Gereja Kayutangan Saksi Toleransi di Malang

Ibadah salat dimulai pukul 06.00 WIB dan dilanjutkan khotbah Idulfitri . Bertindak sebagai imam dan khatib, KH Nur Hasanuddin, Pengasuh Ponpes Darussa'adah Al Islami Gubuklakah, Poncokusumo, Malang. Pimpinan Daerah Kota Malang, Wali Kota Malang, Sutiaji juga melaksanakan Salat Idulfitri di masjid ikon Kota Malang terse

Darmadi Sasongko
Oleh Darmadi Sasongko - Reporter
Gereja Kayutangan Saksi Toleransi di Malang
Salat Idulfitri di Malang. ©2023 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Salat Idulfitri, 1 Syawal 1444 H di Kota Malang menggunakan Halaman Gereja Hati Kudus Kayutangan. Jemaah Masjid Agung Jamik meluber hingga menempati halaman Gereja Kayutangan, Jalan Basuki Rachmat.

Ribuan jemaah memenuhi masjid, Alun-Alun Merdeka dan Jalan Basuki Rahmat atau Kayutangan. Mereka membeber alas di sepanjang jalan yang dibawa dari rumah masing-masing.

Jemaah juga memenuhi halaman gereja, baik sisi barat maupun sisi utara, termasuk juga jalan dan trotoar Zona 3 Kawasan Kayutangan Heritage.

Ibadah salat dimulai pukul 06.00 WIB dan dilanjutkan khotbah Idulfitri . Bertindak sebagai imam dan khatib, KH Nur Hasanuddin, Pengasuh Ponpes Darussa'adah Al Islami Gubuklakah, Poncokusumo, Malang. Pimpinan Daerah Kota Malang, Wali Kota Malang, Sutiaji juga melaksanakan Salat Idulfitri di masjid ikon Kota Malang tersebut.

Sementara itu, aksi simpatik ditunjukkan oleh Pengurus Gereja dan Warga Katolik di Paroki Hati Kudus Yesus, Kayutangan Malang. Mereka menyambut dan membagikan alas kepada para jemaah yang membutuhkan.

Para suster dan frater dengan pakaian khususnya, menyiapkan koran dan tikar kepada jemaah. Beberapa dari mereka berdiri berjajar mempersilakan para jemaah yang tengah mencari tempat. Tampak para frater secara bersama-sama membantu membuka tikar untuk persiapan salat jemaah.

"Kalau kapasitasnya mungkin antara 600 sampai 1000 jemaah bisa, karena ini kan agak umpel-umpelan (berdesakan)," kata Romo Paulus Teguh, O, Carm, perwakilan Gereja Hati Kudus Kayutangan Malang, Sabtu (22/4).

Romo Teguh menyampaikan bahwa penyediaan halaman gereja untuk Salat Idulfitri sudah berlangsung sejak lama dari tahun ke tahun. Namun budaya itu semakin didukung oleh penyediaan sarana dan penyambutan para jemaah.

"Sebenarnya sudah lama, tetapi kita memberikan waktu yang pasti, kita menyediakan tempat dan lain sebagainya sejak dua tahun lalu," tambahnya.

"Inilah yang kita maksud bertoleransi. Kita punya lahan yang cukup luas, dan kami memberikan tempat bagi umat Muslim," tegasnya.

Romo Tegus juga menyampaikan, selama kegiatan melibatkan para suster dan frater, para calon romo agar mereka terdidik untuk bersaudara dengan umat lain.

"Ini yang harus kami tanamkan juga," tambah Romo Paulus.

Usai Salat Idulfitri dan khotbah digelar, Romo bersama suster dan frater berdiri berjajar di sisi pagar. Mereka memberi ucapan selamat dengan berjabat tangan dengan umat muslim yang telah menjalankan ibadah. Tampak beberapa jemaah mengajaknya berpelukkan dan foto selfie.

"Matur suwun sudah dipinjami tempat," kata seorang perempuan paruh baya sambil menundukkan tubuhnya.

Rekomendasi