Gejala Pasien Omicron BF.7: Batuk, Anosmia Hingga Muntah

Gejala tersering masih demam batuk pilek sakit tenggorokan. Ada yang anosmia atau sulit mencium bau dan ada yang mengeluhkan nyeri perut, mual dan muntah.

Rahmat Baihaqi
Oleh Rahmat Baihaqi - Reporter
Gejala Pasien Omicron BF.7: Batuk, Anosmia Hingga Muntah
Tes Covid-19 di Beijing. ©REUTERS/Tingshu Wang

Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Ngabila Salama mengungkapkan gejala pasien terjangkit Omicron BF.7. Saat ini, ada tujuh pasien terkonfirmasi Omicron BF.7 di Jakarta. Rinciannya, lima pasien berdomisili di Jakarta, dua lainnya di luar ibu kota.

"Semuanya bergejala ringan. Gejala tersering masih demam batuk pilek sakit tenggorokan. Ada yang anosmia atau sulit mencium bau dan ada yang mengeluhkan nyeri perut, mual dan muntah," jelasnya dalam keterangan tertulis, Jumat (30/12).

Ngabila mengaku baru mendapat laporan kasus Omicron BF.7 dari Kementerian Kesehatan pada 29 Desember 2022 malam. Temuan kasus itu berdasarkan hasil pemeriksaan PCR terhadap pasien pada periode 20 Oktober hingga 12 November 2022.

Dinkes DKI telah melakukan penelusuran atau tracing terhadap orang yang telah melakukan kontak erat dengan pasien Omicron BF.7. Tracing dilakukan kepada tiga orang laki-laki berusia 30-50 tahun, satu perempuan usia 50-60 tahun, dan satu lansia perempuan berusia 63 tahun.

"Setelah Isolasi mandiri di rumah, semua sudah dinyatakan sembuh setelah 10 hari isolasi," imbuh dia.

Sedangkan untuk dua orang lain yang berdomisili di luar Jakarta telah mendapatkan penanganan oleh dinas kesehatan setempat. Ngabila menambahkan, pihaknya telah mengencangkan upaya pencegahan Omicron BF.7 melalui Surveilans Whole Genome Sequencing (WGS) bekerja sama dengan BKPK Kemenkes, BPOM, dan IMERI FKUI.

Surveilans ini pernah dilakukan saat menangani kasus Covid-19 varian Delta di Jakarta pada 1 Maret 2021. Ngabila meminta masyarakat tidak panik dengan masuknyan Omicron BF.7.

"Apa pun variannya tidak perlu panik, semua akan terkendali dengan mempertahankan cakupan vaksinasi booster yang tinggi untuk mempertahankan tingginya imunitas penduduk," ujar Ngabila.

Seluruh Pasien Sudah Sembuh

Temuan kasus Omicron BF.7 di Indonesia pertama kali disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Dia menyebut, total kasus tersebut sebanyak 15. Rinciannya, tujuh di Jakarta, 7 di Bali, dan 1 di Jawa Barat.

“BF.7 ini sudah kita lihat di Indonesia, sudah ada,” kata Budi, Kamis (29/12).

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, seluruh pasien telah sembuh. Mereka sudah menjalani isolasi mandiri.

“Semua sudah sehat,” kata Nadia.

Nadia mengatakan, seluruh kasus Omicron BF.7 bukan imported case atau kasus impor. Hanya enam di antaranya memiliki riwayat perjalanan keluar negeri. Sementara sembilan hasil transmisi lokal.

“Sembilan tidak ada riwayat perjalanan keluar negeri,” jelasnya.

Karakteristik Omicron BF.7

Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan, Omicron BF.7 merupakan turunan dari BA.5. Varian tersebut memiliki karakter sangat infeksius.

“Dia punya kemampuan yang sangat tinggi dalam menginfeksi,” ungkap Dicky melalui pesan elektronik, Jumat (30/12).

Omicron BF.7 juga memiliki kemampuan tinggi untuk menetralisir efikasi antibodi yang terbentuk melalui vaksinasi. Karena kemampuan itulah, Omicron BF.7 bisa mereinfeksi atau menginfeksi ulang penyintas Covid-19.

“Selain itu, BF.7 punya karakter sangat singkat dalam inkubasi. Inkubasi ini waktu orang pertama terinfeksi sampai menunjukkan gejala,” jelasnya.

Menurut Dicky, Omicron BF.7 tidak terlalu membahayakan bagi Indonesia jika pemerintah masih menerapkan pemberlakukan pembatasan aktivitas masyarakat (PPKM), skrining di pintu masuk, dan memberlakukan kembali sistem karantina. Indonesia justru perlu mengakhawatirkan munculnya varian baru pada awal 2023 akibat masifnya penularan Covid-19 di China.

Rekomendasi