Kasus Suap Eks Bupati Buru Selatan, KPK Tetapkan Tersangka Obstruction of Justice

Pihak yang jadi tersangka itu belum diungkap identitasnya. KPK juga menetapkan tersangka baru dalam kasus ini setelah mendapat fakta baru di persidangan.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Kasus Suap Eks Bupati Buru Selatan, KPK Tetapkan Tersangka Obstruction of Justice
KPK Tahan 5 Tersangka Terkait Proyek Fiktif PT Waskita Karya. ©2020 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan tersangka obstruction of justice (OOJ) atau menghalangi proses penyidikan dalam penyidikan kasus dugaan suap terhadap mantan Bupati Buru Selatan Tagop Sudarsono Soulisa (TSS). Pihak yang jadi tersangka itu belum diungkap identitasnya.

"Saat proses penyidikan perkara suap Tagop Sudarsono Soulisa, tim penyidik menemukan adanya keterlibatan pihak tertentu yang diduga melakukan perintangan penyidikan baik secara langsung maupun tidak langsung," kata Kabag Pemberitaan KPK Ali Fikri dalam keterangannya, Sabtu (18/3)

Ali merinci, upaya perintangan itu dengan memanipulasi dan mengondisikan keterangan saksi-saksi termasuk membuat dokumen fiktif dalam rangka mengaburkan dugaan perbuatan tersangka Tagop.

Ali belum bersedia merinci pihak yang dijerat sebagai tersangka termasuk kontruksi kasus ini. Identitas tersangka akan diumumkan saat proses pengumpulan alat bukti dinyatakan cukup.

"Kami tetap berprinsip untuk belum mengumumkan secara resmi pihak yang ditetapkan sebagai tersangka, kronologi dugaan perbuatan pidana dan pasal yang disangkakan. Perkembangan dari proses penyidikan perkara ini pun akan selalu kami update pada masyarakat," kata Ali.

Selain menjerat tersangka OOJ, KPK juga menetapkan tersangka baru dalam perkara suap Tagop. Penetapan tersangka dilakukan berdasarkan fakta persidangan yang digelar di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Ambon.

"Tim penyidik kemudian mengembangkan proses penyidikannya dan menetapkan adanya pihak lain sebagai pemberi suap dalam pelaksanaan berbagai proyek di Pemkab Buru Selatan Provinsi Maluku," kata Ali.

Nama tersangka baru beserta konstruksi perkara akan disampaikan saat upaya paksa penangkapan dan penahanan dilakukan.

"KPK saat ini belum dapat mengungkap secara lengkap terkait pihak yang ditetapkan sebagai tersangka, uraian lengkap dugaan perbuatan pidana termasuk pasal yang disangkakan, karena proses pengumpulan alat bukti masih berlangsung hingga nantinya kami anggap telah cukup pemenuhan alat buktinya," kata Ali.

"Masyarakat dapat turut mengawal dan mengawasi proses penyidikan perkara ini dan sebagai bentuk transparani maka kami pun menyampaikan secara terbuka setiap perkembangannya," Ali menandaskan.

Dalam kasus ini, mantan Bupati Buru Selatan Tagop Sudarsono Soulisa divonis 6 tahun penjara denda Rp 300 juta subsider 3 bulan kurungan oleh majelis hakim PN Ambon. Tagop terbukti menerima suap dan gratifikasi.

Majelis hakim menyatakan unsur ASN atau penyelenggara negara, menerima hadiah atau janji serta berkaitan dengan jabatan sesuai dakwaan JPU KPK dalam pasal 12 huruf A sebagai dakwaan alternatif pertama ke-1 sudah terbukti.

Namun ada gratifikasi yang didakwakan bukan termasuk perbuatan pidana seperti terdakwa menerima uang dari Dinas Kesehatan Kabupaten Buru Selatan, di mana terdakwa diundang pada acara dinas dan mendapatkan uang Rp 5 juta.

Majelis hakim juga menyatakan tidak menemukan adanya alasan pemaaf atau pembenaran atas perbuatan terdakwa.

Putusan hakim lebih ringan dari tuntutan tim JPU KPK selama 10 tahun penjara, denda Rp 500 juta subsider satu tahun kurungan dan uang pengganti Rp 27,5 miliar dikurangi sejumlah aset berupa bangunan, tanah, dan mobil yang telah disita KPK.

Tagop sendiri didakwa menerima gratifikasi sebesar Rp23,279 miliar terkait proyek infrastruktur sejak tahun 2011 sampai 2021 dari puluhan organisasi perangkat daerah (OPD), rekanan, maupun kontraktor.

Menurut surat dakwaan, penerimaan langsung oleh terdakwa Tagop sebesar Rp9,18 miliar juga berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten Buru Selatan dari tahun 2012 hingga 2019 bertempat di kantor bupati dan rumah terdakwa.

Tagop telah menerima uang dari Dinkes melalui Plt Kadis Ibrahim Banda, setiap tahunnya Rp 350 juta. Kemudian menerima uang dari OPD terkait yang dikumpulkan melalui BPKAD kabupaten dari tahun 2011-2021, tiap tahunnya sebesar Rp380 juta yang berasal dari 37 OPD.

Masing-masing OPD menyetor sekitar Rp5 juta hingga Rp 10 juta ditambah setoran dari enam orang camat sekira Rp 2,5 juta.

Uang tersebut oleh bendahara masing-masing OPD atau kecamatan disetorkan kepada Kabid Perbendaharaan BPKAD Buru Selatan sehingga total uang yang diterima oleh terdakwa dari tahun 2011 hingga 2021 sebesar Rp3,8 miliar.

Tagop juga menerima uang dari pengusaha lain sebesar Rp1,980 miliar, Andrias Intan alias Kim Pui, selaku Direktur Utama PT Beringin Dua tahun 2012-2015 sebesar Rp 400 juta.

Kemudian ada pengusaha lain bernama Venska Yawalata alias Venska Intan selaku Direktur PT Beringin Dua dan sebagai salah satu pemegang saham atau komisaris PT Tunas Harapan Maluku pada tanggal 29 Januari 2014 sebesar Rp 50 juta.

Terdakwa juga menerima uang dari Abdullah Alkatiri selaku Direktur PT Warisan Timur tanggal 20 Januari 2014 Rp 25 juta, kemudian dari Rudi Tandean selaku Direktur PT Dinamika Maluku tanggal 3 Juni 2015 sebesar Rp 360 juta melalui terdakwa Johni R. Kasman.

"Penerimaan uang yang seluruhnya berjumlah Rp 23,279 miliar selanjutnya digunakan untuk kepentingan pribadi terdakwa dan seluruh penerimaan uang ini merupakan gratifikasi yang diterima terdakwa," demikian bunyi surat dakwaan.

Reporter: Fachrur Rozie/Liputan6.com

Rekomendasi