Fakta Mengejutkan: 31 Jam Perjuangan Tim SAR Evakuasi Korban Heli Jatuh di Kalsel

Tim SAR berhasil menuntaskan proses evakuasi korban heli jatuh di Kalimantan Selatan setelah berjuang selama 31 jam. Simak detail perjuangan heroik mereka.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Mengejutkan: 31 Jam Perjuangan Tim SAR Evakuasi Korban Heli Jatuh di Kalsel
Tim SAR berhasil menuntaskan proses evakuasi korban heli jatuh di Kalimantan Selatan setelah berjuang selama 31 jam. Simak detail perjuangan heroik mereka. (Merdeka.com)

Tim SAR gabungan berhasil menuntaskan operasi Evakuasi Korban Heli Jatuh di kawasan hutan Desa Emil Baru, Mentewe, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Proses evakuasi delapan jasad korban kecelakaan Helikopter BK117 D3 milik Estindo Air ini memakan waktu sekitar 31 jam. Perjuangan heroik ini dimulai sejak penemuan bangkai helikopter pada Rabu (3/9) pukul 14.45 WITA.

Meskipun menghadapi medan yang sangat sulit dan kondisi cuaca yang tidak mendukung, seluruh jasad berhasil dievakuasi. Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo mengonfirmasi keberhasilan ini. Ia menyatakan bahwa beberapa jasad ditemukan dalam kondisi tidak utuh.

Operasi penyelamatan ini menunjukkan dedikasi tinggi dari seluruh unsur yang terlibat. Dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, hingga potensi SAR dan masyarakat setempat, semua bersinergi. Mereka bekerja keras untuk membawa pulang para korban ke keluarga masing-masing.

Tantangan Berat di Medan Evakuasi

Proses Evakuasi Korban Heli Jatuh tidak berjalan tanpa hambatan berarti. Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, mengungkapkan bahwa kendala utama adalah medan yang sangat sulit. Area penemuan bangkai helikopter berada di kawasan hutan lebat yang tidak mudah dijangkau.

Selain kondisi geografis, cuaca buruk juga menjadi faktor penghambat. Hujan yang turun secara berkala membuat jalur evakuasi semakin licin dan berbahaya. Hal ini memperlambat pergerakan tim dan peralatan yang digunakan untuk mengangkat jasad korban.

Meski demikian, tim SAR tetap gigih melanjutkan tugasnya. Yudhi Bramantyo menyatakan, "Alhamdulillah, seluruh jasad berhasil kita evakuasi meskipun beberapa jasad sudah tidak utuh lagi bagian tubuhnya." Pernyataan ini menggambarkan betapa beratnya kondisi jasad yang ditemukan.

Kondisi jasad yang tidak utuh menambah kompleksitas dalam proses identifikasi awal. Tim harus bekerja ekstra hati-hati untuk memastikan semua bagian tubuh korban dapat dikumpulkan. Ini adalah bagian krusial dari operasi kemanusiaan tersebut.

Kronologi Penemuan dan Pengangkutan Jasad

Bangkai helikopter BK117 D3 ditemukan pada Rabu (3/9) sekitar pukul 14.45 WITA. Lokasinya berada di titik 03° 5’6” S – 115° 37’39.07” E, di kawasan hutan Desa Emil Baru, Kecamatan Mentewe, Tanah Bumbu. Titik ini berjarak sekitar 700 meter dari koordinat awal yang diberikan oleh KNKT.

Setelah penemuan, On Scene Commander (OSC) segera mengerahkan seluruh SRU darat ke lokasi. Tujuan utama adalah memperkuat proses Evakuasi Korban Heli Jatuh. Tim bekerja tanpa henti hingga seluruh jasad berhasil dievakuasi pada Kamis malam sekitar pukul 21.50 WITA.

Delapan jasad korban yang telah dimasukkan ke dalam kantong SAR kemudian diangkut. Lima unit ambulans disiapkan untuk membawa para korban. Proses pengangkutan ini dikawal ketat oleh mobil patwal untuk memastikan kelancaran perjalanan.

Sekitar pukul 21.55 WITA, tim SAR terlebih dahulu melakukan identifikasi awal terhadap jasad. Setelah itu, pada pukul 22.30 WITA, petugas mulai meninggalkan lokasi. Mereka bergerak menuju Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kalsel di Banjarmasin untuk proses identifikasi lebih lanjut.

Sinergi Tim SAR dan Dukungan Masyarakat

Keberhasilan Evakuasi Korban Heli Jatuh ini tidak lepas dari sinergi kuat antar berbagai unsur. Yuni, salah satu perwakilan Basarnas, menegaskan bahwa semua pihak bekerja keras. Unsur SAR gabungan meliputi Basarnas, TNI, Polri, BPBD, dan potensi SAR lainnya.

Setiap elemen tim menunjukkan komitmen tinggi dalam menjalankan tugasnya. Mereka berkoordinasi dengan baik di lapangan. Hal ini memastikan bahwa setiap langkah evakuasi dapat dilakukan secara efektif dan aman.

Selain itu, dukungan penuh dari masyarakat setempat juga sangat membantu operasi ini. Warga desa Emil Baru turut serta memberikan bantuan. Mereka membantu dalam berbagai bentuk, mulai dari penunjuk jalan hingga logistik.

Kerja sama yang solid antara aparat dan masyarakat menjadi kunci sukses. Ini menunjukkan bahwa dalam situasi darurat, kolaborasi adalah hal yang esensial. Proses evakuasi ini menjadi contoh nyata dari semangat gotong royong di Indonesia.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi