Terungkap! Ini Dia 3 Faktor Utama Pemicu Hujan Awet di NTB yang Bikin Cuaca Ekstrem

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap tiga penyebab utama fenomena hujan awet di NTB yang berlangsung berhari-hari. Apa saja pemicunya?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Terungkap! Ini Dia 3 Faktor Utama Pemicu Hujan Awet di NTB yang Bikin Cuaca Ekstrem
BMKG memprediksi peluang curah hujan di Nusa Tenggara Barat (NTB) akan berkurang di awal Ramadhan 2025, meskipun potensi bencana hidrometeorologi tetap perlu diwaspadai. (Planet Merdeka)

Mataram, Merdeka.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengidentifikasi tiga faktor krusial yang menjadi pemicu utama fenomena hujan awet di NTB, yang mengguyur sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Barat dengan intensitas sedang hingga lebat selama berhari-hari. Curah hujan yang signifikan ini telah berlangsung sejak 8 September 2025 dan diperkirakan akan berlanjut hingga beberapa hari ke depan, menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Satria Topan Primadi, menjelaskan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini merupakan hasil interaksi kompleks dari beberapa fenomena atmosfer. Pemahaman mendalam tentang penyebab hujan awet di NTB ini menjadi penting untuk kesiapsiagaan dan mitigasi dampak yang mungkin timbul.

Fenomena hujan awet di NTB ini telah memengaruhi aktivitas sehari-hari warga dan berpotensi menimbulkan dampak hidrometeorologi. BMKG terus memantau perkembangan cuaca dan mengimbau masyarakat serta pihak terkait untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana seperti banjir dan tanah longsor.

Salah satu pemicu utama hujan awet di NTB adalah aktifnya gelombang atmosfer Ekuatorial Rossby di wilayah Nusa Tenggara Barat. Satria Topan Primadi menjelaskan bahwa gelombang ini merupakan fenomena atmosfer yang terjadi di kawasan khatulistiwa dan bergerak ke arah barat. Keberadaan gelombang ini sangat signifikan dalam memengaruhi pola cuaca regional.

Gelombang Rossby Ekuatorial terbentuk akibat rotasi bumi dan pengaruh gaya Coriolis, yang secara fundamental membentuk pergerakan massa udara. Aktivitas gelombang ini memiliki kapasitas untuk memicu pertumbuhan awan hujan secara masif, serta secara langsung memengaruhi intensitas curah hujan yang terjadi. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang sangat kondusif bagi terbentuknya hujan awet di NTB dengan durasi yang panjang.

Ketika gelombang ini aktif di suatu wilayah, seperti yang terjadi di NTB, potensi terjadinya hujan deras dan berkelanjutan akan meningkat secara drastis. Fenomena ini menjadi indikator penting bagi BMKG dalam memprediksi kondisi cuaca ekstrem dan memberikan peringatan dini kepada masyarakat.

Faktor kedua yang berkontribusi pada hujan awet di NTB adalah tingginya kelembapan udara. BMKG mencatat bahwa kelembapan udara cenderung sangat basah, berkisar antara 70 hingga 90 persen, terutama pada lapisan 850 milibar hingga 700 milibar. Kondisi kelembapan yang tinggi ini merupakan prasyarat penting bagi proses kondensasi.

Saat uap air di atmosfer mencapai tingkat kelembapan jenuh, ia akan mengembun dan membentuk awan. Semakin tinggi kelembapan udara, semakin mudah awan terbentuk dan semakin besar potensi untuk menghasilkan curah hujan. Ini menjelaskan mengapa awan hujan terus-menerus terbentuk di atas NTB, menyebabkan hujan awet di NTB yang berkepanjangan.

Kombinasi antara kelembapan udara yang melimpah dan mekanisme pemicu lainnya menciptakan siklus pembentukan awan dan hujan yang berkelanjutan, menjadikan wilayah ini rentan terhadap curah hujan ekstrem.

Penyebab ketiga dari hujan awet di NTB adalah labilitas atmosfer yang kuat. Satria Topan Primadi menyatakan bahwa labilitas atmosfer yang kuat diamati di Nusa Tenggara Barat, mendukung proses konvektif pada skala lokal. Labilitas atmosfer mengacu pada kecenderungan udara untuk bergerak vertikal, baik naik maupun turun, yang sangat memengaruhi pembentukan awawan cumulonimbus.

Ketika atmosfer labil, udara hangat di permukaan akan naik dengan cepat, membawa uap air ke ketinggian yang lebih dingin. Proses konvektif ini memicu pembentukan awan-awan tebal dan menjulang tinggi yang dikenal sebagai awan cumulonimbus, yang seringkali menghasilkan hujan lebat, petir, dan bahkan angin kencang.

Kondisi labilitas atmosfer yang kuat ini memastikan bahwa setiap awan yang terbentuk memiliki potensi besar untuk menjadi awan hujan yang produktif, berkontribusi pada durasi dan intensitas hujan awet di NTB.

BMKG telah merilis prakiraan cuaca untuk beberapa hari ke depan terkait potensi hujan awet di NTB. Pada 9 September 2025, hujan sedang hingga lebat berpotensi terjadi di Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima. Ini menunjukkan cakupan wilayah yang luas terdampak.

Kemudian, pada 10 September 2025, BMKG memprakirakan hujan sedang hingga lebat juga akan terjadi di seluruh kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Barat, menandakan peningkatan cakupan dan potensi dampak. Masyarakat di seluruh wilayah diimbau untuk tetap waspada.

Adapun prospek cuaca untuk 11 September 2025 menunjukkan bahwa seluruh wilayah Nusa Tenggara Barat masih berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang, meskipun intensitasnya sedikit berkurang. BMKG mengimbau pihak-pihak terkait untuk memastikan kapasitas infrastruktur dan sistem tata kelola sumber daya air siap untuk mengantisipasi peningkatan curah hujan ini, demi meminimalkan risiko bencana.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi