Seorang petani berusia 50 tahun bernama Amir yang tinggal di Lampung Barat mengalami luka parah setelah diduga diserang oleh seekor harimau Sumatera saat pulang dari kebun pada sore hari, Jumat (5/9).
Insiden tersebut terjadi di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Kepala TNBBS, Hifzon Zawhiri, menyatakan bahwa mereka telah menerima laporan dari masyarakat dan aparat pekon mengenai dugaan serangan oleh satwa liar itu.
"Kejadian berlangsung sekitar pukul 17.00 WIB di Pemangku Sedanginan, Pekon Tiga Jaya, Kecamatan Sekincau, Lampung Barat," ungkapnya pada hari Sabtu (6/9).
Ketika insiden terjadi, Amir sedang mengendarai sepeda motor bersama anaknya, Alin yang berusia 25 tahun. Mereka melintasi kawasan hutan di Reg. 46B Gunung Sekincau, yang merupakan bagian dari TNBBS.
"Tiba-tiba, seekor harimau menerkam Amir yang duduk di boncengan," jelas Hifzon.
Meskipun situasi sangat berbahaya, Amir dan anaknya berusaha melawan serangan tersebut hingga akhirnya harimau itu kembali masuk ke dalam hutan.
Advertisement
Mengalami cedera serius
Amir mengalami cedera serius di kepala yang memerlukan 20 jahitan, serta luka di pinggang. "Korban segera dievakuasi ke Puskesmas Sekincau untuk mendapatkan penanganan medis," jelasnya.
Dia menambahkan bahwa petugas Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) bersama aparat setempat masih melakukan pemantauan di area sekitar lokasi kejadian guna mencegah kemungkinan serangan ulang.
"Saat ini kami masih melakukan pemantauan bersama pihak-pihak terkait. Harapannya peristiwa ini tidak terjadi lagi. Kami minta warga tidak beraktivitas sendirian di kebun, apalagi yang berbatasan langsung dengan TNBBS. Jika ada tanda-tanda keberadaan satwa liar, segera laporkan," ujarnya.
Advertisement
Pasang kamera
Sebagai langkah mitigasi, petugas TNBBS telah memasang kamera jebak (camera trap) di sekitar lokasi kejadian untuk mengidentifikasi individu harimau yang diduga terlibat dalam serangan tersebut.
Selain itu, patroli rutin juga dilakukan bersama aparat setempat untuk memantau tanda-tanda keberadaan harimau, sekaligus memberikan rasa aman kepada masyarakat.
"Petugas juga melakukan sosialisasi agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di kebun, terutama yang berada dekat kawasan hutan," jelas Hifzon lebih lanjut.
Hifzon juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di dalam kawasan hutan yang merupakan habitat harimau Sumatera.
"Warga sebaiknya tidak bepergian sendirian, terutama pada sore dan malam hari, serta menghindari jalur semak belukar yang berpotensi menjadi tempat persembunyian harimau. Segera laporkan kepada petugas jika menemukan tanda-tanda keberadaan harimau seperti jejak, kotoran, atau sisa mangsa, dan hindari perburuan harimau maupun satwa mangsanya," pintanya.
Dia menegaskan bahwa kawasan TNBBS adalah habitat penting bagi harimau Sumatera yang saat ini berstatus kritis (Critically Endangered) dengan populasi yang terus menurun.
"Upaya pencegahan dan penanganan konflik memerlukan dukungan semua pihak demi keselamatan manusia sekaligus kelestarian satwa liar," tegasnya.