Epidemiolog: Virus Marburg Sangat Berpotensi jadi Pandemi dengan Kematian Tinggi

Virus Marburg pertama kali teridentifikasi di Kie Ntem, Guinea Khatulistiwa, negara Afrika Bagian Tengah. Kini, virus itu menyebar hingga ke Tanzania, negara di belahan timur benua Afrika.

Supriatin
Oleh Supriatin - Reporter
Epidemiolog: Virus Marburg Sangat Berpotensi jadi Pandemi dengan Kematian Tinggi
Virus Marburg. ©2023 Merdeka.com

Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman memprediksi virus Marburg berpotensi menjadi pandemi. Perkiraan ini berdasarkan pada karakteristik virus Marburg yang sangat cepat menular.

Selain itu, mayoritas manusia di dunia belum memiliki imunitas. Sementara, obat maupun vaksin Marburg belum tersedia.

"Ini membuat kombinasi ini sangat berpotensi menjadi pandemi dengan angka kematian yang tinggi," kata Dicky kepada merdeka.com, Jumat (31/3).

Virus Marburg pertama kali teridentifikasi di Kie Ntem, Guinea Khatulistiwa, negara Afrika Bagian Tengah. Kini, virus itu menyebar hingga ke Tanzania, negara di belahan timur benua Afrika.

"Juga saya ingin mengingatkan bahwa Marburg saat ini belum bisa ditangani karena di Afrika ini menyebar," ucap Dicky.

Menurut Dicky, dari delapan kasus yang ditemukan di Guinea Khatulistiwa, lima di antaranya meninggal dunia. Ini menunjukkan, fatalitas yang dipicu virus Marburg sangat tinggi.

"Luar biasa besar sekali kematiannya atau fatality rate," katanya.

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung ini mengingatkan, Indonesia tidak bisa dianggap aman dari Marburg. Sebab, virus ini bisa dibawa pelaku perjalanan internasional dari luar negeri.

"Sekali lagi, prinsip global security adalah belum bisa kita katakan aman kalau ada beberapa negara rawan Marburg virus," ujarnya.

Dicky mengatakan, munculnya virus Marburg menunjukkan dunia kian rentan terhadap wabah. Meski begitu, virus yang masih satu family dengan ebola ini bisa dilokalisir.

Caranya, setiap orang harus tetap menggunakan masker, rajin mencuci tangan, dan menjaga pola hidup sehat. Selain itu, setiap orang harus menghindari kontak langsung dengan hewan.

"Bicara seperti Marburg, ebola, adalah penyakit yang asal muasalnya dari hewan. Yang terjadi akibat kontak manusia langsung dengan hewan," jelasnya.

Tak hanya masyarakat, pemerintah juga harus mengendalikan virus Marburg. Menurut Dicky, langkah yang bisa diambil pemerintah di antaranya, meningkatkan infrastruktur kesehatan, sistem kesehatan, kualitas kesehatan udara, air, dan tanah.

"Kemudian, menjaga kesehatan lingkungan, sanitasi lingkungan," pesan Dicky.

Kementerian Kesehatan meminta masyarakat waspada terhadap penyakit Marburg. Hingga kini, sudah ditemukan sembilan kasus kematian dan 16 suspek Marburg.

"Kita perlu tetap melakukan kewaspadaan dini dan antisipasi terhadap penyakit virus Marburg,” ujar Juru Bicara Kementerian Kesehatan Mohammad Syahril, Kamis (30/3).

Syahril mengungkapkan, pemerintah melakukan penilaian risiko cepat (rapid risk assessment) penyakit virus Marburg pada 20 Februari 2023. Hasilnya, kemungkinan adanya importasi kasus virus Marburg di Indonesia rendah.

Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan Surat Edaran tentang Kewaspadaan Terhadap Penyakit Virus Marburg. Pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, Kantor Kesehatan Pelabuhan, SDM kesehatan, dan para pemangku kepentingan terkait diminta untuk waspada terhadap virus Marburg.

Surat Edaran itu diterbitkan langsung oleh Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Nomor HK.02.02-C-853-2023 tentang Kewaspadaan terhadap Penyakit Virus Marburg.

Syahril menyebut Marburg (filovirus) merupakan salah satu virus paling mematikan dengan fatalitas mencapai 88%. Penyakit Marburg merupakan penyakit demam berdarah yang jarang terjadi.

Virus ini satu family dengan virus ebola. Marburg menular lewat cairan tubuh langsung dari kelelawar atau primate.

Penularan kepada manusia terjadi melalui kontak langsung dengan orang ataupun hewan yang terinfeksi, atau melalui benda yang terkontaminasi oleh virus Marburg.

"Kelelawar host alami virus Marburg yaitu Rousettus aegyptiacus bukan merupakan spesies asli Indonesia dan belum ditemukan di Indonesia, namun Indonesia masuk jalur mobilisasi kelelawar ini," kata Syahril.

Gejala Marburg mirip dengan penyakit lain seperti malaria, tifus, dan demam berdarah yang banyak ditemukan di Indonesia. Menurut Syahril, kondisi ini menyebabkan penyakit virus Marburg susah diidentifikasi.

Gejalanya berupa demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, mual muntah, diare, dan perdarahan. Penyakit ini juga dapat menyebabkan perdarahan pada hidung, gusi, vagina atau melalui muntah dan feses yang muncul pada hari ke-5 sampai hari ke-7.

Syahril menegaskan, belum ada vaksin Marburg yang tersedia di dunia. Saat ini, vaksin tersebut masih dalam pengembangan.

Kini ada dua vaksin yang memasuki uji klinis fase 1 yakni vaksin strain Sabin dan vaksin Janssen.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan temuan sembilan kematian dan 16 kasus suspek Marburg di Provinsi Kie Ntem, Guinea Khatulistiwa, negara Afrika Bagian Tengah. Gejala yang dialami berupa demam, kelelahan (fatigue), muntah berdarah, dan diare.

Dari delapan sampel yang diperiksa, satu dinyatakan positif virus Marburg. Kejadian Luar Biasa (KLB) di Guinea Ekuatorial yang terjadi diperkirakan telah dimulai sejak 7 Februari 2023.

Rekomendasi