Anggota Komisi II DPR RI, Mardani Ali Sera menilai, usulan yang disampaikan Korpri soal penambahan batas usia pensiun ASN perlu dikaji lebih mendalam.
Korpri mengusulkan agar BUP Pejabat Pimpinan Tinggi atau Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Utama naik menjadi 65 tahun dan JPT Madya atau Eselon I mencapai 63 tahun.
Lalu, JPT Pratama atau Eselon II menjadi 62 tahun, Eselon III dan IV menjadi 60 tahun, serta Jabatan Fungsional Utama mencapai 70 tahun.
Dia mengingatkan, agar usulan tersebut harus mempertimbangkan agar anggaran negara tetap baik.
"Idenya bisa dikaji. Tapi beban keuangan negara mesti dijaga sehat," kata Mardani, saat dihubungi merdeka.com, Selasa (27/5).
Agar tidak membenani anggaran negara, dia pun mengusulkan menggunakan dana penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Namun, dia mewanti-wanti penambahan dana itu tidak memberatkan masyarakat.
"Caranya bisa dengan membebankan penambahan PNBP pada instansi yang ada tapi tidak memberatkan masyarakat. Perlu ada unit usaha yang produktif," imbuh dia.
Usia 60 Tahun Tak Lagi Produktif
Sementara Anggota Komisi II Fraksi PKS, Rahmat Saleh mengkritik usulan perpanjangan batas pensiun untuk ASN. Pasalnya, usia PNS di atas 60 tahun tak lagi produktif untuk bekerja.
"Kalaupun ada pembahasan atau usulan harus kita pertimbangkan, jangan sampai kita memberikan batas usia 70 atau di atas 60 itu malah tidak produktif," kata Rahmat saat dihubungi merdeka.com.
Terlebih, Rahmat mengatakan, pemerintah tengah bergerak cepat guna mewujudkan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Dia khawatir kebijakan memperpanjang batas usia pensiun malah memperlambat capaian kinerja pemerintah.
"Kalau usia di atas 60 itu kan sudah banyak hal yang tidak bisa dikerjakan kekuatan fisik, kemudian kesehatan dan faktor faktor lain tentu ini harus hati-hati menampung masalah ini," ujarnya.
Meski demikian, Komisi II akan membahas dengan berbagai pihak bila usulan itu perlu ditampung. Namun, dia menilai, usia ASN di atas 60 tahun lebih baik menghabiskan masa tua saja.
"Kita kasih kesempatan kalau usia 60 tahun fokus persiapan untuk hari akhirat, sehingga sebagian besar waktu dan fikiran untuk ibadah, bukan lagi kerja profesional," pungkasnya.