Bukan Gelombang Panas, Ini Penyebab Suhu Panas di Bali Versi BMKG

Suhu panas di Bali bukan indikasi gelombang panas mematikan yang saat ini terjadi di Asia Selatan. Rata-rata suhu udara maksimum berdasarkan empat pengamatan stasiun di Bali pada bulan April 2023 berkisar antara 30,5 hingga 32,7 derajat celcius.

Moh. Kadafi
Oleh Moh. Kadafi - Reporter
Bukan Gelombang Panas, Ini Penyebab Suhu Panas di Bali Versi BMKG
Pantai Dreamland Bali. ©2013 Merdeka.com/Arie Basuki

Sejumlah wilayah di Indonesia mengalami peningkatan suhu panas. Termasuk Bali. Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III Denpasar, I Nyoman Gede Wiryajaya memberi penjelasan soal suhu di Bali yang belakangan ini terasa lebih panas dibandingkan biasanya.

Menurutnya, ini bukan indikasi gelombang panas mematikan yang saat ini terjadi di Asia Selatan. Rata-rata suhu udara maksimum berdasarkan empat pengamatan stasiun di Bali pada bulan April 2023 berkisar antara 30,5 hingga 32,7 derajat celcius.

"Dan itu masih kategori normal. Suhu udara dikatakan ekstrem jika mengalami kenaikan tiga derajat celcius di atas rata- ratanya," kata Wiryajaya, Selasa (25/4).

Suhu udara di Bali berdasarkan data pengamatan terakhir masih normal dengan suhu minimum 23 derajat dan maksimum 34 derajat celcius. Sementara, suhu panas yang terjadi di wilayah Bali disebabkan karena wilayah Bali sudah memasuki musim kemarau.

"Cuaca panas dan gerah saat ini dipengaruhi oleh masa udara yang bergerak dari Benua Australia menuju Benua Asia yang melewati Indonesia. Kondisi masa udara yang berasal dari Benua Australia cenderung kering. Saat melewati Indonesia khususnya Bali, cenderung menghasilkan kondisi yang lebih panas dari biasanya," imbuhnya.

Jika langit cerah dan tidak berawan, maka akan terjadi suhu tinggi atau panas. Hal ini menyebabkan radiasi matahari tidak terhalang dan bisa masuk ke permukaan bumi.

BMKG mengimbau masyarakat untuk menggunakan pelindung agar tidak terpapar langsung sinar matahari seperti tabir surya, topi, payung, jaket saat melakukan aktivitas di luar ruangan.

"Dan mengonsumsi air mineral dan diimbangi dengan buah dan sayuran. Menggunakan pakaian yang longgar dengan bahan yang mudah menyerap keringat," ujarnya.

Seperti diketahui, gelombang panas menghantam beberapa negara di Asia, paling parah terjadi di negara-negara Asia Selatan, selama sepekan terakhir.

Badan Meteorologi di negara-negara Asia seperti Bangladesh, Myanmar, India, China, Thailand, dan Laos melaporkan peningkatan suhu panas lebih dari 40 derajat Celsius selama beberapa hari belakangan. Beberapa negara itu bahkan mencatat rekor baru suhu maksimum di wilayah masing-masing.

Berdasarkan keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) RI, otoritas di China mencatat lebih dari 100 stasiun cuaca di China mencatat suhu tinggi sepanjang sejarah pengamatan pada April ini.

Rekomendasi