Polres Metro Jakarta Timur menetapkan lima tersangka kasus pengeroyokan terhadap Wiyanto Halim. Lansia tewas di jalan Pulokambing, kawasan JIEP, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur setelah diteriaki maling dan dikejar banyak warga.
"Terhadap tersangka sampai dengan hari ini Polres Jakarta Timur telah menetapkan sebanyak 5 orang tersangka terkait kasus kekerasan yang mengakibatkan korban meninggal," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol, Endra Zulpan saat jumpa pers, Selasa (25/1).
Adapun kelima tersangka yang keseluruhannya laki-laki. Adapun perannya; TJ (21) menendang mobil dan korban memakai kaki kanan ke arah pinggang korban.
"Tersangka kedua, JI laki-laki berusia 23 tahun menendang menggunakan kaki kanan ke bagian atas, tubuh maupun kendaraan," sebut Zulpan.
Kemudian tersangka ketiga, RYM (23) menganiaya korban. Dia juga yang menarik paksa Wiyanto keluar dari dalam mobil Toyota Rush.
Tersangka selanjutnya MA dan MJ yang masih berusia 18 tahun di mana merupakan pelaku yang merusak mobil korban ketika berhenti di jalan Pulokambing, kawasan JIEP.
Kelimanya menjadi tersangka setelah penyidik memeriksa 14 saksi dengan sebanyak tujuh saksi menguatkan.
"Saksi yang sudah diperiksa, yang menguatkan (saksi kunci) tindak pidana kekerasan ini ada tujuh orang yang sudah didata," katanya.
Adapun pasal yang dipersangkakan kepada kelima orang tersangka yakni Pasal 170 Ayat 1 dan Ayat 2 Jo Pasal 55 KUHP, dengan ancaman pidana paling lama 12 tahun penjara.
Advertisement
Sebelumnya, pihak keluarga korban menuntut keadilan atas insiden kasus pengeroyokan yang dialami seorang pria lanjut usia (lansia) di jalan Pulokambing, JIEP, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, pada Minggu (23/1).
Demikian disampaikan, Bryana Halim selaku anak dari Wiyanto Halim lansia berumur 89 tahun yang menjadi korban insiden pengeroyokan tersebut. Dia pun ingin mengklarifikasi terkait kejadian ini untuk menuntut keadilan.
"Klarifikasi bersama-sama karena kan beritanya sudah kemana-mana. Dan saya minta keadilan, jadinya saya disini menuntut keadilan," kata Bryana saat dihubungi merdeka.com, Senin (24/1).
Dari kejadian ini, Bryana yang sudah tidak tinggal serumah dengan ayahnya itu, mengaku tidak mengetahui kepergian Wiyanto ketika malam itu dari mana, sebelum insiden pengeroyokan tersebut.
"Saya juga nggak tahu, saya kan tinggal di luar kota kan," akunya.
Bahkan ketika malam hari itu, Bryana menyampaikan jika pihak keluarga sempat menelepon berkali-kali Wiyanto, namun tak kunjung mendapatkan respon.
"Mungkin nanti bisa dibicarakan ya, saya nggak tahu papah dari mana, kenapa sampai malam gitu saya pun tidak tahu," katanya.
Bahkan, Bryana menyampaikan baru mendapatkan kabar orang tuanya, saat telah berada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dengan kondisi sudah tak bernyawa.
"Karena ini semua serba tidak jelas (kabarnya), jadinya saya tahu papah tiba-tiba sudah ada di RSCM," kata Bryana.
"Kan dari pagi, papah kan tinggal sama mamah sama pembantu ya, anaknya, kita sudah pisah rumah kan, pembantu nungguin sampai tengah malam, sampai jam 05.00 Wib, pagi kok papah belum pulang," tambahnya.
Hingga akhirnya, Bryana yang mendengar kabar itu dari pihak kepolisian pada pagi harinya pun merasa kaget, dengan kondisi Wiyanto yang jadi korban pengeroyokan, sudah meninggal di RSCM.
"Terus menelpon kakak saya, sudah puluhan kali ke telponnya tidak diangkat. Akhirnya jam 7 atau jam 8 di telepon dari, handphone papa, ternyata dari kepolisian. sudah berada di RSCM," katanya.
Atas insiden ini, Bryana meminta agar kasus pengeroyokan kepada ayahnya bisa segera diusut pihak kepolisian dengan cepat, dan mencari pihak yang bertanggung jawab.
"Kita intinya minta keadilan, ini sudah jadi mayat keadilan buat keluarga saya bagaimana," tegasnya.