Para petani di Ketaping, Kelurahan Anduring Kecamatan Kuranji, Padang memilih tetap menggunakan cara tradisional malambuik padi pada setiap musim panen. Mereka menolak kehadiran mesin perontok padi untuk mempertahankan lapangan kerja.
Malambuik padi merupakan kegiatan memisahkan buah padi dari tangkainya dengan cara memukulkannya pada sebuah alat tradisional yang disebut dengan tong. Tong memiliki tinggi kurang lebih 50 cm terbuat dari kayu. Pada bagian depannya dikelilingi dengan terpal agar buah padi yang dipukulkan ke tong tidak berserakan.
Petani di Ketaping malambuik secara berkelompok dengan tujuan agar pengerjaannya cepat selesai. Jumlah petani yang terlibat malambuik padi disesuaikan dengan luas sawah yang dipanen.
Seorang petani yang akrab disapa Pak In mengatakan, kegiatan malambuik masih dipertahankan petani hingga saat ini karena tidak ingin pekerjaan manusia digantikan oleh tenaga mesin perontok padi.
"Di daerah sini mesin perontok padi tidak boleh masuk, kami masih mempertahankan malambuik," ujarnya, Minggu, (11/6).
Advertisement
Apabila mesin masuk ke daerah itu, maka pekerjaan para petani akan hilang dan tergantikan. Padahal sawah di kawasan itu tidak luas.
"Di sini kebanyakan mata pencarian kita sebagai petani, dan malambuik bisa menjadi mata pencarian kami sehari-hari," sebutnya.
Upah yang diterima dari malambuik tergantung luasnya sawah yang dipanen. Petani setidaknya mendapatkan penghasilan Rp100 ribu per jika ada orang yang datang memanggil mereka untuk memanen padinya.
"Setahu saya, malambuik ini sudah ada sejak 1950 silam. Akan tetapi nama setiap daerah berbeda-berbeda, di Solok nama malambuik ini dikenal dengan manongkang. Meskipun namanya berbeda-beda tetapi pengerjaannya tetap sama," ujarnya.