Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menekankan program terpadu pengelolaan sampah dari hulu ke hilir sebagai bagian dari strategi nasional pengelolaan sampah berkelanjutan. Program ini dirancang untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah mulai dari sumber hingga pemrosesan akhir.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, transformasi sistem pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya.
"Kami telah menyiapkan rangkaian program yang akan mengubah paradigma masyarakat dari 'sampah sebagai beban' menjadi 'sampah sebagai sumber daya ekonomi'," kata Hanif dalam keterangannya, Jumat (7/3).
Menurut Hanif, program pengelolaan sampah di hulu mencakup implementasi program komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) untuk mengubah perilaku masyarakat. Kemudian kewajiban pemilahan sampah di sumber oleh rumah tangga, produsen, dan pelaku usaha.
Selanjutnya optimalisasi program Extended Producer Responsibility (EPR) pada sektormanufaktur dan ritel. Lalu implementasi program '1 RW 1 Bank Sampah' secara nasional. Selain itu menurut Hanif, pengembangan fasilitas daur ulang dan Bank Sampah Induk di setiap daerah.
Untuk pengelolaan di hilir, Hanif mengatakan, Kementerian Lingkungan Hidup fokus kepada peningkatan layanan pengumpulan dan pengangkutan sampah terpilah. Pengembangan fasilitas pengolahan sampah dengan teknologi ramah
lingkungan.
Sementara transformasi TPA menuju sistem sanitary landfill meliputi penertiban pembuangan dan pembakaran sampah ilegal. Serta perbaikan tata kelola meliputi regulasi, kelembagaan, dan pendanaan.
Hanif menuturkan, program ini menargetkan pengurangan timbunan sampah hingga 30 persen pada tahun 2025. Peningkatan penanganan sampah hingga 70 persen.
Kemudian penciptaan lapangan kerja baru di sektor pengelolaan sampah dan pembentukan bank sampah baru, dengan target 1 RW 1 Bank Sampah.
"Kami merekomendasikan alokasi anggaran sebesar 3% dari APBD atau sekitar Rp120.000 per kapita per tahun untuk mendukung implementasi program ini," tandas Hanif.
Advertisement