuti oleh relawan maupun forum PRB terdekat. "Mereka akan langsung memantau, dan apabila ada kejadian, segera dilakukan penanganan," ujar Noviar, menekankan pentingnya kecepatan respons.

Sistem pelaporan dan penanganan yang terintegrasi ini menjadi kunci dalam upaya mitigasi bencana. Dengan adanya partisipasi aktif dari masyarakat dan kesiapsiagaan relawan, diharapkan penanganan bencana dapat dilakukan secara efektif dan efisien, mengurangi potensi kerugian yang lebih besar.

Noviar Rahmad menyebut ancaman utama saat musim hujan adalah bencana longsor, banjir, serta cuaca ekstrem. Banjir, kata dia, bahkan bisa muncul di luar peta rawan apabila ada penyumbatan aliran sungai akibat perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Ini menunjukkan bahwa faktor manusia juga berperan besar dalam potensi bencana.

Cuaca ekstrem juga menjadi perhatian serius, terutama terkait angin kencang. Angin kencang dapat menyebabkan pohon tumbang dan merusak perumahan, serta fasilitas umum seperti tiang listrik, telepon, dan jaringan internet. Kerusakan infrastruktur ini bisa melumpuhkan aktivitas masyarakat dan memerlukan penanganan cepat.

Berdasarkan analisis dinamika atmosfer dan laut, Kepala Stasiun Klimatologi DIY Reni Kraningtyas menyebutkan musim hujan akan masuk secara bertahap mulai September. Curah hujan pada periode September-November 2025 diprakirakan berada pada kategori Atas Normal (AN) atau lebih tinggi dari rata-rata tahunan. "Curah hujan diprakirakan terus meningkat pada Oktober hingga November, dengan potensi hujan tinggi hingga lebih dari 500 mm di beberapa wilayah. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir, longsor, dan genangan," ujarnya, mengingatkan masyarakat akan potensi risiko.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi