Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengungkapkan, banyak orangtua yang mempercayakan anak-anak mereka untuk mengikuti program pendidikan karakter yang terinspirasi dari metode militer yang dia inisiasi.
Dedi melihat ini sebagai respons yang positif, karena banyak orangtua saat ini merasa kesulitan dalam menghadapi anak-anak mereka yang sering kali 'sulit diatur'.
"Itu tandanya kegiatan ini mendapatkan respons positif. Artinya bahwa hari ini orangtua udah kewalahan menghadapi anak," kata Dedi, dikutip pada Senin (5/5).
Program pendidikan karakter ini telah dimulai pada 2 Mei 2025 di Kabupaten Purwakarta, di mana 39 siswa telah berpartisipasi dalam pendidikan karakter di Barak Resimen 1 Sthira Yudha. Dedi menjelaskan, program ini ditujukan bagi anak-anak yang berperilaku nakal dan di mana orangtuanya sudah tidak mampu lagi mendidik mereka.
Untuk anak yang terlibat dalam tindakan kriminal, Dedi menyebut. mereka akan dibina melalui sistem peradilan anak.
"Kan memang teorinya begini, anak yang mengalami kenakalan kalau itu kriminal maka lewat peradilan anak, kemudian nanti lewat pembinaan, misalnya lembaga tempat penitipan anak untuk dilakukan pembinaan, itu kan yang berproses kriminal berdasarkan peradilan," ucapnya.
Dedi menegaskan, program pendidikan karakter ini bertujuan untuk meringankan beban orangtua yang merasa tidak lagi mampu mendidik anak mereka.
"Tetapi kan banyak yang tidak berproses kriminal, tapi nakalnya gak pernah berhenti. Akhirnya mereka harus balik ke orangtuanya, pertanyaannya adalah ketika orangtuanya sudah tidak punya kesanggupan, gak sanggup menghadapi anaknya bolos terus, gak sanggup anaknya main game terus, motor-motoran terus, minum ciu. Kan kayak minum ciu, eksimer gak bisa dipidana," jelasnya.
Oleh karena itu, Dedi, bersama dengan kepala daerah lainnya di Jawa Barat, berencana untuk berkolaborasi dengan TNI dalam upaya mendidik anak-anak tersebut.
"Ini kan harus ada orang yang menangani, saya termasuk dan pak bupati Purwakarta, dan bupati dan wali kota lainnya seluruh Jawa Barat sanggup menangani dengan bekerja sama dengan TNI," tandasnya.
Advertisement
Sebelumnya, Dedi menjelaskan bahwa siswa akan dibina di barak militer untuk mendapatkan pendidikan karakter melalui kerja sama dengan TNI dan Polri. Menurut Dedi, pelaksanaan rencana ini tidak akan dilakukan secara serentak, melainkan bertahap di daerah-daerah yang dianggap rawan.
"Tidak harus langsung di 27 kabupaten/kota. Kita mulai dari daerah yang siap dan dianggap rawan terlebih dahulu, lalu bertahap," ujar Dedi dalam laporan Antara, Minggu 27 April 2025.
Politikus dari Gerindra ini menambahkan, siswa yang terlibat dalam program tersebut akan menjalani pendidikan di sekitar 30 hingga 40 barak khusus yang telah disiapkan oleh TNI. Dedi Mulyadi juga menjelaskan, para siswa akan mengikuti pendidikan selama enam bulan di barak militer.
Ia mengungkapkan kriteria siswa yang bermasalah dan perlu mendapatkan pembinaan di barak militer.
"Tukang tawuran, tukang mabok, tukang main mobile legend, yang kalau malam kemudian tidurnya tidak mau sore," kata Dedi Mulyadi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Selasa, 29 April 2025.
Lebih lanjut, Dedi menambahkan, siswa-siswa tersebut sering melawan orang tua, melakukan pengancaman, dan membuat keributan di sekolah. Mereka juga dikenal sering bolos dan tidak sampai ke sekolah setelah berangkat dari rumah.
"Kan kita semua dulu pernah gitu ya," sambungnya, menandakan bahwa perilaku tersebut bukanlah hal yang asing.
Penulis: Arby Salim