Kehadiran teknologi Akal Imitasi (AI) diyakini membuka jalan baru bagi perempuan untuk semakin maju dan berdaya saing di berbagai sektor. Momentum ini sangat krusial bagi Indonesia, mengingat adanya investasi signifikan dalam pengembangan teknologi cloud dan AI. Perempuan diharapkan tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga penggerak utama dalam pemanfaatan inovasi ini.
Menurut Guru Besar Teknologi Informasi dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Riri Fitri Sari MM MSc, saat ini adalah waktu yang tepat bagi perempuan untuk mengambil peran aktif dalam teknologi kecerdasan buatan. Hal ini disampaikan dalam forum BPW International yang diselenggarakan di Jakarta pada Rabu (20/8/2025). Diskusi tersebut menyoroti bagaimana perempuan dapat menjembatani bangsa dan mendorong masa depan berkelanjutan.
Pemanfaatan Akal Imitasi (AI) dapat menjadi pengungkit penting untuk meningkatkan keuntungan bisnis, sekaligus memastikan inklusivitas dan keberlanjutan. Berbagai regulasi baru terkait AI, seperti UU Perlindungan Data dan UU Kecerdasan Buatan Uni Eropa, turut mengubah lanskap bisnis global. Oleh karena itu, adaptasi dan partisipasi aktif perempuan dalam ekosistem digital menjadi sangat vital.
Advertisement
Advertisement
Peluang Perempuan di Era Akal Imitasi
Indonesia sedang memasuki era keemasan dalam pengembangan teknologi Akal Imitasi (AI) berkat dukungan infrastruktur dan kebijakan yang kuat. Microsoft telah mengucurkan dana sebesar 1,7 miliar dolar AS untuk pengembangan teknologi cloud dan AI, serta peningkatan keterampilan bagi 840.000 warga Indonesia. Inisiatif ini menciptakan fondasi yang kokoh bagi adopsi AI secara luas.
Selain itu, kolaborasi antara Indonesia, NVIDIA, dan Cisco sedang membentuk pusat keunggulan kecerdasan buatan yang mandiri. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan lokal dalam pengembangan AI. Dari sisi kebijakan, dialog kebijakan AI juga diluncurkan, mengarah pada pembentukan aturan AI sektoral dan peraturan presiden yang komprehensif.
Prof. Riri Fitri Sari menekankan bahwa ini adalah saatnya bagi perempuan untuk mengambil bagian dari teknologi kecerdasan ini. Kehadiran AI dapat menjadi pengungkit untuk meningkatkan keuntungan bisnis, menjadikannya lebih inklusif dan berkelanjutan. Peraturan seperti UU Perlindungan Data yang berlaku sejak Oktober 2024 dan UU Kecerdasan Buatan Uni Eropa sejak Agustus 2024 juga telah mengubah lanskap perdagangan global.
Advertisement
Studi terbaru menunjukkan bahwa kecerdasan buatan memerlukan naluri keibuan, dengan memasukkan rasa welas asih pada AI agar teknologi itu dapat digunakan untuk melindungi manusia. Hal ini menempatkan perempuan dalam posisi unik untuk berkontribusi pada pengembangan AI yang etis dan bermanfaat. Dengan kolaborasi apik antara akademisi, industri, dan pemerintah, perempuan memiliki peluang besar untuk mengubah dunia.
Advertisement
Mengatasi Kesenjangan Digital dan Peran Kepemimpinan Perempuan
Presiden Business Professional Women (BPW) Indonesia, Dr. Giwo Rubianto Wiyogo, menyatakan bahwa salah satu misi utama organisasinya adalah mengatasi kesenjangan digital di kalangan perempuan. Perempuan seringkali menjadi korban akibat kurangnya kecakapan literasi digital. Melalui pelatihan dan edukasi berkelanjutan, BPW Indonesia berharap perempuan memiliki literasi yang baik, responsif, dan adaptif.
Dr. Giwo menegaskan bahwa perempuan harus mengambil bagian aktif dalam kehadiran Akal Imitasi (AI), tidak hanya sebagai objek, melainkan sebagai subjek atau pelaku. Pemanfaatan AI dapat meningkatkan kapasitas diri perempuan, baik dalam bisnis maupun karier profesional. Ia menekankan bahwa perempuan harus berada di garda terdepan, menjadi motor penggerak dalam kecakapan literasi digital.
Misi umum BPW Indonesia adalah mengembangkan potensi pebisnis dan profesional perempuan di semua tingkatan melalui advokasi, pendidikan, pendampingan, jaringan, pengembangan keterampilan, dan program pemberdayaan ekonomi. Organisasi ini berupaya memastikan bahwa perempuan memiliki akses dan kemampuan untuk bersaing di pasar kerja yang semakin digital.
Advertisement
Para pemimpin perempuan juga diharapkan dapat menjadi mentor atau sponsor, memberikan bimbingan, dorongan, dan kesempatan untuk membantu perempuan maju dalam karier. Mereka juga didorong untuk meningkatkan kesadaran tentang kesetaraan gender melalui diskusi, pelatihan, dan kampanye, guna mengurangi bias atau stereotip yang ada.
Advertisement
Jejaring Global dan Pemberdayaan Perempuan
Melalui jejaring global BPW International, kepemimpinan perempuan diharapkan dapat berdampak lebih luas dan berkualitas. Pertemuan BPW International Forum yang diikuti 130 perempuan lintas profesi juga menyoroti pentingnya kesetaraan gender bagi kemajuan perempuan. Kesetaraan gender dianggap sebagai hak asasi manusia, terutama dalam kepemimpinan inklusif yang masih belum merata di lapangan.
BPW International, didirikan pada tahun 1930 oleh Dr. Lena Madesin Philips, adalah jaringan global bagi perempuan profesional dan wirausaha yang kini memiliki anggota di lebih dari 100 negara. Organisasi ini menyatukan para pemimpin, pengusaha, eksekutif, dan profesional muda yang berdedikasi untuk memajukan pemberdayaan perempuan.
Program dan inisiatif BPW International meliputi keterlibatan aktif dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di mana mereka memiliki status konsultatif dengan Dewan Ekonomi dan Sosial PBB selama lebih dari 65 tahun. Kemitraan korporat, dukungan kewirausahaan, dan kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG's) juga menjadi fokus utama.
Advertisement
Vice President of Membership BPW International, Fransesca Burack, mengajak perempuan untuk terlibat aktif dalam BPW Indonesia, meyakini bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan. Melalui pemanfaatan teknologi yang baik dan jejaring global, perempuan dapat meningkatkan kapasitasnya dan mewarnai perubahan positif bagi diri serta lingkungannya.
Sumber: AntaraNews