Kronologi Pendaki Remaja Asal Bekasi Jatuh ke Jurang Gunung Slamet, Terburu-buru Turun Khawatir Ketinggalan Kereta

Remaja bernama Marsel itu meninggal dunia setelah jatuh ke jurang di Gunung Slamet saat berusaha turun cepat.

NAIS
Oleh NAIS - Reporter
Kronologi Pendaki Remaja Asal Bekasi Jatuh ke Jurang Gunung Slamet, Terburu-buru Turun Khawatir Ketinggalan Kereta
Kronologi Pendaki Remaja Asal Bekasi Jatuh ke Jurang Gunung Slamet, Terburu-buru Turun Khawatir Ketinggalan Kereta (Merdeka.com)

Tragedi memilukan terjadi di Gunung Slamet, Jawa Tengah, pada Minggu, 23 Februari 2025. Seorang pendaki remaja berusia 16 tahun, bernama Marsel, asal Bekasi, Jawa Barat, meninggal dunia setelah terjatuh ke jurang saat dalam perjalanan turun dari puncak.

Kronologi kejadian bermula pada tanggal 22 Februari 2025, ketika Marsel dan empat temannya memulai pendakian melalui jalur Bambangan, Purbalingga. Setelah berhasil mencapai puncak pada Minggu pagi, rombongan tersebut berencana untuk segera turun. Namun, Marsel yang terburu-buru ingin mengejar kereta api, berlari di tengah kabut tebal yang membatasi jarak pandang, sehingga kehilangan keseimbangan dan jatuh ke jurang.

Teman-teman Marsel berusaha mencarinya dan memanggil namanya, namun kabut tebal menghalangi mereka untuk menemukan jejaknya. Setelah menerima laporan mengenai insiden tersebut, tim SAR gabungan segera dikerahkan untuk melakukan pencarian. Marsel ditemukan dalam kondisi kritis, namun sayangnya, ia meninggal dunia saat proses evakuasi di sekitar Pos 6, sekitar pukul 23.30 WIB.

Kronologi Kejadian

Menurut informasi yang diperoleh, Marsel dan rombongannya memulai pendakian dari jalur Bambangan pada 22 Februari. Jalur ini dikenal sebagai salah satu rute pendakian yang paling populer, meskipun tetap memiliki risiko tersendiri.

Rombongan tersebut awalnya berencana untuk turun pada 23 Februari, namun insiden yang menimpa Marsel mengubah segalanya. Setelah mencapai puncak, Marsel merasa terburu-buru untuk segera turun.

Dalam perjalanan turun, kabut tebal menyelimuti area tersebut, mengakibatkan jarak pandang yang sangat terbatas. Dalam keadaan panik dan terburu-buru, Marsel berlari tanpa memperhatikan kondisi sekelilingnya, yang menyebabkan ia kehilangan pijakan dan jatuh.

Setelah terjatuh, teman-teman Marsel segera mencari dan memanggilnya, namun usaha mereka sia-sia karena kabut yang terlalu tebal. Tim SAR yang dikoordinasi oleh Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP/Basarnas) Cilacap segera dikerahkan setelah menerima laporan dari rekan-rekan pendaki lainnya.

Proses Evakuasi dan Penemuan Jenazah

Tim SAR gabungan melakukan upaya penyelamatan selama berjam-jam. Marsel akhirnya ditemukan dalam kondisi kritis di sekitar Pos 6, namun sayangnya, ia dinyatakan meninggal dunia saat proses evakuasi berlangsung.

Jenazahnya tiba di basecamp pada pukul 06.55 WIB pada Senin, 24 Februari 2025, dan kemudian dibawa ke RS Goeteng Taroenadibrata untuk pemulasaran.

Koordinator Tim SAR Gabungan, Amin Riyanto, menjelaskan bahwa kejadian ini merupakan peringatan bagi para pendaki untuk selalu memprioritaskan keselamatan.

"Kondisi cuaca yang buruk dan terburu-buru saat turun dapat menimbulkan risiko yang sangat besar. Penting bagi setiap pendaki untuk selalu berhati-hati dan memperhatikan kondisi sekitar," ujar Amin.

Peringatan untuk Pendaki Lainnya

Kematian Marsel menjadi pelajaran berharga bagi para pendaki lainnya. Dalam aktivitas pendakian, perencanaan yang matang dan kemampuan beradaptasi dengan kondisi alam sangat penting untuk menghindari kecelakaan serupa.

Pendaki perlu menyadari bahwa keselamatan adalah hal yang utama, terutama saat menghadapi kondisi cuaca yang tidak mendukung. Selain itu, kejadian ini juga mengingatkan bahwa setiap pendaki harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai jalur pendakian yang akan dilalui.

Menggunakan peralatan yang memadai dan tidak terburu-buru dalam melakukan perjalanan sangat penting untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan rekan-rekan.

Rekomendasi