Cerita Kolonel Priyo Handoyo Menaklukkan Seleksi Komandan Upacara di Istana

Dari keluarga sederhana di Cilacap, Jawa Tengah, Kolonel Priyo Handoyo akhirnya berdiri sebagai Komandan Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Danny Adriadhi Utama
Oleh Danny Adriadhi Utama - Reporter
Cerita Kolonel Priyo Handoyo Menaklukkan Seleksi Komandan Upacara di Istana
Kolonel Priyo Handoyo Komandan Upacara HUT RI. (merdeka.com/Danny).

Panggung upacara kemerdekaan di Istana menjadi titik penting dalam perjalanan panjang Kolonel Inf Priyo Handoyo. Dari keluarga sederhana di Cilacap, Jawa Tengah, ia akhirnya berdiri sebagai Komandan Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Bagi Priyo, kepercayaan tersebut bukan sesuatu yang datang dengan mudah. Sebagai Komandan Kodim 0733/Kota Semarang, peluang untuk terpilih menjadi komandan upacara dinilainya tidak sebesar perwira yang berasal dari satuan tempur.

Namun, keterbatasan peluang bukan alasan untuk mundur.

"Saya berangkat mengikuti kegiatan seleksi test sebagai komandan upacara sebetulnya kesempatannya kecil karena sebagai komandan kodim kewilayahan bukan seperti Danbrig satuan-satuan tempur yang lebih memiliki peluang besar," kata Priyo di Semarang, Minggu (23/8).

Kolonel Priyo Handoyo Komandan Upacara HUT RI. (merdeka.com/Danny).
Kolonel Priyo Handoyo Komandan Upacara HUT RI. (merdeka.com/Danny).

Ia memilih datang ke proses seleksi dengan keyakinan bahwa setiap kesempatan layak diperjuangkan. Persaingan dengan sejumlah perwira lain pun dijalaninya dengan persiapan maksimal.

"Harus ikut proses seleksi, tapi saya tetap berusaha semaksimal mungkin selama mengikuti proses seleksi hingga akhirnya terpilih," ujarnya.

Ketika kepercayaan itu akhirnya datang, tantangannya berubah. Bukan lagi soal bagaimana terpilih, melainkan bagaimana menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya.

Bagi Priyo, menjadi Komandan Upacara bukan sekadar berdiri dalam sebuah rangkaian seremonial. Tugas tersebut merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab negara yang membawa nama TNI Angkatan Darat.

Di dalamnya terdapat dedikasi, loyalitas, integritas, dan tanggung jawab seorang prajurit.

"Saya menyampaikan terima kasih kepada Kasdim, para perwira dan seluruh personel yang terus memberikan dukungan sejak proses persiapan hingga tugas tersebut selesai dilaksanakan," katanya.

Keberhasilan Priyo juga menjadi pesan bagi prajurit di satuannya. Prestasi tidak hanya menjadi milik mereka yang bertugas di satuan tempur. Prajurit kewilayahan pun memiliki ruang yang sama untuk menunjukkan kemampuan ketika kesempatan datang.

Bagi keluarga besar Kodim 0733/Kota Semarang, keberhasilan itu pun bukan sekadar pencapaian seorang perwira. Ada kebanggaan para prajurit, PNS, dan keluarga yang ikut menopang perjalanan Priyo hingga ke panggung nasional.

Kolonel Priyo Handoyo Komandan Upacara HUT RI. (merdeka.com/Danny).
Kolonel Priyo Handoyo Komandan Upacara HUT RI. (merdeka.com/Danny).

Jejak dari Cilacap

Di balik seragam dan pangkat yang disandangnya hari ini, Priyo tumbuh dari keluarga sederhana di Cilacap. Ia lahir pada 8 Februari 1982. Ayahnya merupakan anggota Polri berpangkat Bripka, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga.

Dari keluarga tersebut, nilai kedisiplinan, pengabdian, dan tanggung jawab menjadi bagian dari kehidupannya.

Priyo kemudian menempuh pendidikan di Akademi Militer dan lulus pada 2003 dari kecabangan Infanteri. Kariernya di TNI AD diwarnai sejumlah penugasan sebelum akhirnya dipercaya memimpin Kodim 0733/Kota Semarang.

Ia pernah menjabat sebagai Komandan Yonif Raider 613/Raja Alam dan kemudian Dandim 0908/Bontang.

Saat memimpin Yonif Raider 613/Raja Alam, Priyo juga pernah memperoleh penghargaan dari Pangkoopsgab Pinang Sirih atas keberhasilan operasi penangkapan pimpinan kelompok bersenjata Yambi, Kopengga Enumbi.

Pengalaman demi pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya sebagai prajurit.

Kini, perjalanan itu membawanya ke sebuah panggung yang berbeda. Bukan medan penugasan, melainkan Istana, tempat ia mengemban tugas kehormatan pada peringatan kemerdekaan.

Bagi Priyo, kepercayaan tersebut bukan akhir dari perjalanan. Justru menjadi pengingat bahwa setiap kesempatan yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh dapat membuka jalan menuju pengabdian yang lebih besar.

"Kepercayaan yang telah diberikan negara diharapkan menjadi motivasi untuk terus memberikan pengabdian terbaik."

Rekomendasi